Menengok Koperasi Kelurahan Merah Putih Sekeloa di Bandung, Layani Sembako hingga Jadi Etalase UMKM
Muhamad Syarif Abdussalam July 10, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tak lagi sekadar identik dengan simpan pinjam, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sekeloa mengembangkan berbagai layanan untuk masyarakat, mulai dari penjualan sembako, pembayaran tagihan hingga menjadi etalase produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua KKMP Sekeloa, Ahmad mengatakan, pada awalnya masih banyak masyarakat yang menganggap koperasi hanya sebagai tempat meminjam uang. Padahal, salah satu tujuan Koperasi Merah Putih adalah menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

"Pasti yang ditanyakan pertama itu pinjaman. Padahal program dari pemerintah bukan hanya pinjaman. Salah satunya penyediaan sembako supaya masyarakat bisa membeli dengan harga lebih murah," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Jumat (10/7/2026). 

Menurutnya, koperasi tidak hanya melayani simpan pinjam. 

Saat ini masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok, membayar BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, pembayaran listrik, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga layanan Payment Point Online Bank (PPOB) yang bekerja sama dengan PosPay.

"Di Koperasi Merah Putih Sekeloa ini yang hari ini bisa diakses itu sembako, pelayanan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, kemudian pembayaran PPOB atau pembayaran listrik dan PBB," ujarnya.

Dia menuturkan, untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, KKMP Sekeloa juga membentuk koordinator di setiap RW. 

Warga dapat melakukan pembayaran maupun menabung melalui koordinator tersebut tanpa harus datang ke kantor koperasi.

"Satu RW punya koordinator. Kalau mau nabung daripada jauh ke kelurahan bisa ke koordinator RW. Kalau mau bayar listrik juga bisa di koordinator RW," katanya.

Selain menyediakan layanan tersebut, KKMP Sekeloa juga menjadi wadah pemasaran bagi pelaku UMKM di Kelurahan Sekeloa. 

Produk yang dipasarkan antara lain jahe, keripik tempe, dan berbagai produk lokal lainnya.

Menurut Ahmad, sebagian besar UMKM sebenarnya telah memiliki usaha. Kehadiran koperasi membantu memperluas akses pemasaran produk mereka.

"Kebanyakan sudah berjalan. Yang sulit itu akses pemasarannya. Masyarakat bikin produk tapi tidak ada akses untuk menjualnya. Sekarang bisa dipasarkan lewat koperasi," katanya.

Pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi juga difasilitasi mengikuti pasar atau bazar tingkat kelurahan maupun kecamatan dengan penyediaan stan secara gratis. 

Dia menuturkan, koperasi yang dipimpinnya menjadi salah satu Koperasi Merah Putih yang lebih awal berdiri di Kota Bandung. 

Koperasi tersebut resmi berdiri pada 25 Mei 2025 dengan akta notaris sebelum mulai beroperasi pada Oktober.

Dikatakan Ahmad, dalam tiga bulan pertama hingga Desember, koperasi tersebut berhasil membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) lebih dari Rp6 juta.

"Kita itu berdiri se-Kota Bandung yang kedua. Tanggal 25 Mei sudah berdiri, ada akta resmi dari notaris. Kemudian mulai berjalan Oktober. Alhamdulillah tiga bulan berjalan sampai Desember punya SHU sekitar Rp6 juta sekian," kata Ahmad. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.