Tawuran, narkoba, kriminalitas, hingga kenakalan remaja masih menjadi stigma yang melekat di wilayah pesisir Kota Medan tersebut.
Namun, di balik pandangan itu, ada sekelompok anak muda yang memilih jalan berbeda. Mereka membangun mimpi di atas panggung, bukan di jalanan.
Salah satunya adalah Rindy Rayani (19), perempuan muda asal Belawan yang kini dipercaya menjadi Ketua Teater Dermaga Belawan.
Bagi Rindy, teater bukan sekadar seni pertunjukan. Panggung menjadi ruang untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap kampung halamannya.
Ketertarikan Rindy terhadap dunia teater sebenarnya sudah tumbuh sejak masih kecil.
Saat itu, ia sempat menyaksikan pertunjukan Teater Dermaga Belawan yang berdiri sejak 10 Oktober 1986.
Meski belum bisa langsung bergabung karena usianya masih belia dan aktivitas komunitas saat itu belum begitu aktif, pertunjukan tersebut meninggalkan kesan yang terus tersimpan dalam ingatannya.
“Sejak kecil sudah tertarik karena pernah nonton teater di Belawan. Waktu itu belum bisa gabung karena masih kecil. Baru pas SMA kelas satu akhirnya masuk Teater Dermaga Belawan,” ujar Rindy kepada Tribun Medan.
Keputusan itu kemudian mengubah jalan hidupnya.
Kini, perempuan kelahiran Belawan, 24 Oktober 2006 tersebut bukan hanya menjadi anggota, tetapi dipercaya memimpin Teater Dermaga Belawan yang selama hampir empat dekade menjadi wadah berkesenian bagi masyarakat pesisir.
Bagi Rindy, keberadaan Teater Dermaga Belawan memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar komunitas seni.
Ia mengatakan, komunitas tersebut lahir di tengah lingkungan yang selama ini kerap dipandang negatif oleh masyarakat luar.
“Belawan sering dianggap tempat kriminal, begal, tawuran, narkoba dan sebagainya. Padahal banyak anak-anak Belawan yang punya potensi di bidang seni dan budaya. Teater hadir menjadi wadah untuk mereka,” katanya.
Sekretariat Teater Dermaga bahkan berada di kawasan yang menurutnya kerap menjadi lokasi tawuran. Situasi itu justru menjadi alasan mengapa komunitas tersebut harus tetap hidup.
Menurut Rindy, anak-anak Belawan memiliki kemampuan belajar yang cepat. Mereka hanya membutuhkan ruang yang tepat agar energi dan kreativitasnya tersalurkan ke arah positif.
Karena itu, Teater Dermaga membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin belajar.
Mulai dari anak usia tujuh tahun hingga orang dewasa bisa bergabung tanpa dipungut biaya.
Bukan hanya belajar akting, mereka juga dikenalkan pada tari, puisi, pantomim hingga teater anak.
“Di teater bukan cuma belajar drama. Karakter juga dibentuk. Anak-anak diajarkan tanggung jawab, kerja sama, dan menghargai orang lain,” ujarnya.
Rindy mengaku, dirinya dulu bukan sosok yang percaya diri. Ia bahkan sangat pemalu ketika harus tampil di depan banyak orang.
Berbicara dengan orang lain pun hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan.
Namun, bertahun-tahun berproses di dunia teater perlahan mengubah kepribadiannya. Ia belajar membaca situasi, memahami emosi orang lain, berpikir lebih kreatif, hingga berani mengambil keputusan.
Perubahan terbesar justru datang ketika ia dipercaya menjadi Ketua Teater Dermaga Belawan.
Posisi tersebut membuatnya harus memikirkan keberlangsungan komunitas, membimbing anggota yang lebih muda, sekaligus memastikan semangat mereka tidak padam.
“Yang paling terasa berubah itu pola pikir dan tingkah laku. Dulu pemalu. Sekarang lebih terbuka, lebih peka sama keadaan, lebih kreatif, dan lebih bertanggung jawab,” katanya.
Belajar Film, Berkarya di Teater
Selain aktif di teater, Rindy juga menekuni dunia perfilman. Ia merupakan lulusan SMKN 13 Medan jurusan Produksi Film dan Program Televisi.
Di sekolah itulah ia mempelajari teknik produksi film selama empat tahun, sementara kemampuan bermain teater diasah langsung di Teater Dermaga Belawan.
Dua dunia tersebut berjalan beriringan. Selepas lulus sekolah, ia bersama tim rutin membuat film pendek di berbagai sekolah menengah pertama.
Saat ini, Rindy juga dipercaya sebagai Sekretaris Komunitas Film Sumatera Utara.
Pengalaman tersebut membawanya meraih sejumlah prestasi, di antaranya menjadi Sutradara Terbaik Festival Film Pelajar 2023, meraih Film Terbaik dalam kegiatan studi banding di Jakarta, hingga Juara III Film FLS2N.
