Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Direktur Utama Saung Angklung Udjo, Taufik Udjo, menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya mempertahankan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Menurutnya, mengenai gagasan menjadikan kawasan Asia Afrika di Kota Bandung sebagai kawasan warisan budaya, harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap hidup dan memiliki ekosistem yang kuat.
Taufik menegaskan bahwa pengalaman panjang angklung menjadi contoh bagaimana sebuah warisan budaya bisa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
“Budaya atau tradisi itu terus berkembang. Jadi kita juga jangan sampai terjebak pada benar-benar tradisi tetapi ekosistemnya tidak dibentuk,” kata Taufik saat ditemui di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar dalam melestarikan budaya adalah memastikan warisan tersebut tetap relevan dengan kondisi saat ini.
Oleh karena itu, angklung harus mampu mengadaptasi berbagai perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Ia menjelaskan perjalanan angklung telah mengalami transformasi panjang selama ratusan tahun. Pada awalnya, angklung merupakan bagian dari ritual masyarakat agraris Sunda.
Taufik menceritakan, di sejumlah daerah seperti Kampung Baduy, angklung dimainkan dalam upacara sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa agar tanaman padi tumbuh subur. Tradisi tersebut berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan.
“Konon katanya Dewi Sri turun ke bumi menikmati musik angklung sehingga padinya tumbuh subur. Itu yang dikenal sebagai Angklung Gubrag,” ujarnya.
Memasuki periode berikutnya, fungsi angklung berkembang menjadi alat yang mampu membangun semangat kebersamaan masyarakat.
Permainan angklung yang dilakukan secara massal dinilai mampu menumbuhkan gotong royong, solidaritas, hingga semangat perjuangan.
Menurut Taufik, kekuatan tersebut bahkan sempat membuat pemerintah kolonial Belanda khawatir.
“Karena dimainkan bersama-sama, muncul semangat kebersamaan. Saat itu Belanda khawatir sehingga angklung sempat dilarang dimainkan secara luas dan hanya boleh dimainkan oleh pengemis atau dalam tradisi kecil,” katanya.
Perubahan besar terjadi ketika maestro angklung Daeng Soetigna mulai mengembangkan alat musik bambu tersebut.
Daeng melakukan modifikasi terhadap nada angklung dari sistem tradisional menjadi diatonis dan kromatis sehingga dapat memainkan berbagai jenis lagu layaknya piano.
Inovasi tersebut kemudian membawa angklung masuk ke dunia pendidikan.
“Pak Daeng melakukan tuning dan modifikasi larasnya menjadi diatonis, kromatis seperti piano. Setelah itu angklung dibawa ke sekolah-sekolah dan menjadi alat pendidikan sekaligus alat diplomasi,” jelasnya.
Perjalanan itu kemudian dilanjutkan oleh almarhum Udjo Ngalagena atau Pak Udjo, murid Daeng Soetigna sekaligus pendiri Saung Angklung Udjo.
Selain memperkuat fungsi edukasi, Pak Udjo juga mengembangkan angklung menjadi atraksi budaya yang mendukung industri pariwisata.
“Pak Udjo mengembangkan angklung bukan hanya untuk edukasi tetapi juga menjadi bagian dari industri pariwisata,” ujar Taufik.
Ia menilai sejarah tersebut memiliki kaitan erat dengan semangat Konferensi Asia Afrika yang lahir di Bandung.
Sejak dahulu, angklung telah digunakan sebagai media diplomasi budaya yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan bahasa maupun latar belakang.
Menurutnya, setiap orang yang memainkan angklung akan saling bergantung satu sama lain untuk menghasilkan harmoni. Nilai itulah yang mencerminkan semangat persatuan dan kerja sama.
“Dulu angklung menjadi alat diplomasi. Bagaimana para kepala negara menjadi satu kesatuan ketika memainkan angklung bersama-sama,” katanya.
Taufik mengatakan, fungsi diplomasi budaya tersebut terus dijalankan oleh Saung Angklung Udjo hingga sekarang. Dalam berbagai kesempatan, tim Saung Angklung Udjo rutin membawa pertunjukan angklung ke berbagai negara untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada masyarakat internasional.
“Kami hampir setiap bulan membawa angklung ke berbagai negara. Dulu juga pernah tampil di Swedia dalam kegiatan untuk memperkenalkan budaya Sunda,” ujarnya.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sendiri. Budaya harus terus dibawa ke ruang-ruang baru agar dikenal, dipelajari, dan dinikmati masyarakat dunia.
Taufik mendukung berbagai upaya yang mendorong budaya menjadi bagian dari diplomasi internasional, termasuk penguatan kawasan bersejarah Asia Afrika sebagai ruang yang menghidupkan kembali nilai-nilai Bandung Spirit.