Kepala wasit FIFA, Pierluigi Collina, menanggapi keras tuduhan keberpihakan setelah kekalahan dramatis Mesir 3-2 dari Argentina di babak 16 besar. Mantan wasit legendaris itu menegaskan bahwa integritas turnamen tetap terjaga meskipun ada pengaduan resmi dan kritik tajam dari kubu Mesir.
Collina menolak tuduhan korupsi yang diarahkan terhadap FIFA. Ia menyatakan bahwa “tidak ada yang dapat meragukan integritas” para ofisial pertandingan Piala Dunia menyusul “tuduhan tak berdasar” yang muncul setelah kekalahan Mesir. Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) bahkan mengeluarkan pernyataan keras setelah pertandingan, menuntut penyelidikan atas dugaan “standar ganda” serta kegagalan teknis pada sistem VAR.
“Tentu saja, diskusi konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, namun tuduhan tanpa dasar tidak memiliki tempat di olahraga kita,” kata Collina. “Tidak ada yang bisa mempertanyakan integritas ofisial pertandingan Piala Dunia FIFA. Ketika hal seperti ini terjadi, bisa muncul reaksi yang mengarah pada ancaman terhadap mereka dan keluarga mereka. Itu tidak benar.”
Collina juga menegaskan independensi penuh dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, setelah muncul spekulasi bahwa ada tekanan eksternal untuk mempertahankan para bintang besar di turnamen tersebut. Rumor itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi perannya dalam pencabutan skorsing Folarin Balogun untuk laga melawan Belgia. Namun Collina dengan tegas membantah bahwa Infantino memiliki pengaruh terhadap para wasit di lapangan. Ia menegaskan bahwa departemen perwasitan bekerja secara otonom untuk menjamin keadilan dalam setiap pertandingan.
Collina menambahkan: “Demikian juga, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa perwasitan FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh Presiden FIFA [Gianni Infantino]. Beliau [Infantino] selalu menunjukkan dukungan penuh untuk Tim Satu FIFA sekaligus mempercayai kami bekerja dengan independensi penuh. Para wasit membuat keputusan secara jujur dan, seperti para pemain serta pelatih, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik.”
Terkait kontroversi VAR, kemarahan Mesir berpusat pada dianulirnya gol Mostafa Zico yang bisa mengubah jalannya pertandingan ketika timnya masih unggul. Collina menjelaskan bahwa banyak pendukung yang salah memahami cakupan penerapan VAR, terutama terkait fase penguasaan bola dalam serangan (Attacking Possession Phase/APP). Ia menegaskan bahwa ofisial bertindak benar dengan meninjau kembali pelanggaran yang dilakukan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dalam proses sebelum gol tersebut.
“Dalam pertandingan Argentina melawan Mesir, terlihat jelas pemain Mesir nomor 19, Marwan Attia, menginjak kaki pemain Argentina nomor enam, Lisandro Martinez,” ujar Collina. “Kami meyakini bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran. Terlepas dari apakah pelanggaran itu terlihat ‘jelas’ atau tidak, jika wasit tidak melihatnya di lapangan, VAR berhak untuk campur tangan. Tidak ada batas pasti mengenai jarak dari gawang atau waktu antara insiden dan terjadinya gol.”
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, juga menuduh wasit berpihak pada juara bertahan dengan menyoroti insiden yang melibatkan Mohamed Salah di dalam kotak penalti sebelum Argentina mencetak gol kemenangan. Namun Collina membela keputusan wasit untuk tidak memberikan penalti terhadap insiden tersebut.
Ia menutup pernyataannya dengan mengatakan: “Contoh lain dari hal ini terjadi di akhir pertandingan yang sama. Wasit dan VAR menilai kontak antara pemain Mesir nomor 10, Mohamed Salah, dan pemain Argentina nomor 9, Julian Alvarez, sebagai kontak normal dalam permainan. Tentu saja, akan selalu ada unsur subjektivitas dalam beberapa keputusan, namun kami puas dengan cara prinsip ini diterapkan sepanjang turnamen.”