TRIBUN-TIMUR.COM - Pemain Maroko dan Prancis berdampingan masuk lapangan Stadion Foxborough, Boston-Massachusetts, Amerika Serikat, ketika iqamat Shalat Subuh bersahut-sahutan dari menara masjid di Parangtambung, Tamalate, Makassar, Jumat, 10 Juli 2026. Skor masih imbang 0-0.
Setelah Shalat Subuh, skor sudah berubah. Rupanya Maroko lengah saat sebagian besar warga Sulawesi Selatan shalat di masjid. Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele mengakhir skor kacamata dalam tempo sesingkat-singkatnya. Menit ke-60 dan 66.
Dembele bisa saja menjadi pemain naturalisasi Maroko. Istri Dembele, Rima Edbiuche, orang Maroko. Dembele menikahinya sesuai tradisi Maroko.
Maroko vs Prancis lebih awal tersaji di Piala Dunia 2026. Skor itu menyempurnakan deja vu Piala Dunia 2022 pun kurang sempurna.
Empat tahun lalu, Maroko terhenti di semifinal karena Prancis, 15 Desember 2022. Skornya juga 2-0.
Dua negara itu memang saling “merindu” di Piala Dunia. Meski dalam realitas politik, keduanya kadang masih bersitegang.
Pelajaran Sempurna dari Kemerdekaan Maroko
Jika Indonesia masih ingin belajar sepakbola, mungkin cermin terbaik bukan Brasil. Bukan Argentina. Bukan Spanyol. Apalagi hanya meniru belanja pemain dan naturalisasi. Lihatlah Maroko. Negara yang mengajarkan satu hal: sejarah pahit tidak harus diwariskan sebagai dendam. Sejarah bisa diolah menjadi energi.
Prancis bagi Maroko adalah Belanda-nya Indonesia. Prancis dan Maroko, identik dengan Belanda dan Indonesia.
Indonesia dan Maroko memiliki luka sejarah yang sama: kolonialisme, penjajahan di atas dunia yang harus dihapuskan karena tidak berperikemanusiaan dan tidak berperikeadilan.
Belanda pernah menjajah Indonesia. Prancis juga penjajah Maroko. Indonesia dan Maroko sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim.
Bedanya, penduduk Prancis dua kali lipat lebih banyak dari warga Maroko. Tapi penduduk Belanda, yang hanya 18 juta lebih, hampir 16 kali lipat baru bisa menyamai penduduk Indonesia, yang pada 2026 ini mencapai 290 juta.
Bedanya lagi, Indonesia dijajah oleh Belanda, katanya, hampir 300 tahun. Maroko terjajah oleh Prancis hanya 44 tahun.
Bedanya lagi, Maroko hanya butuh waktu 14 tahun setelah merdeka dari Prancis, pada tahun 1956, untuk ikut Piala Dunia. Hanya butuh sekitar 14 tahun bagi Singa Atlas untuk berdiri di panggung Piala Dunia 1970. Indonesia sudah 83 tahun merdeka dari Belanda tapi masih selalu hampir ikut Piala Dunia. Sudah lebih dari delapan dekade setelah proklamasi kemerdekaan, Garuda masih terus mengejar mimpi kembali ke panggung terbesar sepakbola dunia.
Bedanya lagi, Maroko sudah dua kali head to head dengan Prancis di perempat final Piala Dunia. Belanda belum pernah (“berani”) bertemu Indonesia di Piala Dunia.
Di layar laptop, Indonesia memiliki banyak hal yang seharusnya menjadi kekuatan. Penduduk hampir 300 juta. Basis penggemar sepak bola luar biasa besar. Stadion selalu penuh. Klub-klub punya sejarah panjang. Kompetisi liga bertingkat-tingkat.
Dari Makassar, Surabaya, Bandung, Jakarta, sampai Medan, Ambon, Kie Raha, Manokwari, dan Sorong, sepakbola hidup dalam denyut masyarakat.
Jika merujuk Spreadsheet Metode Klement, yang pakai ekonom Jerman Joachim Klement memprediksi pemenang Piala Dunia dan sudah dua kali tepat, Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Kapasitas struktural ada.
Tetapi Maroko menunjukkan bahwa jumlah manusia saja tidak cukup. Sepakbola bukan sekadar memiliki jutaan padang kaki. Tetapi bagaimana jutaan kaki itu masuk dalam sistem yang benar. Di sinilah Maroko melakukan lompatan. Mereka mengubah modal sosial menjadi habitus sepak bola.
Diaspora Maroko di Eropa tidak dibiarkan menjadi potensi yang tercerai-berai. Mereka dirangkul.
Pemain yang tumbuh dalam sistem Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, membawa pulang kapital sepakbola Eropa.Namun ketika memakai seragam merah Maroko, kapital itu diberi jiwa baru: identitas.
Dalam bahasa Pierre Bourdieu: Maroko berhasil mengonversi kapital diaspora menjadi kapital simbolik nasional.
Emile Durkheim membilangkannya: Maroko menciptakan collective effervescence.
