Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Peternak ayam petelur di Dusun Cikebot, Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tengah menghadapi masa sulit.
Harga telur di tingkat peternak anjlok hingga hanya Rp20.000 per kilogram, sementara biaya pakan justru terus mengalami kenaikan.
Akibat kondisi tersebut, peternak yang tergabung dalam Koperasi P2APC (Produsen Peternak Ayam Petelur Ciamis) mengaku harus menanggung kerugian hingga sekitar Rp2 juta setiap hari agar usaha tetap berjalan.
Ketua Badan Pengawas Koperasi P2APC, Endang Kusnadi, mengatakan harga telur saat ini jauh di bawah harga normal yang berkisar Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
"Per hari ini harga telur dari kandang sekitar Rp20.000 per kilogram. Padahal sebelumnya Rp25.000 sampai Rp26.000. Dengan harga sekarang sebetulnya kami mensubsidi karena belum bisa menutupi biaya operasional, terutama pakan yang terus naik," ujar Endang saat ditemui di kandang ayam, Kamis (9/7/2026).
Baca juga: Kekeringan Meluas di Banjaranyar, BPBD Ciamis Salurkan Air Bersih untuk 171 KK
Tak hanya harga jual yang turun, biaya produksi juga semakin membebani peternak.
Harga pakan ayam, kata Endang, naik dari sekitar Rp6.800 menjadi Rp7.100 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat koperasi harus menanggung kerugian sekitar Rp2 juta per hari.
"Tidak bisa dibayangkan, kami harus mensubsidi hampir Rp2 juta setiap hari supaya operasional tetap berjalan," katanya.
Meski terus merugi, para peternak memilih bertahan. Salah satu langkah yang dilakukan ialah mengurangi populasi ayam produktif melalui afkir lebih awal untuk menekan biaya pemeliharaan.
"Dengan kondisi sekarang, bisa bertahan saja sudah alhamdulillah. Kondisi seperti ini memang pernah terjadi. Yang penting kami berusaha tetap bertahan meski populasi ayam mulai berkurang," ucapnya.
Saat ini Koperasi P2APC memiliki sekitar 10 ribu ekor ayam petelur yang masih berproduksi dan sekitar 3.500 ekor ayam regenerasi yang belum menghasilkan telur.
Setiap hari, sekitar 10 ribu ayam produktif tersebut menghasilkan kurang lebih lima kuintal telur.
Sementara total populasi ayam petelur milik anggota koperasi di Dusun Cikebot diperkirakan mencapai 450 ribu hingga 500 ribu ekor dengan produksi sekitar 25 ton telur per hari.
Endang menilai anjloknya harga telur juga dipengaruhi melemahnya permintaan pasar.
Salah satu penyebabnya, menurut dia, adalah berkurangnya penyerapan telur saat aktivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang jeda.
"Salah satunya karena dapur MBG sedang libur. Sebelumnya penyerapan pasar cukup bagus, sekarang melemah. Persediaan telur di pasaran melimpah sehingga harga ikut turun," ujarnya.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan.
Selain itu, mereka juga mengusulkan agar menu berbahan telur lebih sering disajikan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
"Kalau menu telur bisa dua sampai tiga kali dalam seminggu di MBG, tentu penyerapannya akan lebih besar dan sangat membantu peternak. Kami juga berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga telur," pungkas Endang.(*)