Jalan Enang-enang Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Patungan, Pemkab Bener Meriah: Tak Punya Wewenang
ninda iswara July 10, 2026 02:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Aksi gotong royong masyarakat memperbaiki Jalan Enang-enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menuai perhatian luas karena dilakukan melalui dana swadaya atau patungan warga.

Semangat kebersamaan itu berhasil menghimpun dana hingga Rp1,08 miliar yang kemudian digunakan untuk membangun kembali akses penghubung di kawasan Enang-enang.

Penggalangan dana dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat setelah jalur tersebut terputus akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada November 2025.

Putusnya akses jalan sempat menghambat aktivitas warga, termasuk distribusi barang dan mobilitas masyarakat di kawasan tersebut.

Secara geografis, Enang-enang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Baca juga: Usai Apresiasi Warga Aceh Patungan Bangun Jembatan, Menteri PU Dody Hanggodo Boyong Anak Istri ke AS

Daerah ini dikenal memiliki kondisi medan yang cukup berat dengan kontur jalan yang dipenuhi kelokan tajam.

Tak hanya itu, kawasan tersebut juga memiliki jurang yang dalam serta tanjakan curam sehingga membutuhkan infrastruktur yang layak dan aman.

Keberadaan Jembatan Enang-enang menjadi fasilitas vital yang menopang aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.

Pasalnya, jembatan itu berada di jalur lintas nasional Bireuen-Takengon yang menjadi penghubung utama antardaerah.

Selama ini, jalur tersebut menjadi akses penting bagi kendaraan yang melintas setiap hari untuk berbagai keperluan.

Selain menunjang mobilitas warga, jalan dan jembatan tersebut juga berperan besar dalam memperlancar distribusi logistik.

Keberadaannya turut mendukung sektor perekonomian masyarakat yang bergantung pada kelancaran akses transportasi.

Tak hanya itu, jalur Enang-enang juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan yang hendak menuju sejumlah destinasi di kawasan dataran tinggi Aceh.

Besarnya dana swadaya yang berhasil dikumpulkan mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap pentingnya infrastruktur yang memadai.

Jembatan Enang-enang pun kini tetap menjadi satu-satunya pintu gerbang utama bagi pasokan logistik sekaligus jalur pariwisata yang menghubungkan Bireuen dengan Takengon.

Sekaligus menjadi urat nadi utama bagi distribusi hasil pertanian seperti kopi gayo dan palawija dari Dataran Tinggi Gayo menuju wilayah Pesisir Aceh.

Pembangunan akses Enang-enang secara swadaya ini tidak hanya menjadi sorotan lokal, melainkan juga nasional.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengapresiasi inisiatif warga yang membangun jembatan secara swadaya agar akses transportasi tetap berjalan.

"Kita berterima kasih, pasti. Tapi, aksi swadaya itu belum cukup. Masih ada beberapa hal teknis yang harus kita tambahkan di sana (jembatan) agar memenuhi standar keamanan," ujar Dody saat meninjau jalan Bojonegara, Serang, Senin (6/7/2026), dilansir Kompas.com.

Dody juga telah mengecek langsung Jembatan Enang-enang yang dibangun dari uang patungan warga, Rabu (8/7/2026).

Setelah aksi patungan ini viral, muncul pertanyaan mengapa perbaikan tidak dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) hingga warga yang harus turun tangan?

Ilham menerangkan, ruas Jalan Enang-enang yang berada pada Jalur Takengon-Bireuen merupakan jalan berstatus nasional.

Oleh karena itu, seluruh kewenangan pembangunan, pemeliharaan, maupun perbaikannya berada di tangan Pemerintah Pusat melalui instansi terkait, bukan di bawah Pemkab Bener Meriah.

"Perlu kami sampaikan kepada masyarakat bahwa Jalan Enang-enang merupakan jalan nasional."

"Dengan status tersebut, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah maupun Pemerintah Aceh tidak memiliki kewenangan untuk mengalokasikan anggaran daerah guna melakukan pembangunan atau perbaikan pada ruas jalan tersebut," ujar Ilham Abdi dalam rilisnya, Selasa (2/6/2026).

Abdi menyebut, apabila Pemkab tetap mengucurkan dana untuk memperbaiki jalan tersebut, maka tindakan itu berpotensi menyalahi aturan.

Selain itu, berpotensi diperiksa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Kendati demikian, Pemkab tetap memiliki ruang untuk melakukan penanganan apabila terjadi kondisi yang benar-benar darurat dan mengancam keselamatan masyarakat.

"Kami memahami sepenuhnya bahwa ruas Takengon–Bireuen merupakan jalur nasional yang sangat vital bagi mobilitas masyarakat, distribusi barang dan jasa, serta aktivitas perekonomian di wilayah tengah Aceh."

"Karena itu, perhatian terhadap kondisi infrastruktur pada jalur tersebut menjadi kepentingan bersama," jelasnya.

Baca juga: Profil Lilis Nuryani, Bupati Kebumen Resmikan Jembatan yang Dibangun dari Uang Warga, Harta Rp 88 M

ILUSTRASI Warga mengecor jalan rusak. (TribunJateng)

Awal Pergerakan Warga

Melansir Serambinews.com, gerakan warga ini bermula pada Selasa (26/5/2026).

Saat itu, warga Kampung Alur Cincin dan Gading di bawah naungan Kecamatan Pintu Rime Gayo berinisiatif menggelar rapat bersama.

Masyarakat merasa putus asa akibat akses vital yang tidak kunjung diperbaiki oleh pemerintah selama berbulan-bulan.

Mereka akhirnya sepakat memilih untuk bergerak mandiri.

Berdasarkan kesepakatan, warga mulai patungan menyewa satu unit ekskavator untuk membuka jalur nasional Enang-enang yang telah tertutup longsor.

Selama proses pengerjaan berjalan, arus lalu lintas sempat dialihkan melewati rute alternatif Simpang Lancang-Wih Porak.

Namun, jalur alternatif itu dinilai terlalu sempit dan rusak.

Sehingga kerap menimbulkan antrean panjang dari arah Takengon menuju Kabupaten Bireuen maupun sebaliknya.

Kondisi ini justru memicu semangat gotong royong warga.

Mereka tidak hanya menyumbang uang tunai, tetapi juga memberikan bantuan berupa bahan bakar minyak sebagai penunjang operasional alat berat.

Semangat warga terus mengalir hingga terkumpul uang patungan mencapai Rp1,08 miliar.

(TribunTrends/Tribunnews/Nanda Lusiana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.