SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Pihak kepolisian membeberkan sejumlah kendala utama yang menyebabkan Erlan, terduga pembunuh Ruly Yunis Setiawati (50) selaku Sekretaris Dinas PRKP Bangkalan, belum juga tertangkap setelah 16 hari buron.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, mengungkapkan polisi kesulitan melacak pelaku karena adanya jeda waktu yang cukup jauh antara perkiraan kematian korban hingga jasadnya ditemukan di parkiran Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.
Ruly Yunis Setiawati ditemukan tewas di dalam kendaraan dinasnya, mobil Toyota Innova warna hitam berpelat merah dengan nomor polisi M-1090-GP, di area parkir Terminal 1 (T1) Domestik Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, pada Rabu (24/6/2026) siang pukul 11.30 WIB.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, tidak menampik personelnya sempat menghadapi kendala dalam melacak pelaku yang menghabisi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjabat Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan itu.
Hal itu disebabkan oleh jarak waktu kematian dengan waktu penemuan jenazah korban yang terbilang cukup jauh.
Baca juga: Gedung SDN 3 Jedong Malang Terancam Longsor, Sekda Budiar Dorong Pembangunan Plengsengan Beton
Kendati begitu, Jumhur tetap optimistis personelnya dapat segera mengetahui keberadaan pelaku dan secepatnya melakukan penangkapan.
"Kalau yang ini kan memang diperlukan yang lama itu karena apa ini kan sudah beberapa satu hari lebih ya, kita di situ ya (situasinya)," ungkapnya saat dihubungi SURYAMALANG.COM, pada Kamis (9/6/2026).
"Iya kita dapat juga sih itu CCTV diduga pelaku yang sekarang ini karena dia sudah jauh (lokasinya) lebih dari satu hari," tambah Jumhur.
E diduga senantiasa memantau perkembangan terbaru mengenai penyelidikan kasus melalui berbagai platform informasi yang diakses via ponsel.
Terlepas dari semua kendala itu, Jumhur ingin mengedukasi masyarakat bahwa kecepatan pengungkapan sebuah kasus dipengaruhi oleh banyak aspek dan faktor penunjang.
Baca juga: 16 Hari Kematian Ruly Masih Buram: Keluarga Resah Polisi Minim Update, Erlan Punya KTP Dampit Malang
Jumhur mencontohkan segudang pengalamannya dalam menyelidiki kasus-kasus lain yang lebih sadis dan rumit, namun berhasil diungkap dalam waktu relatif cepat.
Salah satunya adalah kasus pembunuhan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2025 silam, yang dibunuh oleh kakak iparnya sendiri, oknum Polisi Bripka Agus M. Saleman, yang turut mengajak teman warga sipilnya, Suyitno.
Kasus tersebut terbilang cepat karena kurang dari 24 jam personelnya berhasil meringkus kedua pelaku.
Ada pula kasus pembunuhan wanita paruh baya di Pasuruan yang pelakunya ternyata keponakan sendiri.
Kasus itu terungkap cepat karena penyidik mendeteksi keanehan dari kesaksian keponakan korban yang masih berkeliaran di sekitar lokasi.
Namun, Jumhur menegaskan polisi akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyelidiki setiap kasus tindak pidana yang dilaporkan oleh masyarakat.
"Jadi banyak aspek dan faktor ya sebenarnya yang mempengaruhi kecepatan penyelidikan kasus," pungkasnya.
Sementara itu, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing mengatakan, pihaknya terus mengumpulkan informasi dan sejumlah bukti terkait dugaan pembunuhan ini guna mengejar pelaku.
Bahkan, petugas telah disebar ke berbagai lapangan untuk melacak keberadaan pelaku, meski sampai sekarang belum mendapatkan hasil yang diharapkan.
Christian tidak menampik beredarnya foto-foto korban bersama terduga pelaku di sejumlah media sosial diduga kuat menjadi penyebab sulitnya pencarian.
Baca juga: Pengacara Heran Pembunuh Ruly Belum Tertangkap Padahal Fotonya Viral di TikTok: Ini Tujuh Hari ya
Hal itu membuat pelaku sadar tengah diburu oleh polisi, sehingga memicu untuk semakin berhati-hati selama berada di tempat persembunyian.
"Hal itu juga menjadi persoalan. Namun, petugas masih terus melakukan pendalaman. Semoga dalam waktu dekat bisa terungkap semua," ujarnya saat memberikan keterangan di Mapolresta Sidoarjo, pada Kamis (9/7/2026).
Di lain sisi, Penasehat Hukum Keluarga Ruly, Risang Bima Wijaya, memberikan penjelasan mendalam mengenai sejumlah luka pada tubuh korban berdasarkan hasil autopsi jasad dari RS Pusdik Bhayangkara Porong.
Dari hasil pemeriksaan luar, ditemukan luka robek pada area cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul, pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir kelopak mata, serta kebiruan di selaput lendir bibir bagian atas maupun bawah yang lazim dijumpai pada kematian akibat mati lemas.
Sementara pada pemeriksaan dalam, ditemukan tanda merah kehitaman pada lidah, epiglotis, dan saluran napas utama. Temuan tersebut lazim terjadi pada jenazah yang dipastikan mati lemas karena asfiksia.
Berdasarkan pemeriksaan bagian dalam itu pula, Ruly diperkirakan sudah meninggal dunia lebih dari 2x24 jam atau hingga tiga hari sebelum ditemukan.
Di area dinding lambung teridentifikasi berwarna merah kehitaman dan telah ditemukan tanda pembusukan pada seluruh organ tubuh, serta hasil uji kosmalin tes pada otot tangan kanan tampak berwarna merah pucat.
"Dugaan kuat motif awal yakni menguasai harta korban, namun kenapa dibunuh? Apakah Ruly melawan atau teriak sehinga dibunuh agar tidak ketahun?" tutur Risang.
Baca juga: Kematian Tak Wajar Ruly ASN Bangkalan di Juanda, Keluarga Yakin Polisi Kantongi Identitas Pelaku
Risang melanjutkan, kepastian atas motif asli pelaku menghabisi nyawa Ruly baru akan terungkap secara benderang ketika pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Sidoarjo dan Jatanras Polda Jatim, berhasil menangkap Erlan.
"Apakah ini pembunuhan berencana atau pembunuhan yang dilakukan secara spontan? ada peristiwa apa sehingga Ruly harus dibunuh? apakah Ruly melawan atau teriak sehingga dibunuh agar tidak ketahun? aementara korban-korban yang lain tidak dibunuh," tegas Risang.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ini, Risang menyebutkan pihak keluarga almarhumah kini diselimuti oleh beragam spekulasi yang berkembang secara tidak jelas di kalangan masyarakat.
Namun untuk dugaan sementara, jasad Ruly sengaja dibuang di parkiran Bandara Juanda dan ponselnya dimatikan oleh pelaku guna menghilangkan jejak digital.
"Di situlah kenapa keluarga korban mendesak lekas terungkap, karena muncul beragam spekulasi yang tidak jelas dari masyarakat. Baik dan buruknya akan diterima keluarga, dan itu bisa jelas dengan tertangkapnya Erlan," pungkas Risang.