BAZNAS Majalengka Bertransformasi di Era Kepemimpinan Agus Asri Sabana
Siti Fatimah July 11, 2026 09:47 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Adim Mubaroq

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Di sebuah rumah sederhana, senyum seorang ibu tak mampu disembunyikan saat menerima bantuan modal usaha. Ada juga haru kareq dapat bantuan rutilahu. Di sudut lain Kabupaten Majalengka, seorang pelajar kembali bersekolah karena biaya pendidikannya terbantu. 

Sementara di desa lain, seorang marbot masjid menerima perhatian yang selama ini nyaris tak pernah ia rasakan.

Kisah-kisah seperti itu menjadi potret bagaimana zakat tidak hanya berhenti sebagai kewajiban ibadah, tetapi berubah menjadi harapan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Transformasi itulah yang terus diupayakan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Majalengka sejak dipimpin H. Agus Asri Sabana.

Hal ini, kata dia, atas arahan Bupati Majalengka Eman Suherman. 

Dalam kurun waktu sejak dilantik pada 1 Juli 2025 hingga 11 Juli 2026, BAZNAS Majalengka tidak hanya berfokus menghimpun zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang lebih profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada pemberdayaan.

Bagi Agus Asri Sabana, zakat bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Zakat adalah amanah yang harus dikelola dengan baik agar mampu mengubah kehidupan masyarakat. 

Karena itu, sejak hari pertama memimpin, ia bersama jajaran pimpinan dan seluruh amil mulai melakukan konsolidasi internal, memperkuat koordinasi dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ), meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperluas sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka, Kementerian Agama, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.

"Langkah ini menjadi fondasi penting dalam membangun BAZNAS yang semakin dipercaya masyarakat," kata Agus saat berbincang dengan Tribun, Sabtu (11/7/2026). 

Kepercayaan itu terlihat dari penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sepanjang tahun 2025 yang mencapai Rp23.061.225.394.

Dana tersebut kemudian dikelola dan disalurkan kepada masyarakat melalui berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan mustahik.

Namun, bagi Agus Asri Sabana, besarnya dana yang dihimpun bukanlah tujuan akhir.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan zakat benar-benar hadir sebagai solusi atas persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Salah satu perubahan yang terus didorong adalah mengubah paradigma penyaluran zakat. Jika dahulu zakat lebih banyak dipahami sebagai bantuan konsumtif, kini BAZNAS Majalengka mulai mengembangkan konsep pemberdayaan.

Bantuan yang diberikan diharapkan mampu menjadi modal agar penerima manfaat dapat mandiri secara ekonomi.

Konsep tersebut diwujudkan melalui Program Majalengka Makmur.

Dalam program ini, masyarakat memperoleh bantuan modal usaha, gerobak usaha, pembinaan UMKM, hingga dukungan terhadap petani dan pelaku usaha mikro. 

Harapannya sederhana, mustahik hari ini dapat menjadi muzaki pada masa depan.

Transformasi inilah yang menjadi salah satu ciri kepemimpinan Agus Asri Sabana.

Program untuk Semua Lapisan

Arah pembangunan BAZNAS Majalengka dituangkan dalam lima program unggulan.

Program Majalengka Peduli menjadi ujung tombak bantuan kemanusiaan. Program ini menyasar masyarakat yang terdampak bencana alam, kebakaran, rumah tidak layak huni, maupun warga miskin yang membutuhkan bantuan darurat.

Di bidang pendidikan, Majalengka Cerdas hadir membantu siswa dan mahasiswa kurang mampu melalui beasiswa, bantuan pendidikan, perlengkapan sekolah, hingga dukungan kepada pondok pesantren.

Pendidikan diyakini menjadi jalan paling efektif memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Sementara melalui Majalengka Sehat, BAZNAS memberikan bantuan biaya pengobatan, alat kesehatan, bantuan transportasi pasien, hingga berbagai layanan sosial di bidang kesehatan.

Program ini hadir untuk memastikan tidak ada masyarakat yang kehilangan kesempatan memperoleh layanan kesehatan hanya karena keterbatasan biaya.

Di bidang dakwah, Majalengka Taqwa memperkuat peran masjid, musala, guru ngaji, imam, marbot, dai, dan kegiatan keagamaan.

Program tersebut bukan hanya membantu kebutuhan operasional, tetapi juga memperkuat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Sinergi dengan Pemerintah Daerah

Perubahan yang dilakukan BAZNAS tidak mungkin berjalan sendiri. Karena itu, Agus Asri Sabana membangun komunikasi yang erat dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka.

Sinergi tersebut melahirkan berbagai langkah strategis dalam memperkuat tata kelola zakat, termasuk implementasi regulasi mengenai pembinaan dan pengawasan zakat, infak, dan sedekah.

Kolaborasi juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial bersama pemerintah daerah, mulai dari santunan masyarakat kurang mampu, bantuan bagi pegiat keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis zakat.

"Pak Bupati dan jajaran sangat mendukung kami. BAZNAS juga menjadi mitra pemerintah dalam mendukung program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," tuturnya. 

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah penyelenggaraan BAZNAS Majalengka Awards 2026.

Ajang ini menjadi bentuk penghargaan kepada para muzaki, Unit Pengumpul Zakat, instansi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, desa, hingga tokoh masyarakat yang selama ini aktif mendukung gerakan zakat.

Sebanyak 34 penerima penghargaan dalam 15 kategori menerima apresiasi atas kontribusinya. Penghargaan tersebut tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga diharapkan mampu membangun budaya berzakat dan memperluas partisipasi masyarakat.

Salah satu program yang banyak mendapat apresiasi adalah penyaluran bantuan kepada 1.372 pegiat keagamaan di Kabupaten Majalengka.

Melalui program ini, BAZNAS menyalurkan bantuan senilai Rp1,372 miliar kepada imam masjid, guru ngaji, marbot, penyuluh agama, dan pegiat keagamaan lainnya.

Menatap Masa Depan

Memasuki tahun kedua kepemimpinannya, Agus Asri Sabana menegaskan komitmen untuk terus melakukan pembenahan.

Digitalisasi layanan zakat, penguatan Unit Pengumpul Zakat, peningkatan transparansi, pengembangan program ekonomi produktif, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi agenda yang terus dikembangkan.

"Harapannya, zakat tidak lagi dipandang sekadar bantuan sesaat, tetapi menjadi instrumen pembangunan sosial yang mampu mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi umat, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses kesehatan, serta memperkokoh nilai-nilai keagamaan di Kabupaten Majalengka," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.