Targetkan Turis Mancanegara, Pemprov Jabar Matangkan Standardisasi Wisata Ramah Muslim
Muhamad Syarif Abdussalam July 12, 2026 02:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, DEPOK - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menggulirkan ajang Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) Award 2026.

Langkah ini diambil guna memicu pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota serta para pelaku industri pelesiran agar seragam dalam mengimplementasikan standardisasi pelayanan pelesiran yang akomodatif bagi pelancong Muslim. 

Di saat yang sama, otoritas setempat juga meresmikan gerbang pusat data Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) wilayah Jawa Barat.

Untuk gelaran periode ini, panitia menyediakan delapan rumpun nominasi. Sektor yang dikompetisikan meliputi Wilayah Pariwisata Ramah Muslim Terbaik, Akomodasi Perhotelan Ramah Muslim Terbaik, serta Industri Kuliner Ramah Muslim Terbaik.

Selain itu, ada pula kategori Objek Wisata Alam Ramah Muslim Terbaik, Objek Wisata Warisan Budaya Ramah Muslim Terbaik, Objek Wisata Buatan Ramah Muslim Terbaik, Kawasan Desa Wisata Ramah Muslim Terbaik, hingga Pusat Perbelanjaan Ramah Muslim Terbaik.

KAWAH PUTIH - Animo masyarakat masih sangat antusias berkunjung ke Kawah Putih di Rancabali, Kabupaten Bandung.
KAWAH PUTIH - Animo masyarakat masih sangat antusias berkunjung ke Kawah Putih di Rancabali, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Adi Ramadhan Pratama)

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menyematkan asa agar rangkaian agenda tersebut dapat terlaksana tanpa hambatan, membuahkan capaian optimal, serta stimulan konkret bagi pertumbuhan ekosistem pelesiran ramah Muslim di Tanah Pasundan. 

Dirinya melempar pujian atas inisiasi SWJ-MFT Award 2026 sekaligus integrasi pangkalan data IPKN Jawa Barat tersebut.

"Pariwisata hari ini tidak bisa dikelola dengan cara yang lama, tapi harus dibangun dengan data yang kuat, kebijakan yang tepat, kolaborasi yang luas dan pendekatan yang inklusif," ucap Wagub dalam peluncuran SWJ-MFT Award 2026 di Masjid At-Thohir, Kota Depok, Kamis (9/7).

Dalam pandangan Erwan, terobosan eksekutif melalui kombinasi SWJ-MFT dan IPKN Jawa Barat tergolong sangat akurat sekaligus berwawasan ke depan.

Kedua instrumen tersebut dinilai saling mengisi, di mana aspek pertama membenahi mutu lingkungan wisata inklusif Muslim, sementara aspek kedua mengunci akuntabilitas tata kelola data kepariwisataan yang baku, tervalidasi, serta terpadu.

"Jabar memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, alam yang indah, budaya yang kaya, masyarakat yang ramah serta dukungan infrastruktur yang terus berkembang. Ini adalah modal besar yang harus dikelola dengan cerdas," paparnya.

Meski begitu, Erwan mengingatkan bahwa kelimpahan modal dasar saja tidak bakal memadai. Diperlukan sebuah mekanisme terstruktur yang mampu menakhodai seluruh keunggulan tersebut agar sektor hiburan dan pelesiran di Jawa Barat memiliki daya saing tinggi.

Wakil Gubernur menggarisbawahi, kehadiran wadah simpanan data IPKN Jawa Barat menjadi tonggak krusial. Sistem ini menjamin seluruh peta cetak pembangunan sektor pariwisata bertumpu pada fondasi informasi yang valid, presisi, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

"Dengan data yang baik kita bisa merencanakan dengan lebih tepat, mengendalikan program dengan lebih efektif, mengevaluasi capaian dengan lebih obyektif dan membuka peluang investasi yang lebih meyakinkan," jelas Wagub.

Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung dengan lantai basah sisa hujan dan latar belakang awan mendung. BMKG memprakirakaan hujan masih mengguyur Bandung 7-11 Juli 2025.
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung dengan lantai basah sisa hujan dan latar belakang awan mendung. BMKG memprakirakaan hujan masih mengguyur Bandung 7-11 Juli 2025. (tribunjabar.id / Muhamad Syarif Abdussalam)

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, membeberkan bahwa esensi utama SWJ-MFT Award adalah mendongkrak kualitas fasilitas penunjang di tiap-tiap titik destinasi agar sesuai dengan parameter ramah Muslim.

"Kegiatan ini bukan sekadar ajang penghargaan, namun momentum untuk meningkatkan standarisasi melalui pendampingan dan workshop pelatihan intensif terkait hospitality," kata Iendra.

Lembaga yang dipimpinnya pun dipastikan terus mematangkan berbagai formula kebaruan demi memperluas cakupan pariwisata halal ini. Bukan cuma itu, kemudahan akses transportasi dan infrastruktur menuju lokasi wisata terus dibenahi secara simultan.

Hingga kini, proses edukasi ke masyarakat luas telah digencarkan lewat saluran komunikasi massa serta kampanye digital di media sosial.

Di sisi lain, Pemprov Jabar bersama organisasi kepariwisataan bahu-membahu menyusun buklet panduan perjalanan serta paket wisata premium yang didesain khusus guna menjamin kenyamanan pelancong Muslim.

Akselerasi ini dinilai sangat mendesak lantaran fakta demografis menunjukkan 97 persen warga Jawa Barat merupakan pemeluk agama Islam.

Alasan penguat lainnya adalah tingginya arus kedatangan pelancong asing asal Malaysia, Singapura, hingga kawasan Timur Tengah yang rekam jejak perjalanannya sangat bergantung pada ketersediaan ekosistem ramah Muslim.

Tak hanya itu, infrastruktur transportasi (rest area) dan wisata religi berbasis ibadah (masjid berkonsep wisata) akan dikembangkan.

Nantinya Masjid At Thohir bakal ditetapkan sebagai salah satu daya tarik wisata religi di Provinsi Jawa Barat. Sebagai tambahan, rencananya akan dilakukan penataan khusus di Rest Area Km 88 yang memenuhi standarisasi wisata ramah Muslim, baik dari segi sarana prasarana maupun kuliner halal. Inovasi juga diterapkan dalam bentuk digitalisasi.

Ditempat yang sama Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi memberikan apresiasi kepada Pemprov Jabar atas peluncuran Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) Award 2026 dan portal data Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) Jawa Barat.

"Ini bisa menginspirasi daerah lain bagaimana destinasi yang baik khususnya bagi wisatawan muslim," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.