Drama Musikal 'Sang Garuda dan 9 Bidadari' di TBY, Hadirkan Dongeng Sebagai Sarana Tuntunan Anak
Muhammad Fatoni July 10, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dongeng tidak seharusnya berhenti sebagai cerita pengantar tidur.

Di tangan Omah Dongeng Srikandi, kisah rakyat justru dihidupkan kembali menjadi media pembelajaran yang mengajak anak mengenal jati diri, berpikir kritis, sekaligus menanamkan nilai karakter.

Semangat itu diwujudkan melalui pementasan drama musikal dan pameran wayang dongeng bertajuk 'Sang Garuda dan 9 Bidadari' yang digelar di Societeit Militaire, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (9/7/2026).

Karya ini merupakan produksi kreatif inovatif penerima Program Dana Indonesiana 2025 yang memadukan seni pertunjukan, visual, dan dongeng sebagai media edukasi sekaligus hiburan.

Penanggung Jawab Program, Atikawati, mengatakan kisah tersebut mengangkat perjalanan Sang Garuda yang berjuang menyelamatkan sebuah negeri yang dilanda 'virus kebodohan.'

Dalam perjalanan itu, Sang Garuda memperoleh Wahyu Prajna Paramita atau wahyu ilmu pengetahuan berkat ketekunan dan bimbingan ibunya, Dewi Winata.

Menurutnya, cerita tersebut sengaja dibangun sebagai simbol bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam menyiapkan generasi masa depan.

"Pesan yang ingin kami sampaikan adalah pendidikan menjadi kunci mutlak menuju Indonesia Emas. Tidak ada hal yang bisa ditawar selain itu," ujarnya.

Libatkan Seniman Muda Jogja

Atikawati menjelaskan, seluruh pertunjukan digarap oleh seniman muda Yogyakarta. 

Menariknya, para pemain berasal dari berbagai kalangan, mulai siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, sementara pemeran dewasa didominasi para pendidik, mulai guru hingga dosen.

Kolaborasi lintas usia itu sengaja dihadirkan agar proses berkesenian juga menjadi ruang belajar bersama.

Selain drama musikal, pengunjung juga dapat menikmati pameran wayang dongeng yang menampilkan figur figur tokoh dalam cerita 'Sang Garuda dan 9 Bidadari'.

Wayang tersebut bukan sekadar karya pameran, melainkan media interaktif yang selama ini digunakan Omah Dongeng Srikandi saat mendongeng di sekolah sekolah dasar.

"Kami memang berkonsentrasi di dunia dongeng. Figur-figur ini nantinya akan terus digunakan sebagai media mendongeng di sekolah, bukan hanya untuk pameran hari ini," katanya.

Baca juga: Pedagang Malioboro Khawatir Sepi Imbas Full Pedestrian, Wali Kota Yogya Janji Buat Regulasi Cermat

Karya Orisinal

Atikawati menjelaskan, cerita 'Sang Garuda dan 9 Bidadari' merupakan karya orisinal Omah Dongeng Srikandi yang berangkat dari adaptasi kisah Garuda dalam tradisi Bali. 

Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi kisah baru yang menempatkan Sang Garuda sebagai pelindung sekaligus penggerak bagi anak anak Nusantara.

Ia menilai dongeng perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Sebab, jika hanya disampaikan dalam bentuk lama, dongeng akan terasa membosankan dan kehilangan daya tarik bagi anak anak.

Lebih dari itu, menurutnya masih banyak dongeng yang berkembang di masyarakat justru memunculkan pemahaman yang keliru.

"Sebenarnya misi kami juga meluruskan dongeng dongeng yang selama ini berkembang. Jangan sampai anak anak memahami semuanya sebagai mitos. Ketika melihat Candi Prambanan misalnya, mereka seharusnya berpikir tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan bagaimana bangunan itu bisa didirikan ribuan tahun lalu, bukan sekadar dibangun oleh jin," ujarnya.

Karena itu, Omah Dongeng Srikandi berupaya menghadirkan dongeng sebagai pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu anak terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, dan budayanya sendiri.

Media Tuntunan

Atikawati menilai, anak-anak saat ini membutuhkan lebih banyak tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menjadi tuntunan.

"Saya membangun Omah Dongeng karena melihat anak anak kita mulai kehilangan figur. Mereka tidak tahu siapa dirinya, tidak mengenal leluhurnya, lalu bagaimana mereka menentukan arah masa depannya. Dongeng memiliki kekuatan untuk menghubungkan masa lalu dengan masa depan," katanya.

Pemilihan format drama musikal juga bukan tanpa alasan.

Selain lebih mudah diterima anak anak, bentuk pertunjukan tersebut dinilai memiliki peluang untuk dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia.

"Kami berharap karya ini tidak hanya tampil di Jogja, tetapi bisa berkeliling ke kota kota lain seperti Solo, Jakarta, dan Bandung sehingga pesannya bisa diterima anak anak di seluruh Indonesia," ujarnya.

Bagi Atikawati, inovasi menjadi kunci agar dongeng tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Melalui pertunjukan yang interaktif, anak anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga terlibat dalam proses kreatif yang dapat mengasah emosi, imajinasi, dan cara berpikir mereka.

"Yang perlu kita lakukan adalah berinovasi. Dongeng yang semula dianggap membosankan harus diubah menjadi hiburan yang disukai anak anak sekaligus mampu membangun karakter mereka," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.