Jakarta (ANTARA) - Perusahaan konsultan manajemen global Kearney menilai pemerataan literasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan penyediaan energi bersih berskala besar menjadi dua faktor penting yang akan menentukan daya saing ekonomi Indonesia di era AI ke depan.
"Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi," kata Presiden Direktur Kearney Indonesia Shirley Santoso dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut Shirley, negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, kesiapan infrastruktur digital, serta kemampuan mengubah teknologi AI menjadi nilai ekonomi yang nyata.
"Sangat penting bagi organisasi yang menghadapi transformasi digital untuk dapat menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerjanya," tutur dia.
Dalam laporan "How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI", Kearney memetakan 67 perekonomian yang mewakili sekitar 99 persen produk domestik bruto (PDB) dunia ke dalam lima kelompok berdasarkan ukuran ekonomi dan tingkat pendapatan.
Indonesia ditempatkan pada kelompok negara berkembang (developing) sehingga strategi pengembangan dinilai perlu difokuskan pada penguatan talenta, infrastruktur digital, dan penciptaan nilai tambah dalam rantai nilai AI.
Laporan tersebut memperkirakan AI generatif berpotensi menciptakan nilai ekonomi global sebesar 2,6 triliun dolar AS hingga 4,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp79 ribu triliun per tahun melalui penerapan di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, rekayasa perangkat lunak hingga penelitian dan pengembangan.
Partner Kearney sekaligus penulis laporan Tomoo Sato mengatakan AI tidak sekadar menghadirkan gelombang inovasi teknologi, tetapi juga mengubah berbagai asumsi pembangunan ekonomi yang selama ini bertumpu pada keunggulan biaya tenaga kerja, modal, dan infrastruktur fisik.
"Negara yang unggul di era AI bukan lagi yang menawarkan biaya tenaga kerja paling murah, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem untuk menciptakan nilai ekonomi dari AI dalam skala besar," ungkap Sato.
Kearney juga menilai keunggulan berbasis tenaga kerja murah semakin berkurang karena otomatisasi memungkinkan industri menghasilkan output dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.
Di sisi lain, kebutuhan listrik pusat data global diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 415 terawatt-jam (TWh) pada 2024 menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, sehingga ketersediaan energi juga menjadi faktor strategis dalam ekonomi AI.
Laporan tersebut turut mengutip estimasi Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa sekitar 40 persen pekerja di negara berkembang berpotensi terdampak AI sehingga peningkatan keterampilan menjadi kunci menjaga daya saing ekonomi.
Menurut Kearney, peluang Indonesia tidak hanya terletak pada adopsi AI, tetapi juga pada pengembangan layanan digital, infrastruktur data, manufaktur berteknologi tinggi, serta berbagai sektor pendukung dalam rantai nilai AI.
Lebih lanjut, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha dinilai menjadi faktor penentu agar Indonesia mampu mengubah perkembangan AI menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat daya saing nasional di tingkat global.
Sejalan dengan itu, pemerintah tengah menyiapkan Peta Jalan AI Indonesia sebagai acuan pengembangan dan pemanfaatan AI nasional, yang mencakup penguatan talenta digital, infrastruktur komputasi, tata kelola, hingga ekosistem inovasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria telah menyatakan pada Februari 2026 tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen.
Menurut dia, tingginya tingkat adopsi tersebut perlu diikuti peningkatan kapasitas nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain dalam pengembangan teknologi AI.
Pemerintah juga menilai Indonesia memiliki peluang memperkuat posisi dalam rantai pasok AI global melalui pengembangan industri semikonduktor yang didukung sumber daya mineral strategis, seperti nikel, kobalt, timah, pasir silika, dan seng.
Di bidang sumber daya manusia, pemerintah memproyeksikan kebutuhan 12 juta talenta digital pada 2030. Saat ini tersedia sekitar 9,3 juta talenta, sehingga masih terdapat kesenjangan sekitar 3 juta talenta yang antara lain akan diatasi melalui pengembangan AI Talent Factory.
Pemerintah mengembangkan AI Talent Factory sebagai pusat pengembangan talenta digital berbasis riset dan industri untuk mendukung kebutuhan berbagai sektor prioritas, termasuk kesehatan, pendidikan, keuangan, dan pertanian.




