Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 telah memperkuat posisi industri nasional di pasar Eurasia

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menghasilkan 13 Memorandum of Understanding (MoU) strategis dari INNOPROM 2026, Rusia yang memperkuat hilirisasi industri, membuka peluang investasi, mendorong alih teknologi, serta memperluas akses pasar manufaktur nasional ke kawasan Eurasia.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan selama 6-9 Juli 2026 penyelenggaraan pameran industri internasional tersebut, pihaknya memanfaatkan berbagai agenda, mulai dari bilateral meeting, business forum, business talk, hingga business matching untuk memperluas kerja sama industri.

“Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 telah memperkuat posisi industri nasional di pasar Eurasia. Hal ini terlihat dari tingginya antusias pelaku industri dari pasar Eurasia yang menginginkan kerja sama dengan industri nasional dan bahkan telah melakukan penandatanganan MoU sepanjang kehadiran kita di Rusia," ujarnya dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu.

Pencapaian tersebut menurutnya diwujudkan melalui delapan bilateral meeting dengan pemerintah Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, Azerbaijan, Tajikistan, Wilayah Chelyabinsk, Wilayah Kirov dan Wilayah Sverdlovsk.

Pertemuan tersebut menghasilkan berbagai komitmen kerja sama di bidang industri, perdagangan, investasi, hilirisasi, pengembangan kawasan industri, penguatan rantai pasok, alih teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia industri.

Komitmen itu kemudian diwujudkan melalui penandatanganan 13 MoU yang melibatkan pemerintah maupun pelaku industri dari Indonesia dan negara-negara mitra di kawasan Eurasia.

Ke-13 MoU tersebut mencakup kesepakatan antara Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, serta kerja sama dengan Kirgistan, Kazakhstan, Wilayah Chelyabinsk, Wilayah Kirov dan Wilayah Sverdlovsk.

Selain kerja sama antarpemerintah, sejumlah kesepakatan bisnis juga terjalin melalui skema business-to-business (B2B). Kerja sama tersebut melibatkan Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, dan Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) bersama United Industrial Corporation AK Bars.

Kesepakatan lain juga dilakukan melalui MoU antara PT Minang Jordanindo dan CHETRA LLC, serta nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of the Russian Federation (ACTPRF).

MoU tersebut menurutnya menjadi fondasi pengembangan kerja sama di sektor-sektor strategis, seperti industri manufaktur, rekayasa mesin, alat berat, otomotif, metalurgi, industri kimia, industri halal, pengolahan mineral, pengembangan kawasan industri, peningkatan kapasitas sumber daya manusia industri, serta penguatan investasi dan perdagangan.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy menyampaikan bahwa berbagai capaian selama INNOPROM 2026 menunjukkan besarnya minat mitra internasional untuk membangun kerja sama dengan Indonesia.

“Capaian yang diraih Indonesia selama INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa industri nasional semakin dipercaya dan berbagai kerja sama yang terbangun melalui ajang ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang investasi, perdagangan, dan kolaborasi industri yang memberikan nilai tambah bagi penguatan daya saing manufaktur Indonesia,” ujarnya.