SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di sepanjang aliran sungai-sungai besar yang membelah tanah Sumatera, berdiri dua kota yang menjadi saksi bisu kejayaan Nusantara.
Di utara ada Jambi yang bersandar pada ketenangan Sungai Batanghari, sementara di selatan, Palembang berdiri kokoh di bawah bayang-bayang kemegahan Sungai Musi.
Keduanya bukan sekadar titik koordinat di atas peta. Mereka adalah simbol peradaban yang tumbuh dari rahim budaya sungai.
Namun, ketika roda zaman berputar hingga ke panggung modernitas tahun 2026, sebuah pertanyaan menarik muncul ke permukaan: Di antara kedua kota ini, siapakah yang tampil lebih sejahtera dan inovatif?
Seperti dikutip dari data BPS dan IDSD pada Jumat (10/7/2026).
Memasuki Jambi seperti berjalan di antara lembaran buku sejarah yang hidup. Sebagai ibu kota Provinsi Jambi, kota yang dijuluki "Bumi Melayu" ini sukses merawat tradisi dan adat istiadat agar tetap kental dalam setiap sendi kehidupan warganya.
Sungai Batanghari sungai terpanjang di Sumatera tetap setia menjadi urat nadi ekonomi yang berdenyut tanpa henti sejak zaman purba.
Namun, jangan salah. Di balik ketenangan budayanya, Jambi menyimpan geliat kemajuan yang ambisius. Kota ini tidak lagi sekadar menjadi penonton di pesisir timur Sumatera.
Berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025, Jambi berhasil mencatatkan angka 82,32.
Sebuah rapor hijau yang menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerahnya dalam mendongkrak kualitas pendidikan, kesehatan, dan isi dompet warganya.
Urusan inovasi pun tak kalah bersaing. Dengan skor Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) sebesar 4,06, Jambi perlahan tapi pasti mengukuhkan posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru yang seksi dan potensial di wilayah timur Sumatera.
Beranjak sedikit ke selatan, riuh rendah Kota Palembang menyambut kita dengan energi yang berbeda.
Inilah kota tertua di Indonesia, yang garis lahirnya sudah tertoreh sejak Juni 682 Masehi.
Dijuluki sebagai Venesia dari Timur, Bumi Sriwijaya ini memamerkan bagaimana sejarah ribuan tahun bisa berjalan beriringan tanpa canggung dengan modernitas.
Meski usianya sudah uzur, Palembang membuktikan diri masih memiliki "taring" yang tajam dalam urusan menyejahterakan warganya.
Pada papan skor IPM 2025, Palembang berhasil unggul tipis dari tetangganya dengan raihan 83,27.
Angka ini menempatkan Palembang di level kualitas hidup yang siap bersaing ketat dengan kota-kota metropolitan besar lainnya di tanah air.
Ketangguhan Palembang makin terlihat dalam urusan transformasi digital dan pelayanan publik. Kota pempek ini mencatatkan skor IDSD sebesar 4,23.
Sebuah penegasan bahwa bagi Palembang, usia hanyalah angka. Inovasi justru menjadi bahan bakar utama mereka untuk terus melakukan akselerasi.
Secara angka di atas kertas, Palembang memang memimpin tipis di depan, baik dari segi kualitas hidup manusia maupun iklim inovasi daerah. Warisan sebagai kota metropolitan pasca-gelaran olahraga internasional tampaknya masih memberi dampak jangka panjang bagi Palembang.
Namun, Jambi yang membayangi ketat di belakang bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Dengan lompatan inovasi dan pemanfaatan potensi Batanghari yang makin modern, Bumi Melayu ini sedang bersiap membalikkan keadaan.
Pada akhirnya, rivalitas sehat antara Palembang dan Jambi di tahun 2026 ini bukan tentang siapa yang mengalahkan siapa, melainkan tentang bagaimana dua kota sungai ini saling memacu diri demi kesejahteraan masyarakat di tepiannya.