Kekalahan dini Brasil dari Piala Dunia terus mengguncang dunia sepak bola nasional, dan tak ada yang lebih vokal dalam mengungkapkan kekecewaannya selain legenda hidup, Romario. Pahlawan yang membawa Brasil meraih gelar Piala Dunia keempat itu melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Carlo Ancelotti serta ketidaktepatan Endrick pada momen krusial dalam kekalahan melawan Norwegia.
Kritik tajam terhadap kesalahan Endrick
Bintang muda Endrick menjadi sasaran utama kemarahan Romario. Pemain berusia 19 tahun itu memiliki peluang emas untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-13 babak kedua setelah menerima umpan dari Vinícius Junior, namun tendangannya melenceng dari gawang. Alasan bahwa faktor usia menjadi penyebab kesalahan itu tidak diterima oleh sang legenda Brasil.
“Banyak orang bilang: ‘Ah, tapi dia masih muda’. Persetan dia masih muda, dia harus mencetak gol sialan itu. Muda, biasa saja, tua, terserah,” ujar Romario di Romario TV. “Kalau dia ada di sana, berarti dia punya tanggung jawab untuk mencetak gol, tidak ada alasan lain. Kegagalan Endrick adalah kesalahannya sendiri. Saat dia berada di posisi itu, dia harus fokus untuk mencetak gol, karena itu bola penentu, bola yang bisa menentukan hasil pertandingan. Saya suka dia, saya yakin dia akan membawa kebahagiaan untuk kita, tapi [hari Minggu kemarin], dia bermain sangat buruk.”
Romario desak Ancelotti segera mundur
Mantan penyerang dan ikon nasional itu tidak bisa menahan amarahnya saat menganalisis performa tim nasional Brasil di bawah asuhan Ancelotti di Amerika Serikat. Menurut Romario, kekalahan dari Norwegia adalah aib yang tidak bisa dimaafkan dan seharusnya berujung pada pemutusan kontrak pelatih asal Italia itu dengan Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF), tanpa memedulikan klausul pemutusan kerja sama.
Pemilik nomor punggung 11 yang legendaris itu menegaskan bahwa melanjutkan proyek ini sudah tidak masuk akal setelah kegagalan di Piala Dunia. “Tidak ada alasan bagi Ancelotti untuk tetap menjadi pelatih tim nasional Brasil setelah kegagalan memalukan ini, rasa malu yang dia timbulkan [melawan Norwegia]. Saya akan langsung merobek kontraknya dan biarkan dia menuntut saya,” tegas Romario.
Kepemimpinan Vinícius Junior dipertanyakan
Bahkan Vinícius Junior pun tidak luput dari sorotan Romario. Ia mempertanyakan hierarki dalam tim ketika Bruno Guimaraes gagal mengeksekusi penalti di babak pertama. Menurutnya, penyerang Real Madrid itu seharusnya mengambil inisiatif untuk menendang penalti, meskipun itu berarti melanggar urutan yang telah ditetapkan oleh staf pelatih.
“Saya dengar dan baca, soal penalti, katanya Bruno Guimaraes lebih baik darinya, bahwa Bruno lebih jago menendang penalti, makanya dia yang ditunjuk. Baiklah, tidak masalah, dia menghormati keputusan pelatih,” ujar Romario sebelum menegaskan soal peran kepemimpinan. “Tapi, saudara, kamu harus punya sikap. Vini Jr. adalah protagonis, dia pemain terbaik yang kita miliki di tim nasional. Ambil bola itu, tendang penalti, dan selesaikan urusannya.”
Masa depan tim nasional masih belum pasti
Meski desakan publik dan kritik dari sosok legendaris seperti Romario semakin keras, masa depan staf kepelatihan tim nasional Brasil masih menjadi perdebatan di internal CBF. Sementara sebagian pihak ingin mempertahankan Ancelotti untuk siklus 2030, tekanan untuk melakukan pembaruan pasca “kekalahan memalukan” dari Norwegia membuat kinerja pelatih asal Italia itu berada di bawah sorotan tajam.