TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Jika berbicara tentang kuliner khas Solo, Jawa Tengah, banyak orang langsung teringat nasi liwet atau tengkleng. Namun, ada satu hidangan yang tak kalah populer sebagai menu sarapan masyarakat, yakni bubur lemu.
Kuliner tradisional ini bukan sekadar bubur biasa.
Bubur lemu memiliki sejarah panjang dalam budaya Jawa dan hingga kini masih menjadi favorit masyarakat karena cita rasanya yang gurih dengan aneka lauk pelengkap.
Baca juga: Sejarah Kecamatan Wonosari Klaten: Ada Jejak Kolonial, Perjuangan Kemerdekaan, hingga Warisan Budaya
Bubur lemu ini biasanya disajikan di atas pincuk daun pisang, dijual pada pagi hari dan malam hari di pinggir jalan Kota Solo.
Berikut lima fakta menarik tentang bubur lemu khas Solo.
Bubur ternyata bukan kuliner baru di Nusantara. Keberadaannya telah tercatat sejak masa Kerajaan Kediri pada abad ke-12.
Salah satu buktinya terdapat dalam Serat Lubdaka karya Mpu Tanakung yang menyebut berbagai jenis bubur, mulai dari bubur berbahan santan, bubur gula, hingga nasi liwet dengan aneka lauk.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah lama mengenal tradisi mengolah bubur sebagai makanan sehari-hari.
Dalam budaya Jawa, bubur atau jenang memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pengganjal perut.
Hal itu juga tercatat dalam Serat Centhini, ensiklopedia kebudayaan Jawa yang disusun pada masa Kasunanan Surakarta.
Dalam naskah tersebut, bubur hadir sebagai menu sarapan, dagangan di pertunjukan wayang, hingga sajian dalam berbagai upacara adat dan ritual sebagai simbol doa dan rasa syukur.
Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, menyebut bubur lemu sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, antropologis, fisiologis, biologis, dan sosiologis.
Berbagai jenis jenang juga dipercaya memiliki makna tersendiri.
Misalnya, jenang sumsum yang diyakini membantu memulihkan tenaga setelah bekerja, sementara bubur untuk ritual menjadi simbol harapan dan doa masyarakat Jawa.
Baca juga: Sejarah Sate Kambing, Kuliner Populer di Solo yang Masuk 10 Hidangan Terbaik TasteAtlas 2026
Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya, bubur lemu memiliki tekstur lembut dan kental dengan cita rasa gurih.
Penyajiannya semakin lengkap karena dipadukan dengan berbagai lauk khas Jawa, seperti opor ayam, gudeg, sambal krecek, telur pindang, hingga sayur.
Perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas inilah yang membuat bubur lemu tetap digemari lintas generasi.
Komitmen masyarakat Solo dalam melestarikan budaya jenang masih terlihat hingga kini.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Festival Jenang Solo yang rutin digelar setiap tahun sebagai upaya melestarikan kuliner tradisional sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda dan wisatawan.
Selain itu, bubur lemu juga masih mudah dijumpai di berbagai warung legendaris di Solo dan sekitarnya, sehingga tetap menjadi salah satu menu favorit, baik untuk sarapan maupun santap malam.
Bagi yang ingin mencicipi bubur lemu khas Solo, berikut beberapa tempat yang cukup populer:
(*)