TRIBUN-MEDAN.com - Harga telur di Kota Medan mengalami kenaikan. Kenaikan ini sudah terjadi selama sepekan.
Masyarakat yang membeli telur dengan harga 5.000 hanya mendapatkan dua butir.
Setelah sebelumnya harga telur sempat turun Rp 50 ribu per papan, kini harga nya naik lagi sehingga membuat warga lebih memilih membeli telur pecah.
Bahkan seorang warga mengaku kini hanya mendapat 2 butir jika membeli Rp 5 ribu, padahal biasanya dirinya bisa mendapat 3 butir.
Sementara itu pantauan Tribun-medan.com di Pasar Tradisional Pringgan Medan, harga telur kini dijual mulai dari Rp 1.400 hingga Rp 2.000 per butir, tergantung ukuran.
Sementara telur retak atau pecah yang masih layak konsumsi dijual sekitar Rp 1.000 per butir, Jumat (10/7/2026).
Salah seorang pedagang telur di Pasar Pringgan, Poppy (30), mengatakan harga telur mulai merangkak naik setelah sempat mengalami penurunan sekitar Rp 50 per butir pada pekan lalu.
“Seminggu lalu sempat turun sekitar Rp 50 per butir. Sekarang mulai naik lagi. Harga telur dijual mulai Rp 1.400 sampai Rp 2.000 per butir, tergantung ukuran,” ujarnya.
Baca juga: Waspadai Serangan Balik Koruptor, Ketua ILAJ: Era Prabowo Buat Mafia Menderita, Jangan Terpecah
Baca juga: KLARIFIKASI Petugas SPBU di Batubara yang Isi BBM ke Jerigen Saat Antrean Panjang: Ada Suratnya
Poppy yang telah berjualan telur selama dua tahun itu mengaku memperoleh pasokan langsung dari kandang atau peternak. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 30 papan telur.
Kenaikan harga juga dirasakan konsumen. Hera Wati mengatakan kini sudah sulit menemukan telur dengan harga Rp 1.000 per butir seperti beberapa waktu lalu.
“Harga telur sekarang sudah enggak kayak dulu, Rp 1.000 masih dapat. Sekarang sudah enggak ada lagi,” katanya.
Menurut Hera, telur ukuran paling kecil yang dijual di warung kini dibanderol sekitar Rp 1.500 per butir. Padahal, pada pekan lalu harganya masih sekitar Rp 1.300 per butir.
“Kalau telur yang sedang, yang banyak dijual di kedai, sekarang juga sudah naik. Biasanya uang Rp 5.000 bisa dapat tiga butir, sekarang cuma dua butir,” ujarnya.
Untuk menghemat pengeluaran, Hera memilih membeli telur yang cangkangnya retak atau pecah karena harganya lebih murah.
“Makanya saya milih beli telur yang kondisinya rusak, pecah begini. Lebih murah. Tapi jangan salah, isinya masih bagus kok,” katanya.
Ia mengaku hampir setiap hari membeli sekitar 20 butir telur retak untuk kebutuhan jualan makanan.
“Saya kalau beli setiap harinya bisa 20 telur rusak begini untuk jualan. Kadang pekerja di sini minta dibuatkan Indomie telur atau telur dadar goreng,” ujarnya.
Menurut Hera, alasan memilih telur retak bukan hanya karena lebih murah, tetapi juga karena ukurannya umumnya lebih besar.
“Pertama karena ukurannya besar, isinya juga masih bagus. Cuma cangkangnya saja yang pecah atau retak karena tipis, jadi rentan,” katanya.
Ia menjelaskan telur tersebut merupakan telur yang tidak dipasarkan di warung atau minimarket karena kondisi cangkangnya tidak sempurna.
“Biasanya telur buangan. Saya belinya dari pedagang telur, dia ambil dari agen. Agennya mungkin dapat dari peternak langsung lalu dipilah mana yang masih layak konsumsi,” ujarnya.
Meski demikian, harga telur retak juga ikut naik.
“Minggu lalu masih Rp 1.500 per butir, sekarang sudah Rp 1.700. Padahal kalau kulitnya bagus, ukuran sebesar ini bisa dijual lebih dari Rp 2.000 per butir,” katanya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menetapkan harga acuan telur ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp 24.000 per kilogram.
Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 15 Juli 2026 bersamaan dengan penetapan harga ayam hidup (live bird) sebesar Rp 19.500 per kilogram.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan penetapan harga tersebut merupakan hasil rembuk perunggasan yang melibatkan pemerintah, asosiasi peternak, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kebijakan itu diambil sebagai upaya menjaga harga di tingkat peternak agar tidak berada di bawah biaya pokok produksi, sekaligus tetap mengendalikan harga di tingkat konsumen.
Beras Premium Sulit Ditemukan dan Harga Ikut Naik, Gubsu Bobby: Kita Koordinasi dengan Bulog
Disisi lain sebelumnya, Beras premium di sejumlah retail modern sulit ditemukan sejak beberapa hari belakangan
Pantauan Tribun,Kamis (9/7/2026). Beras di retail modern Jalan Simalingkar, Medan Tuntungan kosong. Bukan hanya di sana, tetapi retail di area jalan Medan Baru, juga kosong.
Menurut karyawan retail di Jalan Simalingkar, Anggi Siregar mengatakan, beras premium sudah beberapa hari belakangan kosong.
Ia pun belum bisa memastikan, kapan stok beras premium akan kembali ada di retail tersebut.
"Kosong, sudah beberapa hari ini beras premium stoknya kosong. Enggak tahu pasti, kapan barang (beras premium) ada lagi," ucapnya, Kamis (9/7/2026).
Sementara itu, Tribun Medan juga coba mendatangi sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Simalingkar.
Di sana, stok beras non premium terlihat cukup banyak. Hanya saja, memang harga beras non premium naik signifikan.
"Beras merek Rose harganya naik, dari Rp 75 ribu jadi Rp 85 ribu. Beras merek AA kosong ya. Sekarang harga beras naik, lagi sulit pemasokan beras beberapa waktu belakangan," tuturnya.
Menanggapi itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution merespon singkat permasalahan tersebut.
Dikatakannya, ia akan berkoordinasi dengan pihak Bulog, untuk memastikan permasalahan yang ada.
"Nanti kita koordinasi dengan Bulog karena memang semua beras dari sana. Nanti kita koordinasi dengan Bulog terlebih dahulu," jelasnya.
(cr26/tribun-medan.com)