Penampilan Siswa Sekolah Rakyat di Tarakan Saat Puisi Pukau Penonton, Ada yang Teteskan Air Mata
Junisah July 10, 2026 03:35 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Tak semua perubahan bisa diukur dengan angka. Namun, di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 59  Tarakan, Kalimantan Utara perubahan itu tampak nyata dari senyum anak-anak yang dulu datang dengan tubuh kurus, wajah kusam, bahkan ada yang belum mengenal huruf.

Perubahan raut wajah anak-anak  dapat dilihat di kegiatan Open House Sekolah Rakyat Terintegrasi 59 Kota Tarakan yang digelar di halaman Kantor LLK Tarakan, Jumat (1o/7/2026),

Tampak puluhan siswa dan siswi SRT menampilkan bakatnya lewat  aksi tari-tarian musikalisasi puisi,  pencak silat, baris berbaris, menyanyi hingga penguasaan empat bahasa.

Penampilan siswa dan siswi SRT ini mampu menghipnotis tamu undangan yang hadir melihat langsung  kegiatan ini. Bahkan sebagian tamu undangan berdecak kagum, dan tak sedikit yang meneteskan air mata ketika melihat  penampilan musikalisasi puisi dan lagu berjudul Ibu dan  Ayah Ibu terakhir menutup kegiatan Open House.

Baca juga: Sekolah Rakyat Tarakan Kaltara Buka Penerimaan Siswa Baru, Kuota 270 Siswa

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 59 Kota Tarakan, Marisa dalam sambutannya menyampaikan, Open House Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 59 Kota Tarakan, Jumat (11/7/2026), bukan sekadar ajang memperlihatkan hasil pembelajaran para siswa kepada masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Marisa mengajak seluruh pihak melihat Sekolah Rakyat bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

"Sekolah Rakyat Terintegrasi merupakan wujud nyata hadirnya negara untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dari akses pendidikan bermutu. Terutama bagi keluarga prasejahtera," ujarnya.

Menurutnya, tujuan Sekolah Rakyat jauh melampaui pembangunan ruang belajar.
Ia menjelaskan, konsep Sekolah Rakyat mengintegrasikan pendidikan formal dengan pengasuhan, pemenuhan gizi, hingga pendampingan keluarga agar perubahan yang terjadi tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga keluarganya.

"Integrasi antara pendidikan formal, pengasuhan, gizi, dan pendampingan keluarga adalah model yang kita dorong secara nasional dan anak-anak kita tidak cukup hanya pintar tapi juga harus sehat, tangguh, dan berakhlak mulia," tuturnya.

Di hadapan para siswa, Marisa menitipkan pesan agar mereka memanfaatkan kesempatan belajar yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya.

Ia berpesan kepada seluruh siswa dan siswi untuk manfaatkan kesempatan belajar di Sekolah Rakyat ini dengan sebaik-baiknya. "Hormati guru dan sayangi teman, dan jangan pernah takut bermimpi besar. Negara akan terus hadir mendampingi langkah-langkah kalian," ucapnya.

Pemberian penghargaan kepada para guru dan pendamping yang setiap hari mendampingi proses tumbuh kembang para siswa.

Baca juga: Pelaksanaan O2SN Tingkat Kota, Disdik Tarakan Libatkan Siswa dan Siswi Sekolah Rakyat

Menurutnya, tugas para pendidik di Sekolah Rakyat bukan sekadar mengajar, tetapi ikut memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu banyak keluarga. Marisa menegaskan, dukungan terhadap para pendidik juga akan terus diperkuat melalui penyediaan sarana, pelatihan, hingga jaminan kesehatan.

Tak lupa, ia mengajak para orang tua untuk menjadi bagian penting dalam keberhasilan pendidikan anak.

Open House menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung proses pendidikan yang berlangsung di Sekolah Rakyat.

100 Persen Keluarga Miskin Ekstrem

Sekretaris Korpri Kemensos RI, PIC Sekolah Rakyat Terintegrasi 59 Kota Tarakan Edi Sucipto mengungkapkan Sekolah Rakyat dibangun di atas tiga pilar utama, yakni memuliakan wong cilik, menjangkau yang belum terjangkau, dan memungkinkan yang tidak mungkin.

