Opini: Ketika Mahasiswa Arsitektur Undana Berani Mempertaruhkan Reputasi pada Bambu
Dion DB Putra July 10, 2026 05:19 AM

Oleh: Dendi Sigit Wahyudi,  S.Ars., M.Ars
Dosen Arsitektur Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur.
 
POS-KUPANG.COM - Di Indonesia, bambu sering kali diposisikan sebagai material “cadangan”. 

Bambu digunakan ketika pilihan lain dianggap terlalu mahal, atau ketika bangunan hanya bersifat sementara. 

Di banyak daerah, rumah bambu perlahan ditinggalkan karena beton dan baja dipandang lebih modern, lebih bergengsi, dan dianggap sebagai simbol kemajuan.

Ironisnya, di saat masyarakat Indonesia mulai menjauh dari bambu, dunia justru bergerak ke arah sebaliknya. 

Arsitek, peneliti, dan praktisi konstruksi di berbagai negara semakin serius mengembangkan bambu sebagai material masa depan. 

Baca juga: Opini: Meningkatkan Perlindungan di Ruang Gawat Darurat

Bambu dipuji karena tumbuh cepat, memiliki jejak karbon yang rendah, kuat secara struktural, dan mampu menjawab tantangan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Di tengah ironi itulah, sekelompok mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Nusa Cendana (Undana) memilih jalan yang tidak populer. 

Mereka menjadikan bambu sebagai media eksplorasi desain dan konstruksi. Keputusan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pertaruhan yang besar.

Yang mereka pertaruhkan bukan sekadar nilai akademik. Mereka mempertaruhkan kredibilitas sebagai calon arsitek. 

Ketika memilih bambu, mereka sadar bahwa setiap hasil karya akan dinilai bukan hanya dari keindahan desainnya, tetapi juga akan menjadi ukuran apakah bambu benar-benar layak digunakan dalam arsitektur kontemporer.

Tantangan menggunakan bambu jauh lebih rumit daripada sekadar merancang bentuk bangunan. 

Mereka harus memahami karakter material, teknik pengawetan, sistem sambungan, perilaku struktur, hingga bagaimana bambu dapat bertahan terhadap iklim tropis. 

Kesalahan kecil saja dapat memperkuat stigma lama bahwa bambu hanyalah material tradisional yang tidak mampu bersaing dengan beton atau baja.

Namun justru di situlah letak keberanian mereka. Mereka tidak memilih material yang sudah diterima tanpa pertanyaan. 

Mereka memilih membuktikan bahwa material lokal dapat menghasilkan karya yang berkualitas apabila dipahami melalui ilmu pengetahuan dan pendekatan desain yang tepat.

Keberanian semacam ini patut diapresiasi karena pendidikan arsitektur tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang mampu merancang bangunan indah. 

Pendidikan juga harus melahirkan arsitek yang berani mempertanyakan cara berpikir lama dan menawarkan solusi yang lebih relevan terhadap tantangan zaman.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Hampir seluruh wilayah nusantara memiliki bambu dengan beragam jenis dan karakteristik. 

Material ini telah digunakan selama ratusan tahun dalam berbagai tradisi membangun. 

Sayangnya, pengetahuan tersebut perlahan tergeser oleh anggapan bahwa pembangunan modern harus identik dengan beton, baja, dan kaca.

Padahal, tantangan pembangunan saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang kekuatan struktur atau estetika bangunan. 

Dunia sedang menghadapi krisis iklim, meningkatnya emisi karbon dari sektor konstruksi, dan kebutuhan akan material yang lebih ramah lingkungan. 

Dalam konteks itu, bambu bukanlah simbol masa lalu, melainkan salah satu peluang menuju masa depan.

Apa yang dilakukan mahasiswa Arsitektur Undana memang tidak akan mengubah wajah arsitektur Indonesia dalam semalam. 

Namun setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang berbeda. 

Mereka menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi paling canggih atau material paling mahal. 

Terkadang, inovasi justru muncul ketika kita berani melihat kembali kekayaan yang selama ini berada di sekitar kita.

Kisah ini sesungguhnya bukan hanya tentang bambu. Ini adalah cerita tentang keberanian generasi muda untuk menantang stigma, menghidupkan kembali potensi lokal, dan membangun kepercayaan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang mampu menjawab tantangan pembangunan masa depan.

Ketika mahasiswa Arsitektur Undana berani mempertaruhkan reputasi mereka pada bambu, mereka sedang menyampaikan sebuah pesan yang lebih besar kepada kita semua: kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. 

Kadang-kadang, kemajuan justru dimulai ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kearifan lokal, lalu keduanya bersama-sama membangun masa depan.

Karena itu, langkah mahasiswa Arsitektur Undana seharusnya tidak dipandang sebagai proyek akademik semata. 

Apa yang mereka lakukan merupakan investasi pengetahuan. Setiap eksperimen, setiap sambungan bambu yang di uji, setiap desain yang dikembangkan dan setiap kegagalan yang dievaluasi akan menjadi bagian dari proses membangun budaya riset yang sangat di butuhkan dalam dunia arsitektur Indonesia. 

Dari ruang-ruang studio kampus seperti inilah gagasan besar sering kali lahir sebelum akhirnya diterapkan dalam kehidupan masyarakat. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.