BANJARMASINPOST.CO.ID - Musim kemarau belum mencapai puncak, tetapi sejumlah wilayah mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi krisis air yang meluas ini sebagaimana tergambar di Kabupaten Banjar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan distribusi air bersih sudah mulai mereka lakukan. Pada 23 Juni lalu, BPBD mengirim tiga tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter ke Pondok Pesantren Takhasush Diniyah di Desa Kampung Baru, Kecamatan Beruntung Baru.
Kemudian Sabtu (4/7) BPBD juga menggeser lima unit tandon air ke Desa Pingaran Ulu, Martapura, sebagai persiapan pendistribusian air bersih. “Setelah instalasi tandon dan kran selesai, kami langsung melakukan dropping air bersih menggunakan truk tangki,” jelas Wasis.
Tercatat BPBD Banjar melalui Pusdalop Banjar aktif menyalurkan air bersih ke delapan desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Astambul, Beruntung Baru, Karangintan, Martapura, dan Martapura Barat. Total BPBD sudah menyalurkan 139.400 liter air bersih ke warga.
Baca juga: Percepat Penurunan Stunting, 17 Perusahaan di Tabalong Dilibatkan dalam Program Orang Tua Asuh
Kondisi kemarau ini diperparah lagi dengan pencemaran aliran Sungai Riam Kanan hingga Sungai Martapura yang ditandai fenomena ikan mati massal.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Banjar, M Hasbie, Jumat (10/7) mengatakan pendistribusian air bersih kepada masyarakat telah dilakukan sejak 17 Juni dan masih terus berlanjut sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, bantuan diberikan karena banyak warga mengajukan permohonan air bersih maupun tandon akibat sumur mereka mengering selama musim kemarau.
“Memasuki 9 Juli lalu kondisi semakin berat karena terjadi pencemaran dari bangkai ikan di aliran Sungai Riam Kanan hingga Sungai Martapura yang menyebabkan masyarakat di sekitar bantaran sungai juga kesulitan memperoleh air bersih,” ujarnya.
Hasbie menjelaskan wilayah yang terdampak pencemaran meliputi Desa Malimali, Pingaran Ulu, Pingaran Ilir, Tambak Baru Ulu, Tambak Baru Ilir, Tambak Baru hingga meluas ke Desa Teluk Selong Ulu dan Sungai Kitano.
Penyaluran bantuan dilakukan secara kolaboratif bersama relawan BPK yang tergabung dalam Buser 690 Banjar, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), DPRKPLH Banjar, serta PMI Kabupaten Banjar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar, Agus Siswanto menambahkan pendistribusian air bersih dilakukan secara kolaboratif bersama BPBD Kabupaten Banjar dan PT Air Minum Intan Banjar (Perseroda). BPBD menyiapkan tandon air, sedangkan DPKP membantu proses pengisian serta pendistribusian pada warga.
Masih di Kabupaten Banjar, krisis air bersih juga terjadi di wilayah arah pesisir, misal di Aluhaluh, Tatah Makmur dan Beruntung Baru.
Penanganan air bersih di kawasan ini, diantisipasi dengan program Empaty. Program ini dilakukan PT Air Minum (PT AM) Intan Banjar, guna menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki kepada pelanggan dan masyarakat yang membutuhkan.
Kepala Cabang II PT AM Intan Banjar yang membawahi enam kecamatan, Alimuddin, menegaskan jika program tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air bersih, khususnya saat terjadi gangguan distribusi, musim kemarau, maupun kondisi darurat lainnya.
Selain membantu masyarakat dalam jangka pendek melalui distribusi air bersih, PT AM Intan Banjar juga menyiapkan langkah jangka panjang untuk memperkuat layanan air minum.
Salah satunya melalui pembangunan instalasi pengolahan air di kawasan Sungaitabuk yang saat ini progresnya telah mencapai sekitar 60 hingga 70 persen.
Pembangunan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di wilayah Tatah Belayung, Pemangkih Laut, dan Tatah Layap yang mencakup dua kecamatan, yakni Kecamatan Beruntung Baru dan Kecamatan Tatah Makmur.
Sementara di Banjarmasin meski belum ada wilayah yang mengalami krisi air bersih, sebagai langkah antisipasi PT Air Minum (PAM) Bandarmasih melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas air baku menghadapi potensi intrusi air laut. PAM melakukan pengecekan proses pengolahan air secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Direktur PAM Bandarmasih, Zulbadi menjelaskan titik yang saat ini rawan terdampak adalah Intake Sungai Bilu. Ia menjelaskan, penurunan debit air sungai selama musim kemarau menjadi pemicu utama air laut atau air dari muara merembes masuk ke aliran sungai.
“Apabila debit sungai makin menurun, maka ada potensi dari muara atau air laut itu masuk ke sungai, sehingga berpotensi akan terjadinya asin di daerah Intake Sungai Bilu,” paparnya.
Dibeberkannya, pada Kamis (9/7), tepatnya saat terjadi pasang puncak sekitar pukul 13.00 Wita, kadar garam di Intake Sungai Bilu dilaporkan masih berada dalam kondisi aman. Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan pada jam puncak tersebut, kadar garam yang terbaca hanya berkisar di angka 15 PPM.
Angka ini dipastikan jauh di bawah batas maksimal yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) untuk kelayakan air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat yaitu 250 PPM. (banjarmasinpost.co.id/nurholis huda/mariana)