Penyerang asal Amerika Serikat ini tetap menjadi pemain berbakat, namun lebih cocok untuk membantu mengangkat performa tim daripada memikul beban sendirian.
Christian Pulisic telah menjadi wajah sepak bola Amerika Serikat selama hampir satu dekade. Ia telah menciptakan banyak momen berkesan, mencetak puluhan gol, dan tampil secara reguler untuk beberapa klub terbesar di Eropa. Jelas, Pulisic termasuk di antara pemain Amerika terbaik sepanjang masa. Namun kini saatnya membicarakan tentang siapa sebenarnya dirinya dan siapa yang bukan.
Jika penampilan Tim Nasional Amerika Serikat (USMNT) yang mengecewakan di Piala Dunia 2026 membuktikan sesuatu, itu adalah bahwa Pulisic bukan tipe pemain yang mampu secara konsisten menentukan jalannya pertandingan. Ya, ia tetap seorang penyerang bertalenta yang mampu menciptakan keajaiban, tetapi bukan tipe pemimpin lapangan yang bisa terus-menerus mengangkat timnya ke level lebih tinggi.
Selama ini, publik Amerika berharap Pulisic akan berkembang menjadi sosok pembeda yang memimpin tim, namun penampilan pemain berusia 27 tahun itu musim panas ini — di masa yang seharusnya menjadi puncak kariernya — memperjelas bahwa ia bukan pemain seperti itu. Selain kembali mengalami cedera kecil yang mengganggunya, ia juga gagal mencetak gol dalam empat pertandingan, dan akhirnya ditarik keluar pada kekalahan telak babak 16 besar melawan Belgia akibat cedera pergelangan kaki.
Bintang AC Milan itu memang sempat mencatatkan satu assist dalam kemenangan gemilang 4-1 atas Paraguay pada laga pembuka USMNT di turnamen tersebut, tetapi itulah momen terbaiknya, dan secara keseluruhan penampilannya menegaskan bahwa ia lebih cocok menjadi pemain pendukung daripada pahlawan utama — lebih mirip Robin daripada Batman.
Kesimpulan itu tidak hanya muncul dari edisi turnamen internasional dengan 48 tim tersebut. Pulisic sejauh ini hanya mencetak satu gol dalam delapan pertandingan di dua edisi Piala Dunia yang ia ikuti — catatan yang sangat minim untuk pemain yang selama ini diharapkan mampu menciptakan momen bersejarah di panggung terbesar sepak bola dunia.
Wawancara pasca pertandingan yang tidak menguntungkan dengan Fox Sports pada hari Senin lalu semakin menegaskan bahwa Pulisic belum menunjukkan karakter seorang pemimpin yang tegas dan ambisius seperti yang diharapkan oleh banyak penggemar Amerika sejak ia masuk ke tim senior pada tahun 2016.
“Tentu saja sangat mengecewakan berakhir seperti ini, tapi sekarang saya punya waktu untuk beristirahat,” kata Pulisic tentang cedera pergelangan kakinya. “Semoga semuanya akan baik-baik saja.”
Jawaban Pulisic itu memang manusiawi, tetapi membuatnya terdengar lebih seperti seorang pemain yang fokus untuk pulih dari cedera fisik ketimbang sosok yang frustrasi karena kehilangan kesempatan untuk menorehkan sejarah bagi USMNT di Piala Dunia yang digelar di tanah airnya sendiri.
Mungkin itu terdengar tidak adil baginya, tetapi respons tersebut, ditambah keputusannya untuk melewatkan Piala Emas Concacaf musim panas lalu, semakin memperkuat persepsi bahwa ia bukan tipe pemain yang secara alami mampu memimpin tim — baik melalui performa maupun kepribadian.
Sejujurnya, Pulisic tampak tidak pernah benar-benar nyaman memegang peran sebagai jimat tim. Lebih sering terasa seolah-olah tanggung jawab itu datang kepadanya, bukan karena ia mencarinya — yang berbicara banyak tentang kondisi USMNT selama satu dekade terakhir sekaligus tentang dirinya sendiri.
Karier internasionalnya mungkin akan sebagian didefinisikan oleh kritik tersebut, namun banyak bintang dunia yang justru bersinar dalam peran pelengkap. Coba saja lihat Ángel Di María atau Antoine Griezmann, dua pemain elite yang menciptakan momen brilian untuk tim nasional mereka tanpa harus menjadi pusat perhatian utama.
Di María mungkin adalah contoh terbaik. Argentina tidak pernah membutuhkan dirinya untuk menjadi Lionel Messi. Mereka hanya membutuhkan Di María sebagai rekan berkualitas bagi Messi, seseorang yang bisa menghukum pertahanan lawan yang terlalu fokus menghentikan sang bintang utama.
Hal itu bukan berarti Pulisic berada di level yang sama seperti Di María di masa jayanya — terlebih mengingat musimnya di Serie A yang kurang spektakuler — atau bahwa USMNT memiliki pemain sekelas Messi. Namun, ini menyoroti bahwa peran sebagai pendukung mungkin lebih cocok dengan kekuatan alami Pulisic.
Selama bertahun-tahun, Amerika berharap Pulisic bisa menjadi bintang transformatif seperti Messi untuk Argentina, Kylian Mbappé untuk Prancis, atau Erling Haaland untuk Norwegia.
Namun bukti dari performanya di klub maupun tim nasional menunjukkan bahwa pendekatan itu mungkin keliru. Pulisic tampaknya lebih efektif ketika ia diminta menjadi bagian dari tim, bukan pusat dari segalanya.
Tentu saja, waktu tidak berpihak padanya. Pulisic akan berusia 31 tahun pada Piala Dunia berikutnya — usia yang masih cukup muda untuk berkontribusi, tetapi mungkin sudah kehilangan sedikit kecepatan.
Penyerang AS Monaco, Folarin Balogun, yang berusia 25 tahun, bisa menjadi salah satu sosok yang membantu Pulisic memikul beban serangan setelah mencetak tiga gol di turnamen musim panas ini. Opsi lain adalah Diego Luna, penyerang Real Salt Lake berusia 22 tahun yang dicoret dari daftar akhir tahun ini.
Siapa pun yang akan menjadi pendampingnya nanti, USMNT jelas membutuhkan lebih dari sekadar Pulisic. Tidak hanya untuk menembus babak delapan besar, tetapi juga untuk membantu Pulisic menampilkan performa Piala Dunia yang selama ini belum berhasil ia capai.
Mungkin saat itulah Pulisic akhirnya akan dinilai berdasarkan siapa dirinya sebenarnya, bukan berdasarkan harapan besar yang selama ini dibebankan kepadanya.