TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK – Tiga kasus demam berdarah dengue (DBD) yang telah terkonfirmasi melalui hasil pemeriksaan laboratorium di Landak.
Hal ini mengundang perhatian khusus dari pelayanan kesehatan khususnya puskesmas untuk melakukan antisipasi.
Upaya pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan fogging di lingkungan, terutama di areal kasus temuan DBD.
Termasuk fogging dilakukan pada di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Islam, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, pada Rabu, 8 Juli 2026 lalu oleh Puskesmas Ngabang.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran DBD, mengingat dalam waktu dekat para santri akan kembali menempati asrama.
Baca juga: Hingga 9 Juli 2026 Kasus DBD Kapuas Hulu Mencapai 286 Orang, Forkopimcam Langsung Turun Tangan
Kembali ke Pondok
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Ngabang, M. Luqman Qosim, mengatakan fogging diajukan sebagai langkah pencegahan menjelang para santri kembali masuk ke asrama pada 13 Juli 2026.
"Karena kemarin ada kasus DBD pada salah satu siswa, kami mengajukan permohonan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Ngabang untuk melakukan fogging di lingkungan pesantren," ungkapnya.
Baca juga: Hingga 9 Juli 2026 Kasus DBD Kapuas Hulu Mencapai 286 Orang, Forkopimcam Langsung Turun Tangan
Ia menjelaskan, siswa yang terjangkit DBD sebelumnya telah dipulangkan setelah menyelesaikan kegiatan ujian sebagai bentuk antisipasi.
Menurut Luqman, sekitar 80 persen siswa di Pondok Pesantren Nurul Islam merupakan santri yang tinggal di asrama, terutama jenjang SMP dan SMA.
Karena itu, pihak pesantren berupaya memastikan lingkungan dalam kondisi aman sebelum kegiatan belajar kembali dimulai.
Bersihkan Lingkungn
Selain fogging, pihak pesantren juga berencana melakukan pembersihan lingkungan secara menyeluruh. Namun, upaya tersebut masih terkendala keterbatasan tenaga kebersihan karena luas kawasan pesantren mencapai sekitar 4 hektare.
"Kami tetap berusaha semaksimal mungkin melakukan langkah antisipasi. Mudah-mudahan ini bisa memberikan hasil yang maksimal," pungkas Luqman.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program DBD Puskesmas Ngabang, Rosalina Andryani, mengatakan pihaknya menerima laporan dari pihak Pondok Pesantren Nurul Islam dua hari sebelum pelaksanaan fogging.
Setelah dilakukan verifikasi, tiga orang dinyatakan positif DBD berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
"Awalnya kami menerima laporan dari pihak persekolahan Nurul Islam bahwa ada beberapa kasus. Ada tiga kasus yang sudah kami tindak lanjuti," ujar Rosalina saat ditemui di lokasi fogging.
Ia menjelaskan, Puskesmas hanya melakukan fogging apabila terdapat kasus DBD yang telah dipastikan melalui hasil pemeriksaan laboratorium.
"Kalau hanya laporan tanpa hasil laboratorium, kami tidak bisa memastikan itu kasus DBD atau bukan," katanya.
Rosalina menegaskan, fogging bukan merupakan langkah utama dalam pencegahan DBD karena hanya efektif membunuh nyamuk dewasa.
Menurutnya, cara paling efektif mencegah penyebaran DBD adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
"Fogging ini hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Yang lebih efektif sebenarnya adalah PSN dengan melakukan 3M," katanya.
Rosalina menambahkan, hingga saat ini tercatat 11 kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Ngabang sejak Januari 2026.
Kasus terbanyak ditemukan di Desa Hilir Kantor, dan setiap lokasi yang ditemukan kasus telah dilakukan fogging sebagai bagian dari upaya pengendalian penyebaran DBD.