BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Badan Pengelola Geopark Meratus yang berada di Banjarbaru melaksanakan kegiatan monitoring keanekaragaman hayati di Situs Goa Batu Hapu, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Tidak lain kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya pemantauan dan pengelolaan kawasan geopark secara berkelanjutan.
Kegiatan ini dilakukan oleh Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, bersama Andry Fredly dari Bidang Publikasi dan Dokumentasi Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, didampingi oleh Subianto dan Hendri selaku pengelola Situs Goa Batu Hapu.
Hasil monitoring awal menunjukkan bahwa Goa Batu Hapu memiliki potensi keanekaragaman kelelawar yang cukup tinggi.
Tim berhasil mengidentifikasi tiga jenis kelelawar yang memanfaatkan kawasan gua sebagai habitat, yaitu Hipposideros larvatus, Taphozous melanopogon, dan Taphozous longimanus.
Baca juga: Ada Pelat Merah dalam Avanza Ringsek di Gunungraja, BPKAD Tanahlaut: Kendaraan Operasional Provinsi
Baca juga: Geger Perampokan di Tajaupecah Tanahlaut Berujung Duel Berdarah, Satu Pelaku Ditangkap Warga
Temuan tersebut semakin memperkuat nilai penting Goa Batu Hapu sebagai situs geopark yang tidak hanya memiliki keunikan geologi, tetapi juga menyimpan kekayaan biodiversitas yang perlu terus dikaji dan dilestarikan.
Meskipun telah ditemukan beberapa jenis kelelawar, hasil monitoring ini masih bersifat awal.
Keterbatasan waktu pengamatan, kondisi aktivitas kelelawar yang dipengaruhi oleh waktu dan musim, serta perlunya metode identifikasi yang lebih mendalam menjadi faktor yang menunjukkan pentingnya dilakukan penelitian lanjutan untuk memperoleh gambaran keanekaragaman kelelawar secara lebih menyeluruh.
Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, Jumat (10/7/2026) menjelaskan, setiap jenis kelelawar yang ditemukan memiliki karakteristik ekologis yang berbeda, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut untuk memahami komposisi spesies, kondisi populasi, pola aktivitas, serta pemanfaatan habitatnya di Goa Batu Hapu.
"Monitoring yang kami lakukan berhasil mengidentifikasi beberapa jenis kelelawar di Situs Goa Batu Hapu, yaitu Hipposideros larvatus, Taphozous melanopogon, dan Taphozous longimanus. Namun, kami menduga masih terdapat jenis lain yang belum teridentifikasi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat diperlukan dengan cakupan waktu pengamatan dan metode yang lebih komprehensif agar keanekaragaman kelelawar di kawasan ini dapat terdokumentasikan secara ilmiah," ujar Ramadhan Jayusman.
Ramadhan menjelaskan bahwa Hipposideros larvatus memiliki ciri khas berupa struktur daun hidung (noseleaf) yang berperan dalam sistem ekolokasi untuk membantu mendeteksi mangsa, terutama serangga, di lingkungan gua maupun kawasan hutan sekitar.
Sementara itu, lanjutnya, Taphozous Melanopogon memiliki karakteristik berupa rambut berwarna gelap menyerupai janggut pada bagian dagu dan tenggorokan, serta dikenal memanfaatkan gua sebagai tempat beristirahat sebelum melakukan aktivitas mencari makan pada malam hari.
Adapun Taphozous Longimanus memiliki bentuk sayap yang relatif panjang yang mendukung kemampuan terbang secara efisien dalam mencari makan dan berpindah habitat.
Menurut Ramadhan, keberadaan ketiga spesies tersebut menjadi indikasi awal bahwa kondisi lingkungan Goa Batu Hapu masih mampu mendukung kehidupan kelelawar.
Namun, diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui apakah terdapat spesies lain, bagaimana struktur komunitasnya, serta bagaimana peran kelelawar dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan.
Geologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Aditya Rathomy, menjelaskan bahwa karakteristik alami Goa Batu Hapu menjadi salah satu faktor yang mendukung keberadaan kelelawar.
Kondisi kelembapan gua yang relatif stabil serta keberadaan ornamen stalaktit dan stalagmit yang masih terjaga menciptakan lingkungan yang sesuai bagi kelelawar untuk beristirahat, berkembang biak, dan menjalankan siklus hidupnya.