Pemain yang lahir ribuan kilometer dari Casablanca tetap merasa menjadi bagian dari cerita yang sama.
Itu yang belum maksimal dilakukan Indonesia.
Indonesia memiliki diaspora. Indonesia memiliki tradisi. Indonesia memiliki sejarah.
Diaspora Indonesia di Eropa pulang ke Indonesia jadi pemain klub.
Bekas koloni berdiri sejajar dengan bekas koloninya. Bukan dengan dendam sejarah. Tetapi dengan bahasa baru: prestasi.
Indonesia belum pernah bertemu Belanda di Piala Dunia. Bukan karena Indonesia takut. Tetapi karena Indonesia belum membangun jalan yang membawa keduanya bertemu di arena yang sama.
Dan di sinilah pelajaran Maroko menjadi penting. Kemerdekaan politik hanya membutuhkan proklamasi. Tetapi kemerdekaan sepakbola membutuhkan pembangunan habitus.
Butuh sistem. Butuh pembinaan. Butuh konsistensi.
Butuh kemampuan mengubah sejarah menjadi energi.
PSM Makassar sebenarnya memberi contoh kecil.
Ramang bukan sekadar nostalgia. Siri Na Pacce bukan sekadar tulisan. Ewako bukan sekadar teriakan. Ketika semuanya berubah menjadi praktik, lahirlah juara 2022-2023.
Begitu pula Indonesia. Jumlah penduduk adalah modal. Sejarah adalah modal. Fanatisme adalah modal. Tetapi semua modal hanya menjadi kenangan jika tidak berubah menjadi habitus kemenangan.
Kroasia Cermin Utuh Berikutnya
Jika masih butuh cermin sepakbola, maka cermin terbaik berikutnya adalah Kroasia. Mungkin lebih terang benderang dari Maroko.
Negara langganan Piala Dunia ini contoh lain tentang bagaimana kapital dari masa lalu tidak dibuang setelah merdeka, tetapi diwarisi dan diubah menjadi habitus nasional. Kroasia tidak tiba-tiba lahir sebagai bangsa sepakbola kuat pada 1990-an.
Sebelum merdeka, pemain-pemain Kroasia sudah lama menjadi bagian penting dari Yugoslavia national football team. Mereka membawa "kapital Yugoslavia": tradisi teknik Balkan, kompetisi kuat, akademi, pengalaman internasional, dan budaya bermain kolektif. Ketika Kroasia menjadi negara sendiri, mereka tidak memulai dari nol. Mereka membawa warisan itu. Mereka "menjinakkan" masa lalu. Tidak dendam pada masa lalu.
Ada bangsa yang setelah merdeka langsung memproklamasikan "Semua yang lama harus hilang." Ada juga mendeklarasikan "Dominasi lama harus berakhir, tetapi kapital yang berguna harus menjadi milik kita." Kroasia salah satunya.
Maroko mengambil kapital dari luar (Prancis dan diaspora). Kroasia mengambil kapital dari dirinya sendiri yang dulu tersembunyi dalam tubuh Yugoslavia.
Seolah ketika layer Yugoslavia dibongkar, ternyata di dalamnya ada mesin bernama Kroasia. Hasilnya cepat. Kroasia merdeka awal 1990-an. Pada 1998 FIFA World Cup, mereka langsung menjadi peringkat ketiga. Pada 2018 FIFA World Cup, mereka mencapai final. Pada 2022 FIFA World Cup, kembali masuk tiga besar. Negara berpenduduk hanya sekitar 4 juta orang berkali-kali mengalahkan logika statistik.
Kroasia tidak lahir tahun 1991. Yang lahir tahun itu hanyalah negaranya. Habitus sepakbolanya sudah tumbuh puluhan tahun sebelumnya dalam rahim Yugoslavia.
Tim Pertama dari Asia di Piala Dunia
Indonesia, sebenarnya di konteks sepakbola, bisa seperti Kroasia. Indonesia pernah masih Nusantara. Pernah masih Hindia Belanda.
Sebelum Indonesia menjadi negara, kaki-kaki Nusantara sudah menginjak rumput Piala Dunia. Tahun 1938. Di Perancis. Bukan membawa nama Indonesia. Tetapi Hindia Belanda.
Ironi terbesar sepakbola bangsa ini: ketika belum memiliki negara, Nusantara sudah punya tiket Piala Dunia. Setelah memiliki Merah Putih, Garuda masih mencari jalan kembali.
Indonesia ketika masih disebut Hindia Belanda adalah negara pertama dari Asia yang lolos Piala Dunia.
Ketika itu, pemain Hindia Belanda diperkuat Kiper Mo Heng Tan. Pemain Belakang: Frans Meeng dan Herman Zomers. Di tengah ada Nawir yang juga kapten, Henk Hukom, dan Nol van der Vin. Lalu barisan depan Diisi oleh Isaak Pattiwael, Hans Taihuttu, Suvarte Soedarmadji, Bing Mo Heng, dan Jack Samuels. Pelatihnya Johannes Christoffel van Mastenbroek.
