Industri Sawit Modern Butuh AI dan Kolaborasi Lintas Sektor Hadapi Tantangan Global
Erik S July 10, 2026 10:35 PM

TRIBUNNEWS.COM, PELALAWAN – Pemerintah Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau mengatakan Pelalawan merupakan daerah yang memiliki potensi besar di sektor perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu, daerah Pelalawan membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing di tingkat global.

Asisten III Setdakab Pelalawan Mayhendri menyampaikan mengatakan industri sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari isu lingkungan, tuntutan pasar internasional, hingga perkembangan teknologi yang begitu cepat. Karena itu, transformasi industri melalui inovasi dan keberlanjutan menjadi sebuah keharusan.

"Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit, memperluas lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjual bahan baku, tetapi harus mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi," kata Mayhendri saat Temu Ilmiah III dalam rangka Dies Natalis ke-10 Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) dengan mengusung tema 'Advancing the Palm Oil Industry: Smart and Sustainable Technologies for Downstream Innovation and Industrial Challenges'  di Auditorium Lantai III Kantor Bupati Pelalawan, Riau, Rabu (8/7/2026).

Mayhendri juga menegaskan bahwa pengembangan industri sawit modern harus didukung penerapan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta sistem pertanian cerdas untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri.

Selain itu, ia menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam membangun ekosistem industri sawit yang tangguh. Perguruan tinggi, katanya, memiliki peran strategis sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan industri.

Pada forum ilmiah tersebut, berbagai isu strategis industri sawit juga menjadi pembahasan utama. Di antaranya keberlanjutan dan legalitas perkebunan, mulai dari tata kelola lahan yang sesuai aturan, penerapan sertifikasi keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), ketertelusuran (traceability) produk sawit, hingga penguatan legalitas UMKM berbasis komoditas perkebunan.

Para peserta juga menyoroti pentingnya pengembangan kawasan perkebunan yang memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan agar industri sawit Indonesia semakin diterima di pasar global.

Selain itu, forum ini menekankan pentingnya memperluas manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat melalui hilirisasi industri. Sawit dinilai tidak hanya sebagai penghasil devisa negara dan penyerap tenaga kerja, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi daerah, peningkatan kesejahteraan petani, serta menjadi media edukasi bagi generasi muda mengenai manfaat dan inovasi produk turunan kelapa sawit.

Aspek lain yang turut mendapat perhatian adalah peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendukung pembangunan sektor perkebunan. Melalui pendanaan riset, pengembangan sumber daya manusia, promosi, peremajaan perkebunan, penyediaan sarana dan prasarana, hingga dukungan terhadap hilirisasi industri, BPDP dinilai memiliki peran strategis dalam mempercepat transformasi industri sawit nasional menuju industri yang modern, inovatif, dan berkelanjutan.

Menutup sambutannya, Mayhendri berharap Temu Ilmiah III ITP2I mampu melahirkan berbagai rekomendasi, inovasi, dan kerja sama nyata yang dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia.

"Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat, kita optimistis dapat mewujudkan industri kelapa sawit Indonesia yang modern, berdaya saing tinggi, serta tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan," pungkasnya.

Tingkaskan Kualitas SDM

Kegiatan tersebut menjadi ajang bertemunya para akademisi, peneliti, pemerintah, dan praktisi industri sawit dari dalam maupun luar negeri untuk membahas berbagai strategi memperkuat daya saing industri kelapa sawit Indonesia melalui inovasi, hilirisasi, dan pengelolaan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor ITP2I Prof Tengku Dahril mengatakan, selama enam tahun berdiri, ITP2I terus menunjukkan perkembangan yang signifikan sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan ilmu dan teknologi perkebunan.

Ia menyebutkan hingga saat ini ITP2I telah meluluskan 192 alumni yang telah berkiprah di berbagai sektor industri perkebunan. Selain itu, sebanyak 628 mahasiswa tengah menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Daya Saing, GAPKI Perkuat Inovasi dan Efisiensi Industri Sawit

"Kami terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ke depan seluruh dosen ITP2I ditargetkan memiliki kualifikasi doktor sehingga mampu menghasilkan riset dan inovasi yang memberikan solusi bagi pengembangan industri perkebunan, khususnya kelapa sawit," ujarnya.

Menurutnya, Temu Ilmiah III menjadi wadah penting mempertemukan berbagai pemikiran dan hasil penelitian dari para akademisi dunia dalam menghadapi dinamika industri sawit yang semakin kompleks.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Yayasan Amanah Pelalawan Tengku Zulmizan, serta para narasumber internasional, yakni Assoc. Prof. Potjamarn Suraninpong dari Walailak University Thailand, Prof. Ir. Hariyadi, M.S. dari IPB University, Prof. Khairur Rizal dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), serta Sariadi Sipayung senior estate manager Wilmar Afrika yang bertugas di Nigeria. 

Sesi pertama menghadirkan narasumber internasional, yakni Assoc. Prof. Potjamarn Suraninpong dari Walailak University, Thailand, dan Prof. Ir. Hariyadi, M.S. dari IPB University. Sementara itu, sesi kedua dipandu oleh Salmiyati, M.Pd., Ph.D. sebagai moderator dengan menghadirkan Prof. Khairur Rizal dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) serta akademisi Sariadi Sipayung dari Senior Estate Manager di Nigeria.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.