Warga Ceritakan Evakuasi Balita Tenggelam di Kolong Simpang Perlang
Ardhina Trisila Sakti July 11, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Teriakan minta tolong memecah kesunyian Kolong PS di Simpang Jongkong, Kelurahan Simpang Perlang, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (10/7/2026) sore.

Di kolong bekas tambang yang selama ini menjadi tempat mandi warga itu, seorang balita perempuan berinisial K.S. (3) dilaporkan tenggelam saat bermain air bersama dua temannya.

Suara panik anak-anak dan ibu-ibu itu terdengar hingga ke sebuah saung sederhana tak jauh dari lokasi. Di tempat itulah Efendi (49) sedang beristirahat sambil menjaga kandang kambing miliknya.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju kolong. Sesampainya di lokasi, suasana sudah dipenuhi kepanikan. Ibu korban baru tiba di bibir kolong setelah mendapat kabar anaknya tenggelam

"Anak-anak itu teriak-teriak minta tolong. Saya dengar dari sini langsung lari. Sampai di pinggir kolong saya langsung terjun. Namanya juga mau nolong, siapa tahu masih bisa diselamatkan," kata Efendi kepada Bangkapos, Sabtu (11/7/2026).

"Ibunya sudah lemas. Dia sudah tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Mungkin karena tahu anaknya tenggelam," ujarnya.

Kolong bekas tambang timah yang berada di depan SLB Simpang Jongkong, Kelurahan Simpang Perlang, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (10/7/2026). Kolong bekas tambang timah seluas sekitar satu lapangan sepak bola ini menjadi lokasi tenggelamnya seorang bocah tiga tahun.
Kolong bekas tambang timah yang berada di depan SLB Simpang Jongkong, Kelurahan Simpang Perlang, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (10/7/2026). Kolong bekas tambang timah seluas sekitar satu lapangan sepak bola ini menjadi lokasi tenggelamnya seorang bocah tiga tahun. (Istimewa/ Polres Bangka Tengah)

Mendengar teriakan tersebut, warga sekitar berdatangan. Sedikitnya enam hingga tujuh orang bergantian menyelam mencari korban.

"Kami semua turun. Ada enam sampai tujuh pria dewasa yang menyelam. Yang lain membantu dari pinggir," ujarnya.

Namun pencarian tidak mudah.

Korban tidak terlihat mengapung di permukaan sehingga warga harus meraba dasar kolong yang keruh. "Anaknya tidak mengapung. Dia berada di dalam air, jadi memang susah dicari," katanya.

Efendi dan warga awalnya memperkirakan korban berada sekitar 10 hingga 30 meter dari bibir kolong.

Ia menjelaskan kondisi kolong cukup berbahaya. Dari pinggir memang terlihat dangkal dan landai sehingga banyak anak-anak merasa aman bermain. Namun semakin ke tengah, dasar kolong semakin menurun.

"Pinggirnya seperti pantai. Awalnya cuma sepinggang orang dewasa. Tapi makin ke depan semakin turun seharusnya landai tidak terlalu berbahaya," ujarnya.

Menurutnya, kedalaman kolong bisa mencapai belasan meter.

"Kalau di tengah itu dalam mungkin 11 meter. Anak umur tiga tahun tentu belum bisa berenang. Kemungkinan dia terdorong air ke depan sampai masuk ke bagian yang dalam," katanya.

Efendi sendiri mengaku berkali-kali menyelam selama kurang lebih 30 menit. Namun seluruh upaya warga belum membuahkan hasil.

"Kami menyelam berkali-kali, tapi belum ketemu juga," ujarnya.

Harapan baru muncul ketika ayah korban yang sedang bekerja di kebun sawit mendapat kabar musibah tersebut.

"Ayah korban langsung pulang dari kebun sawit bersama temannya. Begitu sampai mereka langsung turun membantu mencari," kata Efendi.

Salah seorang rekan ayah korban kemudian langsung menceburkan diri ke kolong.

"Dia turun dari mobil langsung menyelam. Tidak lama kemudian korban berhasil ditemukan. Paling selisih sekitar lima menit sejak mereka datang," ujarnya.

“Korban ditemukan dipinggiran kolong tapi sedikit kebagian depan kurang lebih 15 meter dari titik mereka mandi,” katanya.

Begitu tubuh korban diangkat ke daratan, warga langsung berusaha memberikan pertolongan pertama.

"Kami sempat berusaha mengeluarkan air dari tubuh korban. Posisinya kaki di atas, kepala di bawah. Tapi banyak yang bilang jangan lama-lama, langsung saja bawa ke rumah sakit," katanya.

Tanpa menunggu lebih lama, korban langsung dibawa menggunakan sepeda motor menuju RS Abu Hanifah Koba.

"Kami semua berharap masih bisa diselamatkan. Makanya langsung dibawa ke rumah sakit supaya cepat ditangani dokter," ujarnya.

Namun harapan itu pupus. Setelah menjalani pemeriksaan medis, korban dinyatakan meninggal dunia.

Sudah Lama Jadi Tempat Mandi

Efendi mengatakan kolong bekas tambang tersebut sudah terbentuk sekitar empat tahun lalu dan selama ini menjadi tempat aktivitas warga.

"Orang biasa mandi di situ, cuci motor, cuci mobil, ambil air. Dari dulu memang dipakai masyarakat," katanya.

Kolong tersebut memiliki luas sekitar satu lapangan sepak bola. Bibir kolong tampak landai dengan pasir putih dan beberapa papan kayu yang dijadikan pijakan warga untuk mandi maupun mencuci.

Lokasinya juga berada sangat dekat dengan permukiman. Rumah-rumah warga hanya berjarak sekitar 10 hingga 20 meter, sedangkan anak-anak cukup berjalan kaki sekitar lima menit untuk mencapai kolong tersebut.

Efendi mengaku musibah tenggelam di lokasi itu bukan yang pertama kali terjadi.

"Kalau yang saya tahu sudah beberapa kali ada yang tenggelam di sini. Yang terakhir ini anak umur tiga tahun," katanya.

Peristiwa itu membuat suasana kolong berubah drastis.

"Biasanya ramai anak-anak mandi setiap sore. Sekarang sudah sepi. Orang tua pasti trauma. Mereka tidak berani lagi membiarkan anak-anak mandi di sini," ujarnya.

Efendi mengaku mengenal keluarga korban karena rumah mereka tidak jauh dari lokasi kolong. Menurutnya, selama ini ibu korban dikenal sangat perhatian terhadap anak-anaknya.

"Biasanya saya sering lihat mereka bertiga lewat sini, ibunya, kakaknya, sama anak itu. Ibunya selalu dekat dan selalu mengawasi anaknya. Orangnya memang teliti menjaga anak. Mungkin kali ini memang sudah ajalnya," ujar Efendi.

(Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.