Solidaritas Tanpa Batas: 12 Relawan Wanadri dari Bandung Bantu Cari Korban Hilang di Gunung Bismo
Rustam Aji July 10, 2026 10:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO – Di balik operasi pencarian Gunung Bismo yang melelahkan, aksi solidaritas kemanusiaan yang luar biasa ditunjukkan oleh puluhan relawan dari luar daerah. Mereka rela meninggalkan aktivitas sehari-hari demi membantu menemukan dua remaja hilang asal Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, yakni Arifin Nurohmat alias Apin (18) dan Yufaidin alias Idin (15). 

Salah satu aksi nyata datang dari relawan Wanadri Bandung, Jawa Barat. Organisasi pencinta alam legendaris ini menerjunkan sedikitnya 12 personel untuk melebur bersama tim operasi SAR Wonosobo dan mempertebal barisan penyisiran di lereng Gunung Bismo. 

"Saya dari Wanadri, dari Bandung. Kita support pencarian di Bismo ini. Alhamdulillah sudah berjalan di hari keempat," ujar perwakilan relawan Wanadri, Jose Fajri Nanda, kepada Tribunjateng.com, Kamis (9/7/2026). 

Panggilan Hati Nurani Pegiat Alam

Menariknya, Jose mengaku sama sekali tidak mengenal secara pribadi kedua korban yang sedang dinyatakan hilang tersebut. Namun, ketiadaan ikatan darah atau pertemanan itu tidak menyurutkan langkah timnya untuk menempuh perjalanan jauh dari Bandung menuju Wonosobo. 

Bagi Jose dan rekan-rekan sejawatnya, aksi ini murni didasari oleh kode etik dan panggilan jiwa sebagai sesama pegiat kegiatan di alam bebas. 

Baca juga: Pencarian 2 Remaja Hilang di Gunung Bismo Diperpanjang, Basarnas Terjunkan Anjing K9 dan Drone

"Karena memang kita mainnya di gunung hutan. Sudah panggilan dari jiwa kita. Ada sesama hidup yang hilang, sampai hari ini belum ditemukan, ya panggilan hati nurani kita, jadi kita bergerak ke sini," tutur Jose secara emosional. 

Lembah Curam dan Vegetasi Lebat Menjadi Penghalang

Selama empat hari melakukan penyisiran bersama Basarnas dan relawan lokal, Jose mengakui bahwa medan ekstrem Bismo merupakan musuh utama dan tantangan terbesar bagi seluruh unsur di lapangan. Karakteristik Gunung Bismo yang memiliki elevasi tajam serta dikelilingi jurang-jurang dalam menjadi kendala utama. 

Kondisi tersebut diperparah oleh rimbunnya vegetasi hutan yang sangat rapat, yang membatasi jarak pandang serta pergerakan tim pencari. Menurut Jose, kendala pencarian hingga hari kedelapan ini murni disebabkan oleh bentang alam yang ganas, bukan karena kurangnya jumlah personel di lapangan. 

Apresiasi Kekompakan Warga dan Relawan Lokal

Meski dihantam rintangan alam yang berat, Jose mengaku sangat kagum dan menaruh hormat setinggi-tingginya atas antusiasme luar biasa dari warga lokal Desa Krinjing.

Ratusan warga setempat bahu-bahu membahu bersama relawan yang berdatangan dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah Temanggung. 

Baca juga: Kisah Barista Perempuan yang Menghidupkan Rasa Lokal Wonosobo: Wangi Kopi dan Sentuhan Jemari Titis

Mengenai batas waktu misi kemanusiaan ini, tim Wanadri menegaskan akan terus bertahan di lokasi dan bersiaga mengikuti instruksi komando dari pihak Basarnas hingga operasi pencarian dinyatakan selesai. Sesuai jadwal penambahan waktu, tim SAR gabungan direncanakan akan melakukan evaluasi total pada Sabtu besok. 

"Nanti kita evaluasi. Kalau dari Basarnas hari Sabtu itu secara resmi operasi pencarian dihentikan ya kita ikut berhenti," pungkas Jose menutup pembicaraan.(ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.