Satu Abad Gagasan Kartini, Dari Surat-surat Perjuangan Menuju Bahan Bakar Ekonomi Kreatif Masa Kini
Willem Jonata July 12, 2026 02:33 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lebih dari satu abad setelah gagasan-gagasannya dituangkan dalam surat-surat yang mengubah cara pandang tentang pendidikan dan kesetaraan, pemikiran R.A. Kartini dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan masa kini. 

Karena itu, upaya mengenalkan kembali warisan intelektual Kartini tidak cukup dilakukan melalui peringatan Hari Kartini, tetapi juga perlu menghadirkan ruang dialog yang mampu menghubungkan sejarah dengan kehidupan generasi sekarang.

Baca juga: Rayakan Hari Kartini, Puluhan Perempuan Berkebaya Cantik Motoran dari Bandung ke Rancabali

Atas dasar itu, Pemerintah Kabupaten Jepara memanfaatkan pemutaran dan diskusi Film Kartini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai medium untuk menghidupkan kembali gagasan-gagasan Kartini, sekaligus memperkuat posisi Jepara bukan hanya sebagai tempat kelahirannya, tetapi juga sebagai pusat lahirnya pemikiran yang terus memberi inspirasi bagi pendidikan, kebudayaan, pemberdayaan perempuan, hingga ekonomi kreatif.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangkaian pameran Tatah di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan Kartini tidak semestinya hanya dikenang melalui nama jalan, museum, atau peringatan setiap 21 April.

Menurutnya, warisan terbesar Kartini justru terletak pada keberanian berpikir, semangat belajar, dan keyakinannya bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

"Bagi masyarakat Jepara, Kartini adalah semangat untuk terus hidup, terus belajar, berpikir merdeka, dan membuka kesempatan bagi semua," ujarnya.

Ia menilai film menjadi salah satu cara paling efektif untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut kepada generasi muda.

Melalui pendekatan visual, masyarakat tidak hanya diajak mengenal perjalanan hidup Kartini, tetapi juga memahami bahwa perubahan sosial berawal dari keberanian mempertanyakan keadaan, membangun pengetahuan, dan membayangkan masa depan yang lebih baik.

Menurut Ibnu Hajar, semangat itulah yang hingga kini menjadi landasan pembangunan Jepara, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan kreativitas masyarakat, hingga pelestarian warisan budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Ia juga mengajak masyarakat berkunjung ke Jepara untuk menelusuri berbagai situs bersejarah yang berkaitan dengan kehidupan Kartini, termasuk tempat-tempat yang menjadi saksi lahirnya surat-surat yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Sementara itu, sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa film yang diputar dalam rangkaian pameran Tatah merupakan versi yang telah disunting ulang dan berbeda dari versi yang sebelumnya tayang di bioskop maupun platform digital.

Penyuntingan dilakukan agar alur cerita lebih dekat dengan fakta sejarah dan mampu menghadirkan pemahaman yang lebih utuh mengenai sosok Kartini.

Menurut Hanung, perjuangan Kartini tidak hanya berbicara mengenai emansipasi perempuan.

Di balik gagasan kesetaraan yang diperjuangkannya, terdapat visi tentang pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi.

"Yang menarik dari Kartini adalah perjuangannya bukan hanya melahirkan kesetaraan, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi bagi perempuan dan masyarakat di sekitarnya," katanya.

Ia menjelaskan, surat-surat Kartini memperlihatkan bagaimana tokoh asal Jepara tersebut mendorong perempuan untuk berkarya, mengembangkan keterampilan, dan menciptakan nilai ekonomi.

Gagasan itu, menurutnya, masih sangat relevan dengan upaya memperkuat ekonomi kreatif dan mendorong perempuan menjadi pelaku pembangunan.

Hanung menambahkan, film seharusnya menjadi pintu masuk untuk mempelajari sejarah lebih dalam, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.

"Film memberi rangsangan kepada penonton untuk kemudian mencari literatur, membaca buku, atau mempelajari sejarah lebih dalam. Karena itu, film, pameran, perpustakaan, dan ruang budaya seharusnya saling terintegrasi," ujarnya.

Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Jepara terus menjaga karakter daerah sebagai bumi Kartini dengan melestarikan kawasan bersejarah serta identitas budaya lokal.

Menurutnya, kekuatan sejarah tersebut merupakan modal penting bagi pembangunan sekaligus daya tarik budaya yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Direktur Tatah, Veronica Rompies berharap masyarakat semakin mengenal Kartini sebagai seorang pemikir besar yang melahirkan gagasan-gagasan progresif di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar simbol emansipasi perempuan.

Melalui kolaborasi antara film, pameran, dan diskusi publik, penyelenggara berharap lahir ruang pembelajaran yang mendorong masyarakat menggali lebih jauh pemikiran Kartini dan menerjemahkannya dalam konteks masa kini.

"Mulai dari penguatan literasi, pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, hingga pengembangan ekonomi kreatif yang berakar pada nilai-nilai lokal," kata Veronica.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.