Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Dunia bawah laut Bengkulu menyimpan keindahan yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Arnold Willyarto, anggota Rafflesia Bengkulu Diving Center (RBDC) sekaligus mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu.
Dalam program podcast TribunBengkulu.com, Arnold mengatakan ketertarikannya terhadap dunia selam atau diving bermula sejak menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Kelautan.
Menurutnya, mahasiswa Ilmu Kelautan memang dibekali kemampuan berenang dan menyelam sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Awalnya tertarik sejak kuliah di Ilmu Kelautan. Kami memang diajarkan berenang dan menyelam. Rasanya berbeda ketika berada di bawah air, lebih tenang dan menantang karena kita belajar beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Arnold saat di studio TribunBengkulu.com, Sabtu (11/7/2026).
Arnold saat ini juga menjabat Ketua Umum Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Bengkulu periode 2025-2026.
Selain aktif di organisasi kampus, ia juga tergabung sebagai anggota RBDC yang bergerak di bidang pelatihan dan layanan penyelaman.
Menurut Arnold, selama lebih dari 14 tahun berdiri, RBDC telah menerbitkan lebih dari 1.000 sertifikat kompetensi penyelaman, mulai dari Open Water Diver, Advanced Diver, Rescue Diver, Master Diver, hingga Instructor.
Selain pelatihan, RBDC juga menyediakan layanan wisata selam, penyewaan peralatan selam, hingga servis perlengkapan diving.
Arnold menjelaskan masih banyak masyarakat yang menganggap diving dan snorkeling merupakan aktivitas yang sama.
Padahal, keduanya memiliki teknik dan perlengkapan yang berbeda.
Menurutnya, snorkeling hanya dilakukan di permukaan air menggunakan alat dasar selam berupa masker, snorkel, dan kaki katak (fins).
Sementara diving dilakukan di bawah permukaan air menggunakan perlengkapan scuba lengkap, termasuk tabung udara dan regulator sebagai alat bantu pernapasan.
“Perbedaan paling mencolok ada pada penggunaan tabung dan regulator. Saat diving kita bernapas menggunakan regulator yang terhubung ke tabung udara,” jelasnya.
Arnold menegaskan keselamatan menjadi hal utama dalam aktivitas menyelam.
Salah satu hal yang sering diabaikan penyelam pemula adalah waktu istirahat.
Ia menyarankan penyelam tidur cukup sebelum melakukan penyelaman.
Menurutnya, kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan saat berada di bawah air, termasuk gangguan pada telinga akibat perubahan tekanan.
Selain itu, penyelam juga harus selalu melakukan latihan keterampilan di kolam sebelum turun ke laut.
Latihan tersebut bertujuan meminimalkan risiko ketika berada di perairan terbuka.
“Kalau ada masalah di bawah air jangan panik. Dalam diving ada sistem buddy atau teman penyelam. Jadi jangan pernah menyelam sendirian,” katanya.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata selam di Bengkulu, Arnold merekomendasikan Pulau Tikus sebagai lokasi yang mudah dijangkau dari Kota Bengkulu.
Selain Pulau Tikus, Pulau Enggano, khususnya kawasan Teluk Pinoni, juga menjadi lokasi favorit karena memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.
Menurut Arnold, karakteristik perairan Bengkulu berbeda dengan daerah lain karena langsung berhadapan dengan Samudra Hindia sehingga memiliki arus yang lebih kuat.
Meski demikian, keindahan bawah laut Bengkulu tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Arnold mengaku prihatin dengan kondisi sebagian ekosistem laut Bengkulu yang mulai mengalami degradasi.
Menurutnya, kerusakan tersebut dipengaruhi abrasi pantai, aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, hingga perilaku wisatawan yang menginjak atau merusak terumbu karang.
Padahal, pertumbuhan terumbu karang berlangsung sangat lambat sehingga membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Karena itu, RBDC rutin melakukan kegiatan transplantasi karang dan pemantauan berkala terhadap karang yang telah ditanam.
“Setelah ditransplantasi, karang harus dibersihkan secara rutin dari alga agar tetap bisa tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Arnold juga meluruskan anggapan masyarakat yang menyebut terumbu karang sebagai tumbuhan.
Ia menjelaskan terumbu karang merupakan hewan yang hidup bersimbiosis dengan alga zooxanthellae sehingga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Arnold mengajak masyarakat, termasuk yang tidak memiliki kemampuan menyelam, tetap berkontribusi menjaga kelestarian laut.
Salah satunya melalui program adopsi atau donasi transplantasi terumbu karang yang dikelola komunitas.
Ia berharap generasi muda semakin peduli terhadap lingkungan laut agar keindahan bawah laut Bengkulu tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
“Jagalah laut kita agar anak cucu nanti masih bisa menikmati keindahan yang kita lihat hari ini. Jangan pernah menyelam sendirian, dan jadilah penyelam yang peduli terhadap kelestarian lingkungan,” tutup Arnold.