Tanggal 10 Juli 2026 Memperingati Hari Apa? Ada 2 Momen Penting, Ini Sejarahnya
Suci BangunDS July 10, 2026 09:20 AM

TRIBUNNEWS.COM - Setiap tanggal 10 Juli, terdapat sejumlah peringatan internasional yang mengangkat tema berbeda, mulai dari kuliner hingga keberlanjutan lingkungan. 

Pada tanggal ini, masyarakat dunia memperingati World Kebab Day (Hari Kebab Sedunia), sebuah perayaan yang ditujukan untuk mengapresiasi kebab sebagai salah satu hidangan paling populer yang telah melintasi batas negara dan budaya. 

Berasal dari kawasan Timur Tengah, kebab kini berkembang menjadi makanan yang digemari di berbagai belahan dunia dengan beragam variasi, mulai dari shish kebab, doner kebab, hingga berbagai adaptasi lokal. 

Hari Kebab Sedunia menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang kuliner tersebut sekaligus merayakan keberagaman budaya yang tercermin melalui makanan.

Selain itu, tanggal 10 Juli juga diperingati sebagai Global Energy Independence Day (Hari Kemerdekaan Energi Global). 

Berbeda dengan World Kebab Day yang berfokus pada dunia kuliner, peringatan ini membawa pesan yang jauh lebih luas mengenai masa depan energi dunia. 

Global Energy Independence Day mengajak masyarakat internasional untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta mempercepat pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. 

Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa transisi menuju energi bersih merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

2 Momen Penting pada Tanggal 10 Juli 2026

1. World Kebab Day (Hari Kebab Sedunia)

World Kebab Day merupakan peringatan yang ditujukan untuk merayakan kepopuleran kebab sebagai salah satu hidangan yang telah dikenal dan dinikmati di berbagai negara. 

Baca juga: Tanggal 9 Juli 2026 Memperingati Hari Apa? Ada 3 Momen Penting

Walaupun belum berstatus sebagai hari peringatan resmi, perayaan ini mulai banyak dikenal sejak sekitar tahun 2019 melalui berbagai komunitas kuliner dan media sosial.

Popularitas kebab terus meningkat seiring berkembangnya restoran Timur Tengah, Turki, hingga Mediterania di berbagai belahan dunia, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. 

Hidangan ini kemudian tidak hanya menjadi makanan khas suatu wilayah, tetapi juga berkembang menjadi menu cepat saji yang mudah ditemukan di banyak kota besar.

Keberadaan komunitas diaspora dari Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia Barat turut memperkenalkan kebab kepada masyarakat internasional. 

Dalam beberapa dekade terakhir, makanan ini semakin diterima karena memiliki banyak variasi yang dapat disesuaikan dengan selera lokal, baik dari pilihan daging, sayuran, saus, maupun jenis rotinya.

Secara historis, kebab dipercaya berasal dari kawasan Timur Tengah sebagai hidangan berupa daging yang dipanggang menggunakan bara api dan diberi berbagai rempah khas. 

Seiring perkembangan zaman, kebab mengalami banyak modifikasi hingga melahirkan berbagai jenis yang kini dikenal luas.

Salah satu variasi yang paling populer adalah shish kebab, yaitu potongan daging yang ditusuk kemudian dipanggang, dikutip dari Days of The Year.

Awalnya, daging dan sayuran dipanggang secara terpisah, namun kini keduanya sering disajikan bersama dalam satu tusuk sate.

Jenis lain yang sangat terkenal ialah doner kebab, yaitu tumpukan daging yang dipanggang secara vertikal sambil diputar perlahan. 

Bagian luar daging diiris tipis setelah matang dan umumnya disajikan bersama roti pita, salad, serta aneka saus. 

Teknik memasak ini kemudian menginspirasi berbagai hidangan lain, seperti gyro di Yunani maupun shawarma di Timur Tengah.

2. Global Energy Independence Day (Hari Kemerdekaan Energi Global)

Selain perayaan kuliner, tanggal 10 Juli juga diperingati sebagai Global Energy Independence Day.

Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai pentingnya kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, terbarukan, dan ramah lingkungan.

Gagasan utama dari hari peringatan ini adalah mendorong dunia agar secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam yang selama ini menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Perjalanan manusia dalam memanfaatkan energi telah berlangsung sejak zaman prasejarah, dikutip dari National Today.

Pada masa awal, kebutuhan energi hanya dipenuhi melalui tenaga manusia dan pemanfaatan api untuk memasak maupun menghangatkan tubuh. 

Seiring berkembangnya peradaban, manusia mulai memanfaatkan angin untuk pelayaran, kemudian menemukan berbagai sumber bahan bakar lain yang mampu menghasilkan energi lebih besar.

Revolusi industri menjadi titik penting meningkatnya konsumsi energi dunia. 

Batu bara menjadi sumber tenaga utama yang menggerakkan mesin-mesin industri, transportasi, hingga pembangkit listrik. 

Setelah itu, minyak bumi dan gas alam berkembang menjadi sumber energi utama yang menopang aktivitas ekonomi global.

Di balik manfaatnya, penggunaan bahan bakar fosil juga membawa dampak besar terhadap lingkungan. 

Emisi karbon dari pembakaran energi fosil berkontribusi terhadap perubahan iklim, pencemaran udara, dan meningkatnya suhu bumi. 

Karena itu, berbagai negara mulai berinvestasi dalam pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, air, panas bumi, hingga biomassa.

Meski teknologi energi bersih terus berkembang, tantangan masih cukup besar. 

Produksi energi terbarukan belum sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan energi global yang sangat tinggi. 

Dibutuhkan inovasi teknologi, investasi, serta kebijakan yang mendukung agar transisi menuju energi bersih dapat berjalan lebih cepat.

Global Energy Independence Day menjadi pengingat bahwa setiap individu juga dapat berkontribusi melalui langkah sederhana.

Seperti, menghemat penggunaan listrik, memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan, hingga mendukung penggunaan energi terbarukan dalam kehidupan sehari-hari.

(Tribunnews.com/Farra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.