TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aksi pembegalan jalanan yang didominasi oleh pelaku usia remaja di Kota Bandung kian meresahkan masyarakat.
Kondisi darurat keamanan ini kian mencuat setelah insiden pembegalan sadis di kawasan Arcamanik menyita perhatian publik dan otoritas nasional.
Berdasarkan data resmi kepolisian dan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Polrestabes Bandung mencatat total 4.252 kasus kriminalitas.
Angka ini menempatkan Kota Bandung sebagai wilayah dengan laporan kejahatan tertinggi di Provinsi Jawa Barat.
Menyikapi situasi yang makin mengkhawatirkan tersebut, Pemerintah Kota Bandung bergerak cepat dengan menetapkan pola operasi khusus bagi Satuan Tugas (Satgas) Anti-Begal guna mempersempit ruang gerak para pelaku kriminal.
Baca juga: Ngerinya Begal Sadis di Arcamanik Bandung Bikin Atalia Hawatos, Farhan Janji Tingkatkan Patroli
Tingkat kerawanan aksi kriminalitas jalanan di Kota Kembang mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya.
Melalui akun Instagram pribadinya, Atalia mengecam aksi begal sadis di Arcamanik yang menyasar seorang anak hingga mengakibatkan luka berat.
Akibat kebiadaban pelaku, jari tangan anak yang menjadi korban tersebut harus diamputasi.
Tak hanya itu, korban juga menderita luka bacok di bagian kepala dan kaki, serta luka tusuk di tubuhnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa tragedi memilukan tersebut menjadi alarm keras bagi jajaran pemkot untuk segera melipatgandakan pengamanan kota.
"Betul, itu sebabnya saya bersama jajaran setiap hari Minggu akan melakukan operasi mulai jam 2 pagi untuk keliling. Kita tingkatkan patroli," tegas Farhan di Pendopo Kota Bandung, Kamis (9/7/2026).
Farhan mengungkapkan, berdasarkan data evaluasi, angka kriminalitas jalanan seperti tawuran, pencurian dengan kekerasan, hingga pembegalan rata-rata melonjak hingga 20 persen pada masa libur sekolah dibandingkan hari biasa.
Fenomena keterlibatan remaja sebagai eksekutor menjadi hal yang paling mencemaskan saat ini.
"Yang paling menakutkan adalah banyak para pelakunya masih remaja. Itu sebabnya kami sangat serius menangani masalah ini dan akan memastikan rasa aman bagi seluruh warga Kota Bandung," ujarnya.
Untuk memetakan penanganan, Pemkot Bandung memecah wilayah operasi Satgas Anti-Begal ke dalam lima zona pengawasan utama, yakni Bandung Barat, Bandung Timur, Bandung Tengah, Bandung Selatan, dan Bandung Utara.
Titik-titik rawan, terutama di wilayah perbatasan yang kerap dijadikan jalur pelarian oleh para pelaku, kini menjadi fokus pengetatan yang dikoordinasikan bersama Polrestabes Bandung.
Meski mengklaim patroli rutin sejauh ini mulai membongkar banyak kasus, Farhan menegaskan bahwa ruang gerak komplotan begal tidak akan bisa diputus total jika hanya mengandalkan aparat penegak hukum.
Pihak Pemkot Bandung kini menggencarkan kembali gerakan Siskamling massal demi menjaga lingkungan dari ancaman kejahatan malam.
"Efektivitas tim satgas ini tidak akan maksimal apabila tidak ada keikutsertaan warga."
"Jadi Siskamling dengan semangat 'warga jaga warga, warga jaga kota' akan kita gencarkan kembali. Masyarakat harus turun menjaga kota kita dari serangan kriminalitas," pungkasnya.