TRIBUNNEWS.COM - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendadak mengalami penurunan kondisi kesehatan saat menjalankan tugas kedinasan pada Jumat (10/7/2026).
Akibat kondisinya yang melemah, Farhan harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans dan menjalani pemeriksaan intensif oleh tim medis.
Baca juga: Mendadak Lemas, Wali Kota Bandung Farhan Batal Hadiri Rapat Paripurna
Peristiwa tersebut terjadi setelah Farhan menerima tamu di Balai Kota Bandung.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, Henryco Arie Sapiie, membenarkan bahwa sang wali kota mulai mengeluhkan kondisi tubuhnya usai agenda tersebut.
"Pak Wali sedang menerima tamu, beliau baru mulai terasa tidak sehat," kata Henryco dikutip dari pernyataannya di Tribun Jabar (Tribunnews.com Network).
Karena kondisi kesehatannya menurun, Farhan tidak dapat menghadiri rapat paripurna DPRD Kota Bandung yang telah dijadwalkan.
Awalnya, ia masih berencana mengikuti agenda paripurna berikutnya, namun kondisinya terus memburuk sehingga harus segera mendapat penanganan medis.
Selain rapat paripurna, Farhan juga dijadwalkan memberikan sambutan dalam Gala Dinner Asia Africa Festival 2026 di Plaza Balai Kota Bandung. Seluruh agenda tersebut akhirnya didelegasikan kepada perangkat daerah agar roda pemerintahan tetap berjalan.
Hingga kini, penyebab pasti kondisi yang dialami Farhan masih belum diketahui.
Di tengah kabar mengenai kondisi kesehatannya saat ini, publik kembali mengingat pengalaman Farhan pada November 2008 ketika ia sempat mengalami Transient Ischemic Attack (TIA) atau serangan iskemik sementara, yang sering disebut sebagai "nyaris stroke".
Saat itu, Farhan mengalami pusing hebat ketika berada dalam penerbangan dari Jakarta menuju Surabaya.
Ia mengaku merasakan kepala sangat berat, sebagian wajah terasa baal, serta sempat mengalami gangguan penglihatan pada mata kirinya.
Hasil pemeriksaan dokter kala itu menyatakan bahwa Farhan mengalami sumbatan sementara pada pembuluh darah di otak. Kondisi tersebut tidak berkembang menjadi stroke karena aliran darah kembali normal dalam waktu singkat.
"Untung hanya sejenak. Kalau lebih lama, saya bisa benar-benar terkena stroke," ujar Farhan saat menceritakan pengalamannya pada 2008 silam.
Setelah menjalani observasi dan mendapatkan terapi, Farhan tidak perlu dirawat inap dan diperbolehkan pulang.
Meski Farhan memiliki riwayat TIA hampir dua dekade lalu, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari tim dokter yang menyatakan bahwa kondisi kesehatan yang dialaminya pada Jumat (10/7/2026) berkaitan dengan riwayat tersebut.
Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa diagnosis masih menunggu hasil pemeriksaan medis. Karena itu, berbagai spekulasi mengenai penyebab sakit yang dialami Farhan belum dapat dipastikan.
Menurut Henryco, tim dokter masih melakukan pemeriksaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Pihak Pemkot Bandung memilih tidak mengungkap rumah sakit tempat Farhan dirawat demi menjaga privasi dan memberikan kesempatan bagi wali kota untuk beristirahat.
"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Belum bisa dipastikan apakah beliau harus menjalani rawat inap atau cukup beristirahat, semuanya bergantung pada keputusan tim medis," ujarnya.
(Tribunnews.com/TribunJabar)