Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca Ari Pangestu
TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso, Jatim, langsung tancap gas melakukan konsolidasi internal setelah penetapan ketua baru.
Melalui agenda bertajuk Kick-Off partai, PKB mulai menyusun langkah politik dengan memperkuat struktur kepengurusan dan merangkul tokoh-tokoh dari basis pesantren.
Kegiatan yang digelar di Graha NU, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan Bondowoso, Kamis (9/7/2026), menjadi momentum pengenalan sejumlah pengurus baru.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah bergabungnya keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani (Pondok Beddien) Bondowoso.
Masuknya tokoh pesantren tersebut dinilai menjadi penguatan baru bagi PKB Bondowoso.
Partai berlambang bola dunia sembilan bintang itu juga menyebut langkah tersebut sebagai upaya mengembalikan hubungan historis antara PKB dan basis pesantren.
Dengan komposisi kepengurusan baru yang dinilai semakin lengkap, PKB Bondowoso mulai memasang target politik lebih tinggi untuk pemilu mendatang.
Baca juga: PKB Bondowoso Gelar Tasyakuran atas Gelar Pahlawan 3 Tokoh Jatim, Dhafir: Penyemangat
Ketua DPC PKB Bondowoso, Ahmad Dhafir, mengatakan keluarga besar Ponpes Al-Utsmani bersedia bergabung dan ikut membesarkan partai.
Beberapa nama yang diperkenalkan sebagai bagian dari pengurus baru yakni KH Faqih Subhan, S.Pd., putra dari KH Sofyan sekaligus menantu pimpinan Ponpes Beddien yang kini menjabat Sekretaris Dewan Syuro DPC PKB.
Selain itu, turut bergabung Lora Zainal Abidin, Lora Moh. Chalil, serta KH Mahfud Rozi.
"Alhamdulillah, keluarga Al-Utsmani bersedia bersama-sama mengurus partai," ujar Ahmad Dhafir.
Menurut Ahmad Dhafir, bergabungnya keluarga Ponpes Al-Utsmani memiliki nilai sejarah tersendiri bagi PKB Bondowoso.
Ia menjelaskan, pada 1998 lalu PKB Bondowoso pertama kali dideklarasikan di lingkungan Ponpes Al-Utsmani.
Ahmad Dhafir menilai komposisi pengurus saat ini semakin mencerminkan keterwakilan dari berbagai basis pesantren di Bondowoso.
Kondisi tersebut membuat pihaknya optimistis dapat meningkatkan perolehan suara dan jumlah kursi legislatif pada pemilu berikutnya.
"Target minimum 23 kursi," tegasnya.
Ia mengatakan agenda Kick-Off menjadi langkah awal untuk menyatukan visi seluruh pengurus. Para kader diminta memahami peran mereka sebagai pihak yang mendapat amanah mengelola partai, bukan sebagai pemilik partai.
Menurutnya, PKB harus tetap berjalan sesuai nilai awal pembentukannya sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU).
Ahmad Dhafir menegaskan hubungan PKB dengan NU bukan dalam konteks memanfaatkan organisasi tersebut untuk kepentingan politik.
Menurutnya, langkah konsolidasi di Graha NU justru menjadi pengingat terhadap sejarah lahirnya PKB.
"Makanya kegiatannya dilaksanakan di Graha NU," jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Bondowoso itu.
Ia menyebut, keberadaan tokoh-tokoh pesantren dalam struktur partai menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan basis masyarakat yang selama ini dekat dengan nilai-nilai NU.
Sementara itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso, KH Mas'ud Ali, menegaskan bahwa secara kelembagaan NU tetap berada di posisi netral terhadap seluruh partai politik.
Namun, ia mengakui realitas politik di masyarakat menunjukkan banyak warga NU menyalurkan aspirasi politiknya melalui PKB.
"Sehingga kita tidak salah secara institusi jika pengurus NU berkoordinasi dengan PKB. Karena warganya memang lebih banyak di PKB," pungkasnya.
Dengan masuknya sejumlah tokoh pesantren dan penguatan struktur organisasi, PKB Bondowoso kini mulai mempersiapkan langkah politik menuju target besar pada pemilu mendatang.