TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Tanggal 12 Juli 2026 menjadi penanda usia ke-59 bagi Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye.
Lahir di Ujung Pandang pada 12 Juli 1967, ia datang ke dunia pemerintahan bukan dari jalur birokrasi, melainkan membawa bekal panjang sebagai profesional di industri telekomunikasi nasional.
Puluhan tahun mengabdi di PT Telkom Indonesia membentuk karakter kepemimpinannya.
Ia terbiasa bekerja dengan target, mengelola perubahan, membangun sistem pelayanan, dan memimpin organisasi besar yang menjangkau jutaan pelanggan. Pengalaman itulah yang kemudian dibawanya ketika memimpin Kabupaten Takalar.
Karier Daeng Manye di Telkom bukanlah perjalanan singkat. Berbagai wilayah pernah dipimpinnya sebagai Kepala Telkom, mulai dari Tulungagung dan Trenggalek, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya Timur, hingga Jakarta Selatan. Ia juga dipercaya memimpin Telkom Jabodetabek dan Banten untuk unit Customer Service, menjadi Deputy Marketing Telkom Flexi, Kepala Telkom Indonesia Barat, Kepala Telkom Indonesia Timur, hingga menjabat Direktur Utama PT PINS Indonesia.
Rekam jejak tersebut menunjukkan satu benang merah, yakni membangun pelayanan yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Cara berpikir itu kemudian menjadi warna dalam kepemimpinannya di Takalar.
Dedikasinya selama berkarier mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada 2016, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menganugerahkan Satyalancana Pembangunan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya. Pada tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan The Role Model Culture Telkom 2016 karena dinilai berhasil membangun budaya perusahaan.
Baca juga: Daeng Manye Bertemu Nusron Wahid, Tegaskan Komitmen Lindungi Lahan Pertanian Lewat Penetapan LP2B
Di luar dunia profesional, Daeng Manye juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia menjadi pembina Yayasan Siada Abdul Hamid yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, memperlihatkan kepeduliannya terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Ketika dipercaya memimpin Takalar, pengalaman panjang itu mulai diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan yang menyentuh pelayanan publik. Salah satu langkah yang paling menonjol adalah lahirnya aplikasi Takalar One Click yang diluncurkan pada 21 Mei 2026.
Aplikasi tersebut bukan sekadar platform digital. Takalar One Click dirancang sebagai pintu masuk berbagai layanan pemerintahan dalam satu genggaman. Masyarakat tidak lagi harus berpindah dari satu layanan ke layanan lain, karena berbagai kebutuhan administrasi dan informasi mulai diintegrasikan melalui satu sistem yang lebih sederhana, cepat, dan efisien.
Digitalisasi pelayanan itu menjadi gambaran bagaimana pengalaman Daeng Manye di sektor telekomunikasi diterapkan dalam tata kelola pemerintahan. Teknologi tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai alat untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Perhatian terhadap pembangunan ekonomi desa juga menjadi bagian penting dalam masa kepemimpinannya. Di bawah arahannya, Kabupaten Takalar menjadi daerah pertama yang berhasil membentuk sekaligus menuntaskan legalitas 100 persen Koperasi Merah Putih melalui pengesahan AHU Kementerian Hukum dan HAM pada 2025.
Keberhasilan tersebut mencakup seluruh wilayah Takalar yang terdiri atas 86 desa dan 24 kelurahan. Langkah itu menjadi fondasi dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui kelembagaan koperasi yang memiliki kepastian hukum.
Di Desa Aeng Batu-Batu, semangat pemberdayaan masyarakat semakin terlihat melalui pengembangan potensi desa yang diarahkan menjadi contoh penguatan ekonomi berbasis lokal. Desa tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Di bidang pendidikan, Takalar juga mencatat capaian membanggakan. Kabupaten ini berhasil meraih peringkat pertama Indeks Pembangunan Manusia di Sulawesi Selatan pada 2025. Capaian tersebut mencerminkan perhatian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Perubahan juga tampak dari sisi wajah daerah. Gerbang batas Kabupaten Takalar yang menjulang sekitar 15 meter di kawasan Palleko, Kecamatan Polongbangkeng Utara, menjadi simbol baru bagi daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu pintu gerbang menuju kawasan pesisir selatan Sulawesi Selatan.
Gerbang tersebut bukan sekadar bangunan fisik. Kehadirannya menjadi identitas baru yang menyambut setiap orang yang memasuki Takalar, sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya.
Di sektor pariwisata, Daeng Manye terus mendorong pengembangan tujuh destinasi wisata unggulan. Komitmen itu kembali ditegaskan melalui penandatanganan komitmen bersama bersama organisasi perangkat daerah di kawasan wisata Paria Lau', Kecamatan Mappakasunggu, pada 10 Juli 2026.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya menjadi tanggung jawab satu dinas, tetapi merupakan gerakan bersama seluruh perangkat daerah untuk mengangkat potensi Takalar sebagai destinasi yang mampu bersaing.
Seluruh langkah itu memperlihatkan benang merah kepemimpinan Daeng Manye. Pengalaman panjang di dunia telekomunikasi diterjemahkan menjadi pelayanan publik berbasis digital, penguatan ekonomi desa, peningkatan kualitas pendidikan, pembangunan identitas daerah, hingga pengembangan sektor pariwisata.
Ketua Pemerhati Masalah HAM, Narkotika, Tindak Kriminal dan KKN (Pemantik), Rahman Suandi Daeng Guling, menilai latar belakang Daeng Manye sebagai profesional di perusahaan nasional memberikan warna berbeda dalam tata kelola pemerintahan di Takalar.
"Yang paling terlihat bukan sekadar banyaknya program yang diluncurkan, tetapi cara pemerintah mulai membangun sistem. Seorang yang lama memimpin perusahaan besar biasanya berpikir bagaimana pekerjaan tidak bergantung pada satu orang, melainkan pada sistem yang bisa terus berjalan. Pendekatan itu mulai terlihat di Takalar melalui digitalisasi layanan, penguatan desa, hingga upaya membangun dentitas daerah," kata Rahman.
Menurutnya, ukuran keberhasilan seorang kepala daerah tidak cukup dinilai dari proyek fisik atau banyaknya kegiatan seremonial, melainkan dari perubahan yang masih dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
"Kalau pelayanan semakin mudah diakses, desa semakin mandiri, dan orang mulai melihat Takalar sebagai daerah yang punya identitas dan tujuan pembangunan yang jelas, berarti fondasi itu sedang dibangun. Tantangannya tentu bagaimana konsistensi itu dijaga agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Di usia ke-59 tahun, perjalanan Daeng Manye menjadi potret seorang profesional yang membawa pengalaman nasional untuk diterapkan di kampung halamannya. Perjalanan itu masih terus berlangsung, seiring harapan agar Takalar semakin maju, berdaya saing, dan mampu menjawab tantangan pembangunan pada masa mendatang.(*)