Makassar Jadi Panggung Kerajinan Nusantara, Tito Karnavian Dorong Daerah Genjot Ekspor
Ansar July 12, 2026 02:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tepuk tangan bergemuruh memenuhi atrium Trans Studio Mall (TSM) Makassar, saat Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, berdiri di podium menutup rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional, Minggu (12/7/2026).

Atrium pusat perbelanjaan itu dipadati ratusan tamu dari berbagai daerah di Indonesia.

Warna-warni tenun, songket, batik, hingga baju adat dari berbagai penjuru Nusantara menciptakan suasana yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia.

Di sisi lain atrium, deretan stan UMKM masih ramai dikunjungi. 

Sejumlah peserta memanfaatkan waktu terakhir sebelum penutupan untuk berbelanja kain tenun, tas anyaman, aksesori, hingga berbagai produk kriya yang dipamerkan selama empat hari pelaksanaan HUT Dekranas, (9-12/7/2026).

Dalam suasana yang hangat itu, Tito memilih berbicara bukan hanya mengenai suksesnya penyelenggaraan acara atau besarnya transaksi yang tercatat. 

Tito justru mengajak seluruh pengurus Dekranas melihat potensi yang jauh lebih besar.

Yakni kekayaan kerajinan Indonesia . Menurutnya belum tergarap maksimal.

Dengan penuh keyakinan, Tito menyampaikan satu kalimat yang langsung menjadi perhatian seluruh peserta.

"Indonesia is the most diverse handicraft in the world," tegas Tito.

Kalimat itu bukan sekadar pujian.

Menurut Tito, Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditandingi negara lain karena hampir setiap daerah mempunyai kerajinan khas yang lahir dari budaya, alam, dan tradisi yang berbeda.

Ia menjelaskan, negara lain mungkin unggul pada satu jenis produk tertentu.

Vietnam dikenal dengan keramik dan porselennya, India dengan perhiasan emasnya. 

Namun Indonesia memiliki ribuan jenis karya kriya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

"Yang paling beragam sedunia itu Indonesia. Karena kita negara plural. Setiap suku memiliki kekhasannya sendiri," ujarnya.

Tito mengatakan keberagaman itu lahir dari kondisi geografis Indonesia yang unik. 

Masyarakat pesisir menghasilkan kerajinan yang berbeda dengan masyarakat pegunungan. 

Begitu pula daerah kepulauan, pedalaman, hingga kawasan hutan yang memanfaatkan bahan baku lokal menjadi produk bernilai seni tinggi.

Menurutnya, justru kekayaan itulah yang menjadi modal besar Indonesia untuk bersaing di pasar dunia.

Meski demikian, Tito mengingatkan, Indonesia hingga kini belum masuk dalam jajaran 10 besar produsen kerajinan dunia. 

Padahal nilai perdagangan kerajinan global mencapai sekitar Rp500 triliun setiap tahun.

Saat menyampaikan sambutannya, Tito tidak hanya berbicara secara normatif. 

Di layar LED besar di belakang podium, ia menampilkan data 10 negara pengekspor kerajinan tangan terbesar di dunia tahun 2026. 

Slide itu menjadi dasar penjelasannya bahwa Indonesia memiliki kekayaan kriya luar biasa, tetapi belum masuk jajaran eksportir terbesar dunia.

Berdasarkan data yang ditampilkan, China masih menjadi eksportir kerajinan tangan terbesar dunia dengan nilai ekspor sekitar US$5 miliar. 

Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$3,6 miliar, disusul Vietnam US$3,5 miliar.

Negara lain dalam daftar tersebut yakni Filipina, Afrika Selatan, Pakistan, Meksiko, Sri Lanka, Ghana, dan Bangladesh.

Tito menjelaskan, negara-negara tersebut memiliki produk unggulan yang jelas. 

China mengandalkan tekstil, produk kayu, dekorasi rumah dan kerajinan kaca. 

