TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Ratusan peserta dari berbagai daerah di Bali, luar Bali khususnya Jakarta, hingga luar negeri berkumpul di Pondok Kembangsari, Kintamani, Bangli, Bali, untuk mengikuti kegiatan Meditasi Shambalq, Sabtu 11 Juli 2026.
Acara yang dipimpin langsung oleh guru spiritual kondang, Guruji Gede Prama ini telah berlangsung dari Jumat 10 Juli 2026 diawali dengan check in.
Humas Keluarga Compassion Guruji Gede Prama, Nyoman Ariana, mengungkapkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi.
"Sebanyak 100 orang tercatat mengikuti sesi kali ini. Karena keterbatasan kapasitas tempat, kami selalu menyarankan peserta untuk mendaftar lebih awal,”
Baca juga: Doa Mohon Perlindungan dalam Agama Hindu saat Sakit, Lengkap Mantra Om Tryambakam dan Artinya
“Mengingat ada peserta dari luar negeri, Guruji juga menyampaikan ajarannya secara bilingual (dua bahasa)," ujar Nyoman Ariana saat ditemui di lokasi acara.
Jadwal Padat Penuh Makna, Berbagi lewat Dongeng
Selama dua hari, Guruji Gede Prama dijadwalkan mengajar sebanyak tiga kali yang mengkombinasikan sesi meditasi dan dharma wacana.
Hari ini ada dua kali sesi dharma wacana, pagi dan malam hari.
Uniknya, pada sesi malam hari, Guruji menyampaikan materi meditasi, dilanjutkan dharma wacana melalui metode mendongeng yang menyentuh hati.
Sementara pada hari terakhir, besok pagi sekitar jam 10.00 WITA, sesi akan dilanjutkan dengan meditasi, dharma wacana, serta sesi wawancara khusus dengan Ngaji Roso.
"Kegiatan Meditasi Shambala ini rutin kami laksanakan setiap bulan ganjil. Untuk agenda berikutnya akan digelar pada bulan September mendatang," tambah Ariana.
Baca juga: Penyebab Kunjungan Wisatawan ke Bali Turun, Koster Sentil Kenaikan Tiket Pesawat
Menariknya, para peserta tidak dibebankan biaya sepeserpun untuk mengikuti kegiatan ini, melainkan hanya memberikan donasi seikhlasnya.
Bagi masyarakat yang ingin bergabung pada sesi berikutnya, pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi www.belkedamaian.org pada menu daftar meditasi, untuk selanjutnya dikonfirmasi oleh pihak panitia.
Pesan Mendalam Guruji: Transforming Life Waste into Flowers
Dalam paparan dharma wacananya, Guruji Gede Prama menekankan pentingnya seni "Mengubah Sampah Hidup Menjadi Bunga". Menurutnya, hal ini adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar untuk mencapainya.
Hal paling mendasar yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan rasa syukur.
Selain itu, Guruji juga menekankan agar setiap orang bisa memaafkan.
Guruji mengingatkan bahwa tanpa memaafkan, seseorang akan menjadi "neraka berjalan".
“Caranya adalah dengan mengurangi fokus pada kesalahan orang yang melukai, melainkan fokuslah pada luka jiwa di balik orang yang melukai tersebut. Di balik kemarahan, pasti ada luka jiwa," tutur Guruji.
Jika tidak memaafkan, manusia akan menggandakan karma buruk berulang kali dan terus bertemu dengan situasi atau orang yang sama. Memaafkan adalah cara memperkecil ego (diri yang palsu).
Guruji juga menambahkan dengan jenaka namun filosofis bahwa orang yang pemaaf ditunggu oleh masa tua yang indah, sedangkan mereka yang menyimpan dendam akan mudah keriput.
Baca juga: Capaian Sensus Ekonomi Denpasar Bali Rendah, Kepala BPS RI Minta Atensi Khusus
Selain itu, Guruji juga menjelaskan Kecerdasan Bunga.
Guruji memberikan perumpamaan menarik, bunga tidak hanya indah karena warnanya, tetapi ia sangat cerdas mengolah panasnya matahari menjadi warna-warni yang indah dan wangi.
"Penderitaan itu seperti matahari yang panas. Tugas kita adalah mengolahnya menjadi kesembuhan dan kedamaian. Rasa sakit bukanlah kegelapan, melainkan cahaya yang membimbing," tegas Guruji. Kuncinya adalah memilih untuk menempatkan rasa cinta kasih (kepada diri, Tuhan, dan keluarga) jauh lebih tinggi daripada rasa takut.
Harapan Peserta: Mencari Kedamaian Diri
Manfaat nyata dari meditasi dan mendengarkan dharma wacana dari Guruji Gede Prama ini dirasakan langsung oleh Gek Iim (47), salah satu peserta asal Karangasem yang sudah belasan tahun mengikuti ajaran Guruji. Ia mengaku sengaja hadir demi mendapatkan rasa damai dan meringankan beban hidup.
"Harapan saya semoga Guruji panjang umur, agar beliau bisa terus memberikan cahaya dharma dan membimbing kita semua untuk 'pulang' (kembali ke hakikat kedamaian)," harap Gek Iim tulus.
Hal senada juga diungkapkan seorang peserta dari Jakarta. Perempuan ini mengaku senang dengan Guruji yang sangat humble.
“Apalagi kegiatan ini tanpa ada patokan biaya, hanya donasi bahkan disediakan tempat menginap dan makan. Benar-benar pengabdian pada umat,” ungkapnya.
Pihak panitia pun berharap, melalui meditasi dua hari ini, seluruh peserta dan masyarakat luas yang mempraktikkan ajaran ini dapat memperoleh kesembuhan dari penyakit, meningkatkan kebahagiaan, serta menumbuhkan kedamaian mendalam di dalam diri mereka masing-masing. (*)