Salah satu film yang paling membekas baginya berjudul Dembas. Film tersebut mengisahkan seorang anak yang memiliki impian menjadi penari meski mengalami sakit pada kakinya dan tidak mendapat dukungan dari keluarganya.
Inspirasi cerita itu lahir dari kegelisahan sederhana yang kemudian dipadukan dengan unsur tari tradisional.
“Idenya datang begitu saja. Ada anak yang ingin menari tetapi kakinya sakit dan dilarang. Dari situ kemudian berkembang menjadi cerita film,” katanya.
Meski telah berkali-kali tampil di berbagai panggung, Rindy memiliki satu pengalaman yang paling sulit dilupakan.
Belum lama ini, Teater Dermaga Belawan berkolaborasi dengan kelompok Teater Tronik Medan dalam sebuah pertunjukan kontemporer absurd berjudul Ibu Air Mata Sungai.
Yang membuat pertunjukan tersebut berbeda adalah panggungnya dibangun tepat di atas sungai.
Menurut Rindy, bermain teater di atas air menghadirkan tantangan baru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Selain harus menyesuaikan pergerakan tubuh dengan kondisi panggung, para pemain juga dituntut tetap menjaga fokus sepanjang pertunjukan.
“Kalau itu pengalaman yang paling berkesan karena benar-benar tantangan baru buat kami,” ujarnya.
Belakangan, Teater Dermaga Belawan juga mulai dikenal melalui pementasan bertema horor.
Setelah mementaskan Doa Penggali Kubur, mereka tengah menyiapkan karya baru berjudul Kuntilanakuntuk dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Utara.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, perjalanan mempertahankan komunitas seni di Belawan tidak pernah mudah.
Sebagai ketua, Rindy harus memastikan anggota tetap bertahan di tengah keterbatasan fasilitas dan pendanaan.
Belum lagi masih adanya orang tua yang awalnya ragu mengizinkan anak mereka mengikuti latihan karena dilakukan pada malam hari.
Teater Dermaga sendiri memiliki jadwal latihan setiap Senin malam dan Jumat malam.
Rindy bersama para senior memilih mendatangi dan berdialog langsung dengan para orang tua.
Lambat laun, kekhawatiran itu berubah menjadi dukungan.
Banyak orang tua justru bersyukur karena anak-anak mereka memiliki lingkungan yang lebih positif dibanding menghabiskan waktu di jalan.
“Tantangannya menjaga konsistensi anak-anak tetap latihan dan mengubah pola pikir remaja supaya memilih kegiatan yang positif. Tapi ketika orang tua melihat perubahan anaknya, mereka akhirnya mendukung,” katanya.
Teater Tak Akan Digantikan AI
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Rindy justru optimistis masa depan teater masih sangat panjang.
Menurutnya, film memang mulai banyak bersinggungan dengan teknologi digital. Namun, teater memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan mesin.
Pertunjukan berlangsung secara langsung. Tidak ada proses potong adegan. Tidak ada kesempatan mengulang kesalahan. Interaksi antara pemain dan penonton hanya terjadi satu kali dalam satu momen.
“Kalau film mungkin bisa dibantu AI. Tapi teater tidak bisa, karena semuanya terjadi langsung di atas panggung. Itu yang membuat teater akan terus berkembang,” katanya.
Ia juga melihat minat masyarakat terhadap teater semakin meningkat. Banyak sekolah kini membuka ekstrakurikuler teater.
Rindy sendiri kini mengajar teater di SMKN 13 Medan.
Menurutnya, masyarakat mulai menyadari bahwa menonton teater menghadirkan pengalaman berbeda dibanding menikmati hiburan melalui layar.
Di balik seluruh aktivitasnya, Rindy masih menyimpan satu mimpi besar. Ia ingin suatu hari nanti Teater Dermaga Belawan mampu menggelar pementasan tunggal berskala besar di kampung halamannya sendiri.
Bukan lagi pertunjukan sederhana dengan fasilitas seadanya atau mengumpulkan biaya dari rumah ke rumah.
Melainkan sebuah pementasan yang benar-benar dipersiapkan secara profesional.
Baginya, mimpi itu bukan semata tentang pertunjukan.
Lebih dari itu, ia ingin masyarakat melihat bahwa Belawan memiliki wajah lain yang selama ini jarang diperlihatkan.
“Harapan saya, kami punya fasilitas dan dana yang cukup untuk membuat pementasan tunggal yang besar di Belawan. Saya juga ingin terus konsisten di dunia teater dan film supaya bisa mengubah paradigma orang tentang Belawan. Bukan hanya dikenal karena sisi buruknya, tetapi juga karena karya-karya seninya,” tutup Rindy.
(cr26/tribun-medan.com)