India terkenal dengan tekstil, perhiasan, hingga produk kayu. 

Sementara Vietnam kuat pada anyaman bambu dan rotan, keramik, ukiran kayu, serta produk berbahan perak.

"Ini pekerjaan rumah kita. Potensinya besar, tetapi belum kita dorong secara maksimal," katanya.

Ia kemudian mengangkat kisah saat mengunjungi kawasan Misool, Raja Ampat. 

Di lokasi budidaya mutiara itu, Tito melihat cangkang mutiara hanya menjadi limbah setelah mutiaranya diambil.

Padahal, menurutnya, cangkang tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Bahkan material serupa digunakan sebagai komponen jam tangan mewah dunia.

Berangkat dari pengalaman itu, istrinya, Tri Suswati Tito kemudian menggagas pelatihan bagi para ibu rumah tangga untuk mengubah limbah cangkang menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual.

"Yang dianggap sampah ternyata bisa menjadi produk yang mahal kalau ada kreativitas," ujarnya.

Tito juga menyinggung kain tenun Nusantara yang usianya telah mencapai ratusan bahkan ribuan tahun.

 Menurutnya, banyak kolektor mancanegara datang langsung ke Indonesia untuk berburu tenun langka maupun ukiran Asmat karena nilainya yang tinggi.

Ironisnya, kata Tito, masyarakat Indonesia sendiri terkadang belum menyadari besarnya nilai karya tersebut.

Karena itu, ia meminta seluruh ketua Dekranasda di Indonesia aktif mencari, membina, dan mengembangkan kerajinan khas daerah masing-masing agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

"Saya minta seluruh daerah menghunting potensi kerajinan wilayahnya masing-masing dan mendorong supaya bisa berkembang," ujarnya.

Di akhir sambutannya, Tito menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, panitia, serta seluruh pengurus Dekranasda yang telah menyukseskan HUT ke-46 Dekranas. 

Ia meyakini penyelenggaraan di Makassar bukan hanya meninggalkan catatan sejarah, tetapi juga memperkuat semangat untuk membawa kerajinan Indonesia semakin dikenal di pasar dunia. 

Sementara itu, Ketua Panitia HUT ke-46 Dekranas, Sukarniaty Kondolele, melaporkan penyelenggaraan pameran selama empat hari mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

Pameran diikuti peserta dari provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia yang mengisi 203 stan.

Berbagai produk kerajinan unggulan dipamerkan.

Mulai dari wastra, kriya, hingga produk berbasis kearifan lokal yang mengangkat kekayaan budaya dan inovasi daerah.

"Jumlah pengunjung selama pameran hingga 11 Juli 2026 mencapai 180.000 orang, atau rata-rata 30.000 hingga 40.000 pengunjung per hari. Khusus pada pelaksanaan puncak HUT Dekranas ke-46, jumlah pengunjung bahkan menembus 80.000 orang," ujar Sukarniaty.

Ia mengungkapkan, total transaksi yang tercatat dari seluruh stan hingga 11 Juli mencapai Rp4.157.212.250.

Dari jumlah tersebut, transaksi pada stan peserta asal Sulawesi Selatan mencapai Rp1.012.340.400 atau sekitar 24,3 persen dari total transaksi.

Sukarniaty menambahkan, nilai transaksi diperkirakan terus bertambah hingga penutupan kegiatan dan mencapai sekitar Rp5 miliar.

Selain transaksi di area pameran utama, produk premium Sulawesi Selatan yang dipasarkan melalui Celeb Craft dan Malam Budaya juga mencatat penjualan sekitar Rp150 juta. 

Adapun transaksi pada pameran Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK yang digelar di Hotel Claro Makassar mencapai Rp551.754.000.

"Angka tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk kerajinan Nusantara sekaligus menjadi bukti bahwa penyelenggaraan HUT Dekranas mampu memberikan dampak ekonomi bagi para perajin dan pelaku UMKM," kata Sukarniaty (*)

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.