"Kawasan Goa Batu Hapu memiliki kondisi lingkungan yang sangat mendukung bagi kehidupan kelelawar. Tingkat kelembapan yang stabil, ditambah keberadaan ornamen stalaktit dan stalagmit yang masih alami dan terjaga, menjadikan gua ini sebagai habitat yang sesuai bagi berbagai jenis kelelawar. Oleh karena itu, kelestarian kondisi gua perlu terus dijaga agar fungsi ekologisnya tetap berlangsung," kata Aditya Rathomy.
Keberadaan kelelawar di Goa Batu Hapu tidak terlepas dari karakteristik kawasan karst yang menjadi bagian penting dari warisan geologi Meratus UNESCO Global Geopark.
Bentang alam karst yang terbentuk pada batu gamping memiliki sistem permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst) yang tidak hanya memiliki nilai geologi, tetapi juga berperan dalam mendukung berbagai fungsi ekologis, termasuk menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati.
Kepala Seksi Warisan Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Sumarmiati, menjelaskan bahwa integrasi warisan geologi ke dalam instrumen perlindungan tata ruang, seperti Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Menurutnya, pada tahun 2024 telah dilakukan inventarisasi dan identifikasi potensi kawasan karst pada batu gamping yang mencakup aspek potensi eksokarst dan endokarst.
Kajian tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung usulan penetapan Kawasan Bentang Alam Karst sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst.
"Integrasi warisan geologi ke dalam instrumen perlindungan tata ruang seperti KBAK menjadi persyaratan penting untuk keberlanjutan pengelolaan kawasan. Inventarisasi dan identifikasi potensi kawasan karst diperlukan untuk mengetahui karakteristik serta nilai penting kawasan, baik dari aspek geologi maupun fungsi ekologisnya," ujar Sumarmiati.
Ia menjelaskan bahwa kawasan bentang alam karst merupakan bagian dari kawasan lindung geologi atau kawasan lindung nasional yang memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Selain memiliki nilai ilmiah dan konservasi, kawasan karst juga berkaitan erat dengan sistem tata air, penyimpanan air tanah, serta keberlangsungan ekosistem yang bergantung pada kondisi alami gua.
Keterkaitan antara perlindungan kawasan karst dan hasil monitoring kelelawar di Goa Batu Hapu menunjukkan bahwa pengelolaan geopark perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan aspek geologi dan biodiversitas.
Perlindungan terhadap kondisi alami gua, termasuk sistem endokarst dan ornamen geologi yang terdapat di dalamnya, menjadi faktor penting dalam menjaga habitat kelelawar serta mempertahankan fungsi ekologis kawasan.
Menanggapi hasil monitoring tersebut, Wakil Ketua Harian Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp), Theodorik Rizal Manik, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan penelitian serta monitoring yang dilakukan di Situs Goa Batu Hapu.
Menurutnya, hasil monitoring awal ini menjadi langkah penting dalam memperkuat basis data ilmiah untuk pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Kami menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada tim yang terlihat yang telah melakukan kajian monitoring kelelawar di kawasan Goa Batu Hapu.
Penelitian ini memiliki arti penting untuk memahami kondisi ekosistem goa dan kawasan karst yang menjadi bagian dari kekayaan alam Meratus UNESCO Global Geopark," ujar Theodorik.
Ia menjelaskan bahwa kelelawar memiliki peran penting dalam ekosistem, antara lain sebagai pengendali populasi serangga, penyebar biji, serta indikator kondisi lingkungan.
Oleh karena itu, data yang diperoleh melalui penelitian lanjutan akan menjadi dasar penting dalam penyusunan rekomendasi pengelolaan kawasan, pengaturan aktivitas wisata, edukasi konservasi, dan perlindungan ekosistem goa.
Menurut Theodorik, Goa Batu Hapu memiliki nilai penting dari aspek geologi, ekologi, pendidikan, konservasi, dan pariwisata.
Pengelolaan kawasan tersebut perlu terus didukung melalui pendekatan berbasis data, penelitian ilmiah, serta kolaborasi multipihak agar pengembangan wisata alam dapat berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan.
(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)