TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Diet rendah karbohidrat, intermittent fasting, hingga pola makan yang dipopulerkan influencer di media sosial semakin mudah diikuti masyarakat.
Tidak sedikit orang tergoda mencoba metode yang sedang viral karena melihat orang lain berhasil menurunkan berat badan dalam waktu singkat.
Sayangnya, hasil yang diperoleh sering kali berbeda. Ada yang berhasil, tetapi tidak sedikit pula yang justru merasa berat badan tidak berubah meski sudah menjalani pola makan yang sama.
Baca juga: 13 Makanan Rendah Kalori yang Lezat dan Cocok untuk Diet
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Yaze, Sp.GK, mengatakan kondisi tersebut bukan berarti seseorang kurang disiplin menjalankan diet.
Menurutnya, salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap satu pola makan bisa cocok untuk semua orang.
Dr. Yaze mengatakan setiap orang memiliki metabolisme dan karakter tubuh yang berbeda.
Karena itu, keberhasilan diet seseorang tidak bisa dijadikan patokan bahwa metode yang sama pasti efektif untuk orang lain.
"Nah itu sebenarnya adalah asumsi yang salah. Karena kan tiap orang punya metabolisme yang enggak sama. Ibaratnya kayak ukuran sepatu nih, jadi enggak semua orang akan muat atau nyaman pakai ukuran sepatu yang sama gitu," ungkapnya pada live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, memang ada prinsip gizi yang berlaku umum, seperti mengurangi konsumsi makanan manis.
Namun ketika berbicara mengenai pengaturan pola makan secara lebih spesifik, kebutuhan setiap orang bisa berbeda.
Perbedaan tersebut dipengaruhi banyak faktor, termasuk cara tubuh memproses makanan yang berkaitan dengan faktor genetik.
Karena itu, seseorang tidak bisa hanya meniru menu makan milik orang lain tanpa mengetahui bagaimana tubuhnya sendiri merespons makanan tersebut.
Menurut dr. Yaze, dalam praktiknya ia cukup sering menjumpai pasien yang sudah mencoba berbagai jenis diet tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Mulai dari diet rendah karbohidrat, intermittent fasting, hingga berbagai metode lain yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Tujuan akhirnya mungkin sama, tetapi titik awal perjalanan, kondisi jalan, hingga kendaraan yang digunakan berbeda sehingga rute yang ditempuh juga tidak bisa disamakan.
"Jadi kita menjalani diet viral itu, belum tentu memang cocok sama tubuh sendiri, karena ya Maps-nya tadi itu ternyata Maps-nya orang lain, bukan Maps yang dipakai khusus untuk diri kita gitu,"imbuhnya.
Menurutnya, hal serupa juga berlaku pada pola makan.
Diet yang berhasil menurunkan berat badan pada satu orang belum tentu sesuai dengan kondisi biologis orang lain.
Akibatnya, seseorang bisa merasa sudah berusaha keras, tetapi berat badan tetap tidak berubah karena strategi yang digunakan memang bukan yang paling sesuai untuk tubuhnya.
Dr. Yaze menjelaskan, keberhasilan menurunkan berat badan tidak hanya bergantung pada jumlah makanan yang dikonsumsi.
Ada berbagai faktor lain yang juga berperan, mulai dari kualitas tidur, tingkat stres, kondisi hormonal hingga aktivitas fisik sehari-hari.
Karena itu, ketika seseorang merasa dietnya tidak berhasil, penyebabnya tidak selalu berasal dari pola makan.
Dalam praktik sehari-hari, ia mengaku cukup sering menerima pasien yang mengeluh sudah makan sedikit, tetapi berat badan tetap sulit turun.
Pada kondisi seperti itu, dokter akan mencari faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab sebelum menentukan pendekatan yang tepat.
Jika diperlukan, pasien dapat menjalani pemeriksaan nutrigenomik agar diketahui bagaimana tubuhnya merespons berbagai jenis makanan berdasarkan karakter genetik yang dimiliki.
Maraknya konten diet di media sosial membuat masyarakat semakin mudah memperoleh berbagai informasi mengenai cara menurunkan berat badan.
Namun, dr. Yaze mengingatkan bahwa informasi tersebut sebaiknya tidak langsung dijadikan acuan tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing.
Menurutnya, tujuan utama diet bukan sekadar mengikuti tren, melainkan mendapatkan pola makan yang aman dan dapat dijalankan dalam jangka panjang.
Ia menilai, pertanyaan yang seharusnya diajukan masyarakat saat ini bukan lagi diet apa yang paling populer, tetapi metode mana yang paling sesuai dengan kebutuhan tubuhnya sendiri.
Dengan cara tersebut, hasil yang diperoleh akan lebih realistis sekaligus lebih mudah dipertahankan.