TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Perasaan hancur bercampur malu dirasakan 27 anggota Paduan Suara Wanita (PSW) asal Kepulauan Riau (Kepri), setelah batal tampil pada Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV 2026 di Manokwari, Papua Barat pada 18–28 Juni 2026.
Dari puluhan peserta itu, salah satu yang paling merasa dampak adalah Pelatih sekaligus Dirigen PSW perwakilan Kepri, Eva.
Eva harus menerima pil pahit bahwa PSW Kepri yang dipimpinnya tak bisa tampil bernyanyi di ajang Pesparawi tingkat nasional di Manokwari, Papua Barat belum lama ini.
Eva kini belum menerima seutuhnya kegagalan itu.
Seperti apa perasaan Eva saat ini?
Berikut wawancara eksklusif Wartawan TribunBatam.id, Ronnye Lodo Laleng dengan Dirigen PSW Kepri Eva.
Keterangan:
TB: Bagaimana perasaan setelah tidak bisa tampil di ajang Pesparawi Manokwari, Papua Barat?
EV: Pastinya perasaan saya dan peserta yang lain sangat hancur.
Segala sesuatu persiapan yang sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, terpatahkan dengan tiket bodong yang kami dapatkan.
Saya sangat kecewa tidak jadi berangkat ke Manokwari untuk tampil sekitar 20 menit di ajang Pesparawi nasional.
TB: Sejak kapan mengetahui bahwa tiket yang diberikan adalah bodong?
EV: Tiket itu sebelumnya sudah diinformasikan sejak 7 Mei 2026, secara fisik tiket diberikan kepada kami 24 Mei 2026, lalu kita tahu kalau tiket itu bodong di tanggal 23 Juni 2026, satu hari sebelum keberangkatan.
Karena dari panitia juga tidak ada kejelasan soal tiket ini, sehingga kami nekat berangkat ke Jakarta saja.
Kebetulan tiket bodong dari Jakarta ke Manokwari saja.
TB: Kemarin saat gagal terbang ke Manokwari sempat bernyanyi di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, itu ide siapa lalu apa yang mendorong hal itu terjadi?
EV: Waktu itu kami memang dibuat bingung. Panitia tidak lagi menggubris kami lagi.
Setelah tiba di Jakarta saya sudah tanya kode booking berikut ke Manokwari.
Awalnya pihak travel katanya kami naik maskapai Citilink, karena tidak ada kode booking kami diarahkan ke Lion Air.
Tidak berhenti sampai di sana, setelah kami ke loket Lion, kami justru diarahkan lagi oleh travel ke Batik, hingga berlanjut ke Garuda.
Hingga pihak Garuda menjawab kalau kode booking memang ada tapi belum dibayar.
Kami sudah menghabiskan waktu 2 jam untuk putar -putar di dalam Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Waktu itu kami sudah kehabisan ide, apalagi Garuda merupakan pesawat terakhir terbang ke Manokwari, dan besok siang kita akan lomba.
Kami memang tidak punya harapan dan kesempatan lagi untuk tampil di Manokwari.
Sejak itu timbul ide untuk bernyanyi di dalam Bandara Soekarno Hatta Jakarta saja.
TB: Bagaimana reaksi orang-orang di Bandara Soekarno Hatta kala itu?
EV: Awalnya Ketua kami, Ria Ukur sudah minta izin ke pihak Bandara Soekarno Hatta, untuk diberi kesempatan bernyanyi kurang lebih 10 menit.
Puji Tuhan kami diizinkan bernyanyi.
Waktu penumpang yang lain sempat melihat penampilan kami.
Dengan adanya langkah seperti ini, paling tidak sedikit mengobati luka yang kami rasakan.
TB: Apakah ada momen selama di Jakarta yang membuat terharu?
EV: Iya pasti ada momen haru yang kami rasakan. Di mana setelah selesai nyanyi kami merasa sedih. Kenapa panitia begitu tegah tidak perduli ke kami.
Mereka memang tidak mengetahui perjuangan kami saat latihan.
Sebab pada momen latihan, kami harus bisa tahan ego kami masing-masing, dan harus meninggalkan kegiatan kami dan harus ikut latihan demi tampil di Manokwari.
Seminggu kami bisa tiga kali latihan, sebelum berangkat.
TB: Perjalanan terus bergulir hingga malam ini nisa nyanyi di acara KKR Tanjungpinang. Apa rasanya bisa tampil di hadapan masyarakat Tanjungpinang, Kepri?
EV: Waktu dapat undangan ini, mulanya kami tidak menyangka ternyata ada perhatian khusus dari event KKR yang bekerjasama dengan Korea Selatan.
Kami mengucapkan terima kasih, kepada panitia yang sudah memberikan kesempatan untuk bernyanyi di depan jemaat di Tanjungpinang.
Saat tampil Puji Tuhan sambutannya bagus dan jemaat terhibur.
Saya secara pribadi mewakili tim PSW Kepri sangat bangga karena perhatian masyarakat terutama di kalangan gereja.
Dengan adanya perhatian ini, selama ini kami merasa malu perlahan bisa percaya diri lagi.
TB: Apakah lagu yang dibawakan sama dengan yang disiapkan untuk tampil di Manokwari?
EV: Kita ada tiga lagu, dan yang kami bawakan dalam KKR tadi adalah pilihan bebas yang akan kami tampilkan di Manokwari kemarin, judulnya Gloria.
TB: Hal apa yang ingin disampaikan kepada peserta yang lain yang juga mengalami kegagalan serupa di Pesparawi Manokwari?
EV: Saya sangat berharap dan berdoa semoga hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi, cukup di kami saja.
Mungkin beberapa daerah juga alami hal yang sama, pesan saya kepada panitia agar jangan ada lagi perlakuan seperti ini.
Apalagi ini merupakan kegiatan kerohanian, saya harap oknum tertentu harus bertanggungjawab dengan apa yang telah terjadi.
TB: Apa pelajaran terbesar yang diambil dari peristiwa yang telah terjadi dan viral di Medsos ini?
EV: Pelajaran yang saya ambil adalah, ternyata kita tidak bisa percaya 100 persen dengan manusia.
TB: Ke depan apa cita-cita dalam dunia tarik suara atau ajang Pesparawi?
EV: Saya sangat berharap di Kepri supaya kesenjangan di daerah-daerah selain Batam agar lebih diperhatikan lagi.
Apalagi Pesparawi ini bukan merupakan hal yang baru lagi di Kepri.
TB: Kasus soal Perparawi ini kan masih bergulir di Polda Kepri. Apa yang ingin disampaikan?
EV: Untuk kasus ini kami dari PSW tidak bisa bicara banyak tentang hukum.
Kami sudah serahkan hal ini ke kuasa hukum kami pak Reno untuk tindakan hukum selanjutnya. (TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng)