Intelijen Israel Bocorkan Rencana Iran Bunuh Trump, Selat Hormuz Ditutup
Darwin Sijabat July 12, 2026 12:48 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Peta perdamaian di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja dirajut bulan lalu kini resmi robek dan hancur berantakan. 

Hubungan diplomasi antara AS dan Teheran memasuki fase eskalasi paling berbahaya setelah intelijen Israel membocorkan dokumen rahasia mengenai plot terselubung Teheran yang berniat menghabisi nyawa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Melansir laporan eksklusif sejumlah media terkemuka Amerika Serikat, termasuk Wall Street Journal, Minggu (12/7/2026), pemerintah Israel dikabarkan telah membagikan data intelijen super sensitif kepada Washington. 

Data tersebut berisi indikasi kuat dan rencana matang dari otoritas Iran untuk membunuh Donald Trump sebagai aksi balas dendam tertinggi.

Kabar kebocoran ini langsung membakar situasi politik di Teheran. 

Gelombang seruan untuk menghabisi para pemimpin Amerika Serikat memang terus menguat di dalam negeri Iran sejak tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara masif AS di awal perang.

Berdasarkan laporan Reuters, dalam rangkaian prosesi pemakaman raksasa Khamenei, jutaan pelayat tampak mengamuk dan membentangkan spanduk-spanduk berdarah bertuliskan "Kami Akan Membunuh Trump". 

Api kemarahan ini divalidasi langsung oleh putra mahkota sekaligus penerus takhta kepemimpinan spiritual Iran, Mojtaba Khamenei. 

Dalam kemunculan politik pertamanya pasca-serangan fatal 28 Februari yang merenggut nyawa ayah dan keluarganya, Mojtaba mendeklarasikan perang terbuka.

Baca juga: Trump Ancam Tembakkan 1.000 Rudal Jika Iran Nekat Coba Membunuhnya

Baca juga: Geng Motor Resahkan Jambi, Polres Batang Hari Terapkan Zero Tolerance

"Pembalasan inilah yang dituntut bangsa kita, dan ini pasti harus dilakukan," tegas Mojtaba Khamenei via saluran media pemerintah Iran.

Runtuhnya Pakta 60 Hari dan Kelumpuhan Selat Hormuz

Buntut dari intrik rencana pembunuhan Trump dan rentetan provokasi verbal ini, Iran langsung mengambil langkah militer ekstrem dengan menutup total Selat Hormuz. 

Penutupan sepihak ini dipicu oleh insiden penembakan peluru peringatan oleh militer Iran terhadap sebuah kapal dagang asing yang dituduh lancang menggunakan rute navigasi di luar restu otoritas Teheran.

Teheran berdalih pemblokiran total urat nadi energi dunia itu terpaksa dilakukan demi menjaga keamanan nasional serta menertibkan kedaulatan laut mereka. 

Imbasnya, pasar energi global langsung mengalami guncangan hebat; harga minyak mentah dunia meroket tajam dan ratusan kapal kargo internasional terpaksa memutar arah atau menunda pelayaran.

Padahal, beberapa pekan lalu, AS dan Iran sempat menyepakati perjanjian transisi krusial:

- Iran menjamin jalur aman bebas gangguan bagi kapal komersial selama 60 hari di Selat Hormuz.

Sebagai timbal balik, AS mencabut blokade laut serta melonggarkan sanksi ekspor minyak mentah Iran.

Namun, kesepakatan damai sementara itu kini telah kehilangan pijakan hukumnya. 

Iran secara ketat menegaskan bahwa jaminan keselamatan navigasi saat ini hanya berlaku eksklusif bagi kapal-kapal yang tunduk melewati rute utara di dalam wilayah teritorial Iran. 

Manuver nekat ini memicu alarm bahaya di panggung internasional karena berpotensi menyeret kekuatan militer global ke dalam perang terbuka yang jauh lebih destruktif.

Baca juga: Car Free Day Merangin Dimeriahkan Reog dan Kuda Lumping Gebyar Suro PKJM

Baca juga: Awal Mula Oknum Polisi Dilaporkan Istri ke Propam: Kepergok Bareng Pegawai Kejaksaan

Baca juga: 1.000 Lebih Warga Jambi Ikuti Gelaran Smartfren Fun Run di GOR Kota Baru

Baca juga: Geng Motor Resahkan Jambi, Polres Batang Hari Terapkan Zero Tolerance

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.