TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Babak delapan besar Piala Dunia 2026 memiliki fakta menarik.
Dari delapan negara yang bertahan, hanya Inggris dan Belgia memakai jasa pelatih asing.
Inggris diarsiteki oleh pelatih asal Jerman Thomas Tuchel, sedangkan Belgia diasuh Rudi Garcia dari Prancis.
Enam negara lain tetap mengandalkan pelatih lokal.
Prancis bersama Didier Deschamp, Argentina ditangani Lionel Scaloni, Norwegia dilatih Stale Solbakken, Maroko dikepalai Mohamed Ouahbi, Swiss juru taktiknya Murat Yakin dan Spanyol dinakhodai Luis de la Fuente.
Baca juga: Indonesia Pertama dari Asia ke World Cup: Maroko dan Kroasia Peta Arah Pulang Garuda ke Piala Dunia
Bagi Thomas Tuchel dan Rudi Garcia, kondisi ini menjadi tantangan besar.
Mengingat, sejak Piala Dunia digelar 1930 hingga 2022, tak pernah ada pelatih berkebangsaan luar membawa timnya juara. Selalu pelatih asal negara tersebut.
Pengamat Sepak Bola Imran Amirullah melihat penggunaan pelatih asing seperti Inggris dan Belgia bukan jadi persoalan.
Asalkan, pelatih tersebut mengetahui ciri khas sepak bola negara tersebut.
Inggris dikenal dengan dengan kick and rushnya.
Taktik ini mengandalkan umpan panjang ke depan, lalu memanfaatkan kecepatan sayap dan duel fisik.
Belgia lebih kepada penguasaan bola. Mereka membangun serangan melalui umpan pendek yang cepat.
“Kalau pelatih bisa menyesuaikan dengan materi yang ada, paham permainan negara diasuh, saya kira tak ada persoalan,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Kamis (9/7/20206).
Imran menilai Thomas Tuchel di Inggris maupun Rudi Garcia di Belgia sejauh ini mampu mempertahankan karakter permainan masing-masing negara dilatih.
Berbeda dengan Carlo Ancelotti yang menukangi Brasil.
Pelatih asal Italia itu bersama Brasil langkahnya terhenti di babak 32 besar di Piala Dunia edisi ke-23 ini.
Menurutnya, Carlo Ancelotti tak bisa menyesuaikan permainan dengan Negeri Samba.
Mantan pelatih Real Madrid tersebut membawa taktik Eropa di Brasil.
Padahal, negara lima kali juara Piala Dunia itu dikenal dengan identitas Jogo Bonitonya.
Permainan yang andalkan skill individu dan kreativitas.
“Carlo Ancelotti tak bisa berbuat banyak di Brasil karena tak bisa menyesuaikan. Dia (Carlo Ancelotti) punya taktikal Eropa, tidak sesuai dengan karakter pemainnya,” tutur mantan asisten pelatih PSM Makassar ini.
Untuk menjaga asah menciptakan sejarah baru di turnamen terbesar sepak bola dunia ini, Rudi Garcia dengan Belgia harus menghadapi juara Piala Dunia 2010 Spanyol di perempat final.
Pertandingan Belgia vs Spanyol berlangsung di Stadion Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu (11/7/2026) pukul 03.00 Wita.
Sedangkan, Thomas Tuchel bersama Inggris harus melewati rintangan sang kuda hitam Norwegia untuk melaju ke semifinal.
Inggris berjumpa Norwegia di Miami Stadium, AS, pada Minggu (12/7/2026) pukul 05.00 Wita.
Apabila Inggris dan Belgia melaju ke semifinal, keduanya akan semakin dekat untuk mematahkan tradisi panjang Piala Dunia.
Yaitu, menghentikan dominasi pelatih lokal yang selalu mengantar negaranya juara dunia.
Imran menyebut, peluang Inggris dan Belgia masuk keempat besar dengan pelatih asingnya sangat terbukan.
Sisa strategi diterapkan untuk meredam permainan lawan-lawannya.
“Saya pikir masih punya peluang yang besar. Pelatih asing kedua negara itu harus manfaatkan potensi pemainnya,” tutup mantan pemain Timnas Indonesia ini. (*)