SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 lalu membuat banyak pengendara beralih menggunakan BBM subsidi jenis Pertalite.
Peralihan tersebut berdampak pada meningkatnya antrean di sejumlah SPBU serta membuat stok Pertalite lebih cepat habis dibandingkan hari-hari biasanya.
Seperti yang terjadi di SPBU Kenten, Palembang, pada Jumat (10/7/2026) sore, stok Pertalite habis sehingga yang tersedia hanya BBM jenis Pertamax.
Kondisi tersebut dipastikan oleh pihak pengelola SPBU yang memasang pengumuman di bagian depan sebagai informasi kepada konsumen bahwa Pertalite sedang kosong.
Akibat stok Pertalite habis, suasana SPBU yang biasanya dipadati antrean sepi, tidak terlihat antrean kendaraan maupun konsumen yang hendak mengisi Pertalite, sementara pengisian BBM hanya dapat dilakukan untuk jenis Pertamax yang masih tersedia.
Begitu juga solar hanya tersedia malam hari ini saja baru boleh kendaraan mengisi solar.
Turunnya harga Pertamax Turbo (RON 98) per 1 Juli lalu menjadi Rp 19.750 per liter dari semula Rp 21.200 per liter atau turun Rp1.450 per liter belum berdampak turunnya antrean minat masyarakat membeli BBM subsidi, sebab turunnya harga BBM tersebut dinilai masih terlalu kecil.
Apalagi harga BBM Pertamax RON 92 harganya masih sama yakni Rp 16.650 per liter untuk di SPBU dan Rp 15.550 per liter di Pertashop.
Di hampir setiap SPBU terlihat antrean panjang kendaraan yang akan membeli Pertalite baik antrean jalur motor dan mobil.
"Lumayan selisih harganya beli Pertamax sebab setiap hari pergi kerja jaraknya jauh, jadi pilih isi Pertalite pagi hari antre sebelum SPBU buka agar lebih cepat dapat BBM dan juga lebih dingin," ujar Wati, salah satu konsumen Pertalite.
Sementara itu Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi belum memberikan keterangan saat dikonfirmasi mengenai mengapa stok BBM banyak kosong di SPBU.