TRIBUNNEWS.COM - Lionel Messi memang gagal mencetak gol untuk pertama kalinya di Piala Dunia 2026 saat Argentina mengalahkan Swiss. Namun, La Pulga tetap menjadi pembeda lewat satu assist yang membuka jalan kemenangan Albiceleste menuju semifinal, Minggu (12/7/2026).
Messi menutup laga dengan 99 sentuhan, akurasi umpan 60 dari 69 percobaan, 11 umpan silang, enam peluang diciptakan, empat tembakan, delapan duel dimenangkan, serta satu assist. Itulah statistik sang kapten Argentina, Lionel Messi saat mengalahkan Swiss di Kansas City.
Umpan tendangan penjuru Messi berhasil dikonversikan menjadi gol oleh Alexis Mac Allister pada menit ke-10.
Gol tersebut membuka jalan Argentina menuju semifinal, meski Albiceleste harus berjuang hingga babak tambahan sebelum memastikan kemenangan.
Tapi prosesnya berjalan di luar rencana. Argentina harus melewati adangan Swiss melewati perpanjangan waktu sebelum akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Julian Alvarez dan Lautaro Martinez.
Satu assist yang dicetak dalam pertandingan ini menggenapkan jumlah assistnya di pertandingan Piala Dunia sejak debut pada tahun 2006.
Messi tidak pernah absen mencetak assist bagi rekannya, dan paling banyak terjadi pada tahun 2022 (3).
Di Piala Dunia 2026, La Pulga telah mengoleksi 2 assist, catatan itu bisa bertambah bahkan melewati capaian sebelumnya karena masih dua pertandingan yang tersisa jika bisa melangkah ke final.
Messi telah mencetak 10 assist di Piala Dunia.
Dia adalah pemain pertama yang menghasilkan assist dalam jumlah tersebut di Piala Dunia.
Berikut 10 assist Lionel Messi di Piala Dunia, menurut The Athletic:
Di sisi lain, Messi juga mencatatkan prestasi yang sama dengan Piala Dunia edisi sebelumnya di Qatar.
Saat berusia 35 tahun empat tahun yang lalu, Messi menghasilkan 7 gol dan 3 assist dalam 7 pertandingan Argentina yang berakhir juara.
Kini di usia 39 tahun Messi juga konsisten menghasilkan 10 kontribusi (8 gol, 2 assist) di ajang Piala Dunia.
Torehan tersebut semakin menegaskan konsistensi Messi di panggung Piala Dunia sepanjang enam edisi yang diikutinya.
Messi berada di masa terbaiknya saat berkompetisi di turnamen empat tahunan ini.
Peraih delapan penghargaan Balon d'Or seakan tak sirna meskipun usianya memasuki masa senja di kalangan pesepak bola profesional.
Capaian demi capaian terus dicatat olehnya. Bahkan dalam pertandingan menegangkan Argentina selama fase gugur yang mana lebih sulit dari yang diperkirakan, Lionel Messi masih mampu bermain penuh waktu dalam 2x120 menit.
Football Enthusiast asal Semarang, Gigih W pernah mengungkapkan tentang faktor usia Lionel Messi di awal turnamen.
Ia tidak terganjal oleh faktor tersebut, bahkan sebaliknya. Semakin tua Messi semakin efisien dan caranya menaklukkan lawan.
"Tidak tampak secara usia, Messi memang sudah berevolusi, tetapi prosesnya begitu lembut. Perannya masih sangat krusial di dalam tim. Dari segi apa pun, mau itu taktikal, ataupun mental," kata Gigih.
"Dia masih menjadi salah satu yang terbaik dalam hal sentuhan, kontrol, kemampuan dia membaca dan membuka ruang," sambungnya.
Hal itu juga pernah dibahas oleh Kolumnis BBC Sport dan jurnalis kenamaan asal Spanyol, Guillem Balague yang berpendapat bahwa banyak pemain yang belum melihat ruang atau apa yang bisa terjadi di fase berikutnya dalam permainan, Lionel Messi seakan tahu dan dapat melakukannya.
"Lionel Messi yang dulu dan sekarang sebagai veteran jelas mengalami perubahan dan perbedaan, dia tidak banyak berlari di lapangan, namun tetap melihat segala sesuatu lebih dulu," tulis Guillem Balague.
Tak hanya itu, belum lama ini Guillem Balague mempelajari sesuatu yang baru tentang Messi setelah berdiskusi dengan ahli gizi yang dekat dengan La Pulga, yakni Ismael Galancho.
Menurut Ismael Galancho, peningkatan kecepatan tersebut menunjukkan evolusi fisik Messi yang tidak lazim.
Saat sebagian besar pesepak bola mengalami penurunan setelah usia 30 tahun, La Pulga justru meningkatkan kecepatan puncaknya dari 29,38 km/jam di Piala Dunia 2022 menjadi 30,9 km/jam pada edisi 2026.
Peningkatannya lebih dari 5 persen.
Di usia yang bagi banyak pesepak bola telah memasuki akhir karier, Lionel Messi justru terus membuktikan bahwa kualitas tak selalu diukur dari kecepatan berlari atau jumlah gol.
Selama ia masih mampu membaca permainan lebih cepat dari siapa pun di lapangan, pengaruhnya bagi Argentina akan tetap sulit tergantikan.
Di babak semifinal Piala Dunia, Messi untuk pertama kali dalam kariernya akan menghadapi timnas Inggris.
Sebuah momen langka yang akan menandai perjalanannya menuju final dan mempertahankan gelar juara Argentina.
Ia akan memimpin Argentina menghadapi Inggris, lawan yang identik dengan kisah legendaris Diego Maradona pada Piala Dunia 1986. Empat dekade berselang, sejarah baru kini menanti untuk ditulis oleh sang penerus.
(Tribunnews.com/Sina)