"Ini bukan sekadar slogan Bapak, Ibu. Ini adalah rekayasa sosial untuk memutus mata rantai kemiskinan yang kami lakukan dengan berbagai pihak," katanya.

Ia menegaskan, perubahan yang dibangun bukan hanya menyasar peserta didik, tetapi juga keluarga mereka

Edi Sucipto menceritakan 100 persen siswa dan siswi yang masuk di Sekolah Rakyat  berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sebagian besar bahkan belum pernah mengenyam bangku sekolah, dan tidak mengenal huruf sama sekali," ungkapnya.

"Kondisi itu diperparah dengan persoalan kesehatan yang mereka alami. Yang lebih memprihatinkan lagi banyak murid kami yang kekurangan gizi, memiliki penyakit kulit, dan mengalami kerusakan gigi. Kami memulai semuanya dari titik nol di sekolah ini," tuturnya.

Oleh karena itu, selama sembilan bulan sepuluh hari, para guru di Sekolah Rakyat tidak langsung membebani anak-anak dengan pelajaran akademik seperti matematika dan bahasa Indonesia, namun membangun fondasi dari yang paling dasar.

Ada empat tahapan yang dilakukan Sekolah Rakyat kepada para siswa dan siswi Mulai dari asesmen dan adaptasi, pembinaan kesehatan serta pemenuhan gizi, pembentukan karakter melalui pembiasaan ibadah dan kedisiplinan, hingga akhirnya masuk pada penguatan akademik.

"Kami percaya pendidikan akademik inilah yang akan menjadi senjata paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan," ujarnya.

Edi Sucipto mengatakan,  ada beberapa siswa dan siswi yang masuk ke Sekolah Rakyat  dulu berat badannya kecil kini meningkat. Seperti Rikardus mengalami kenaikan berat badan hingga 8,35 kilogram. Jessica bertambah 6,6 kilogram, Ayu naik 5,2 kilogram, dan  Mario bertambah 5,9 kilogram.

"Tubuh mereka kini bugar dan mereka jafi anak yang sehat memiliki kesempatan belajar yang jauh lebih besar," katanya.

Penampilan siswa dan siswi SRT Tarakan 02 10072026
MEMUKAU - Berbagai bakat yang ditampilkan siswa dan siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi di kegiatan Open House, Jumat (11/7/2026).

Bahkan ada Safira dan Andi Putra. Keduanya tidur di Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) dengan mengalami gizi buruk.

"Dulu mereka tidur di JPO dan rumah lain yang tidak berpenghuni tanpa lampu. Dalam keadaan mengalami gizi buruk, penampilan yang tidak karuan, dan yang paling menyedihkan, Andi Putra buta huruf. Safira hanya mengenal beberapa abjad dan angka, padahal usianya cocok untuk bersekolah di kelas 4 SD," ungkapnya.

Perubahan anak-anak, tentunya tidak terjadi dalam semalam. Para guru mendampingi mereka siang dan malam, memastikan kebutuhan gizi terpenuhi, sekaligus menumbuhkan semangat belajar dari dalam diri anak-anak itu.

"Kami berikan asupan gizi yang teratur, dan membimbing mereka siang dan malam. Dan yang paling penting, kami membangkitkan motivasi internal mereka. Mereka punya keinginan besar untuk belajar. Mimpi Safira dan Andi Putra adalah menjadi seorang dokter," ujar Edi, disambut tepuk tangan para hadirin.

Tak hanya mereka, potensi anak-anak lain juga mulai bermunculan setelah mendapatkan kesempatan belajar yang layak.

Selama sembilan bulan sepuluh hari, sebanyak 16 siswa Sekolah Rakyat berhasil menorehkan prestasi, mulai dari Juara III Lomba Cerdas Cermat Museum Triad tingkat SD, juara lomba kultum, lomba tari kreasi tingkat provinsi, hingga menjadi finisher lari 5 kilometer.

"Ini adalah bukti bahwa potensi mereka luar biasa, asalkan kita beri mereka kesempatan," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.