Deretan nama itu lebih “nusantara” dibanding nama-nama pemain Timnas Garuda yang nyaris lolos Piala Dunia 2026. Banyak pemain berasal dari klub-klub bentukan masyarakat kolonial dan perkotaan seperti Batavia, Surabaya, dan daerah lain.
Perjalanan Nawir cs di Piala Dunia 1938 terhenti oleh Hungaria.
Hungaria saat itu bukan lawan sembarangan. Mereka kemudian menjadi finalis Piala Dunia 1938 sebelum kalah dari Italia.
Jika ironi itu diperhadapkan pada Pierre Bourdieu, maka sosiolog asal Perancis ini akan berkata, “Oh, Hindia Belanda 1938 punya akses kapital struktural Belanda (jaringan FIFA, organisasi, koneksi internasional), tetapi belum memiliki habitus nasional Indonesia. Indonesia setelah 1945 punya habitus nasional yang kuat, Merah Putih, Garuda, nasionalisme, tetapi harus membangun ulang sebagian kapital struktural sepakbola yang terputus.”
Maroko lebih berhasil mengawinkan warisan struktur Prancis dengan identitas nasional Maroko. Indonesia masih mencari formula terbaik menyatukan keduanya.
Penjajah dan Semua Kapitalnya Terusir
Mungkin kesalahan Indonesia karena telanjur “mengusir penjajah” dari Nusantara. Sudah kepalang Merdeka atau mati. Akhirnya Belanda dan Jepang tinggalkan Indonesia membawa semua potensi yang mereka miliki. Padahal seharusnya, penjajah jangan diusir, tapi disadarkan dan dijinakkan.
Diksi ini bukan untuk menggiring ke arena penyesalan atas kemerdekaan, melainkan sebagai kritik tentang kegagalan mengonversi kapital kolonial menjadi kapital nasional. Sekali lagi kita bicara pembangunan sepakbola.
Itu pun karena Maroko dan Kroasia telah kita kaji dan memberi perspektif berbeda.
Memang dalam bahasa Bourdieu, kolonialisme meninggalkan dua hal sekaligus. Pertama, dominasi dan luka sejarah. Kedua, kapital struktural yang bisa direbut, diadaptasi, lalu diubah.
Makanya, Bourdieu selalu menghadirkan pertanyaannya setelah merdeka: apakah kapital itu dihancurkan bersama simbol kolonial, atau diambil alih lalu diberi identitas baru?
Maroko tidak sepenuhnya "menghapus" jejak Prancis. Mereka melakukan sesuatu yang lebih kompleks. Mereka mengambil sebagian kapital yang dibawa kolonial. Bahasa Perancis tetap jadi bahasa kedua, jaringan pendidikan, koneksi diaspora, akses sepakbola Eropa dan metode pembinaan. Kapital kolonial itu dikonversi menjadi kapital Maroko.
Indonesia punya sejarah berbeda. Narasi revolusi kita dibentuk oleh "Merdeka atau mati."
Secara politik, itu sangat penting karena membangun identitas bangsa baru. Tetapi dalam beberapa bidang, termasuk sepakbola, mungkin muncul efek lain: ada keterputusan transfer kapital. Belanda pergi. Jaringannya hilang. Sistemnya tidak sepenuhnya diwarisi. Bahkan sebagian simbol kolonial harus dijauhkan karena dianggap bagian dari masa penindasan.
Bahkan Nabi Muhammad pun tidak menghancurkan seluruh struktur lama Quraisy setelah Fathu Makkah. Sebagian kapital Quraisy justru dikonversi. Kemampuan administrasi. Jaringan diplomasi. Kemampuan dagang. Hingga kepemimpinan kabilah. Bahkan banyak elite Quraisy yang dulu menjadi lawan kemudian menjadi bagian dari kekuatan baru. Bukan sekadar mengusir. Tetapi mengubah arah kapital.
Kemerdekaan politik mengusir dominasi. Tetapi pembangunan habitus membutuhkan kemampuan mengubah kapital lama menjadi energi baru.
Itulah yang dilakukan Maroko. Prancis tidak lagi menjadi penjajah. Prancis menjadi salah satu "akademi tidak langsung" bagi talenta Maroko.
Indonesia mungkin kehilangan kesempatan itu dalam sepakbola. Mungkin persoalannya bukan Indonesia mengusir penjajah. Kemerdekaan memang harus direbut. Persoalannya, setelah penjajah pergi, apakah semua kapital yang mereka tinggalkan ikut kita buang, atau kita jinakkan menjadi milik kita sendiri.
Karena pemenang sejarah bukan hanya yang mampu mengalahkan lawan. Tetapi yang mampu mengubah kekuatan lama menjadi bahan bakar kemenangan baru. Itulah yang dilakukan Maroko terhadap warisan Prancis. Maupun Kroasia. Dan mungkin itulah pelajaran terbesar untuk sepakbola Indonesia.(*)