Oleh: Nurhadi Ihwani, M.A.
Lecturer and Social Analyst
Esai ini mencoba membaca kondisi sosiopolitik Indonesia melalui tiga lensa yang jarang dipertemukan: fisika (entropi termodinamika), teori komunikasi (entropi informasi), dan tasawuf (metafisika keteraturan Ilahi).
Ketiganya, secara mengejutkan, bertemu pada satu titik yang sama. Kekacauan bukanlah lawan dari keteraturan, melainkan tahap yang harus dilalui untuk menuju keteraturan yang baru.
Dalam fisika termodinamika, ada satu hukum yang tak pernah kompromi: Hukum Kedua Termodinamika. Ia menyatakan bahwa dalam sistem tertutup, entropi (ukuran kekacauan atau ketidakteraturan) akan selalu meningkat seiring waktu, kecuali ada energi dari luar yang masuk untuk menahannya.
Segelas air panas akan mendingin, ruangan yang rapi akan berantakan dengan sendirinya, bintang-bintang akan padam. Alam semesta, dibiarkan pada dirinya sendiri, bergerak menuju kekacauan maksimum. Ini bukan pesimisme, melainkan hukum alam yang dingin dan objektif.
Pertanyaannya: apakah kondisi sosio-politik kita hari ini juga tunduk pada hukum yang sama?
Ada godaan untuk membaca korupsi yang mengakar, konflik antarlembaga, dan kebisingan komunikasi publik di Indonesia sebagai kegagalan moral segelintir pejabat yang serakah, atau elite yang culas. Namun, ada cara membaca lain yang lebih struktural dari itu: bahwa banyaknya lembaga-lembaga yang menutup diri dari kritik, miskin transparansi, dan membangun tembok oligarkis di sekelilingnya, pada dasarnya telah mengubah sistem menjadi sistem yang tertutup.
Sistem tertutup, secara alamiah, akan bergerak menuju entropi maksimum. Korupsi, dalam kerangka ini, bukan anomali yang mengejutkan, melainkan konsekuensi hampir matematis dari sebuah sistem yang telah menyegel dirinya dari energi eksternal berupa pengawasan, kritik, dan akuntabilitas.
Claude Shannon, bapak teori informasi, meminjam istilah "entropi" untuk menjelaskan sesuatu yang berbeda namun beresonansi sama, yaitu ketidakpastian dalam sebuah pesan. Dalam model komunikasi Shannon-Weaver; semakin tinggi noise atau kebisingan dalam saluran komunikasi, maka akan semakin besar pula entropi dan semakin kabur makna yang sampai ke penerima.
Contoh nyatanya jelas. Deretan pernyataan blunder pejabat. Buzzer yang memproduksi narasi tandingan untuk setiap fakta. Ego sektoral antarlembaga penegak hukum yang, alih-alih menyelesaikan sengketa justru memilih membuka aib satu sama lain. Setiap aktor menambahkan sinyalnya sendiri ke kanal yang sama, dan yang terjadi bukan penjernihan informasi, melainkan akumulasi noise.
Hasilnya bisa diprediksi oleh teori informasi itu sendiri: ketika entropi kanal terlalu tinggi, penerima pesan, dalam hal ini publik, akan kehilangan kemampuan membedakan sinyal dari derau. Kebenaran menjadi relatif terhadap sumber mana yang paling nyaring, bukan yang paling valid. Yang muncul bukan pencerahan publik, melainkan kelelahan kognitif kolektif. Publik menjadi apatis bukan karena tidak peduli, tetapi karena kanal komunikasi publik telah kehilangan fungsi dasarnya sebagai pembawa makna.
Checks and balances yang seharusnya berfungsi sebagai "energi dari luar", yang menahan laju entropi institusional, justru melemah atau tidak berjalan efektif. Ketika mekanisme pengawasan silang tidak lagi menjadi jalan keluar yang sehat bagi tekanan kelembagaan, maka setiap institusi terjebak berputar dalam ruang tertutup ego sektoralnya masing-masing. Mereka bertabrakan bukan karena punya arah yang jelas untuk berbenturan, melainkan karena tidak ada ruang untuk melepaskan tekanan secara konstruktif.
Hal inilah yang membuat benturan antarlembaga terasa berulang dan tak kunjung selesai. Bukan karena persoalan personal semata, tetapi karena struktur pengawasan yang seharusnya menjadi katup pelepas tekanan telah aus dimakan waktu dan kepentingan.
Pada titik inilah tasawuf menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki fisika maupun teori informasi. Yaitu, makna. Fisika bisa menjelaskan "bagaimana" entropi bekerja. Teori informasi bisa menjelaskan "mengapa" pesan penuh noise dan kehilangan makna. Tetapi keduanya diam soal "untuk apa" semua kekacauan ini terjadi.
Tasawuf, dalam tradisi tafsir sufi, mengenal dua sifat Tuhan yang saling melengkapi: Jalal (keagungan, sifat yang menghancurkan, menundukkan, meruntuhkan) dan Jamal (keindahan, sifat yang menata, mempercantik, menyatukan). Keduanya bukan dua kekuatan yang berlawanan, melainkan dua wajah dari satu Kehendak yang sama, sebagaimana musim gugur dan musim semi adalah dua wajah dari satu siklus alam.
Dalam kerangka ini, entropi sosial dapat dibaca sebagai kerja sifat Jalal. Ketika sebuah institusi tumbuh menjadi berhala bagi dirinya sendiri, merasa tak tersentuh, merasa di atas hukum, mengidap semacam firaunisme kelembagaan, maka dalam banyak tradisi sufi, itulah saat Tuhan membiarkan sistem tersebut mengalami keruntuhannya sendiri dari dalam. Bukan lewat petir dari langit, melainkan lewat mekanisme yang sangat duniawi; seperti dokumen yang bocor, kasus yang terungkap, sekutu yang berbalik menjadi saksi, dan kebusukan yang saling menelanjangi.
Ada satu konsep sufi yang relevan di sini: fana menuju baqa. Kefanaan adalah jalan menuju keabadian yang lebih murni. Sebelum sesuatu yang baru dan lebih jernih bisa hadir, yang lama harus terlebih dulu larut.
Ada prinsip kosmologis kuno yang menyatakan bahwa sebelum kosmos (tatanan semesta yang teratur) bisa lahir, dibutuhkan kekacauan. Ini bukan hanya mitos Yunani kuno; ia juga logika yang sama yang bekerja di balik ledakan bintang yang mati untuk melahirkan unsur-unsur baru, atau hutan yang terbakar untuk kemudian menumbuhkan tunas yang lebih subur.
Kekacauan sosiopolitik yang tampak hari ini di Indonesia; korupsi yang terus terbongkar, institusi yang saling menelanjangi kebobrokan masing-masing, kebisingan informasi yang membuat publik lelah, bisa jadi bukanlah tanda keruntuhan tanpa arah, melainkan proses pembersihan yang, meski menyakitkan untuk disaksikan, namun sedang bergerak menuju sebuah ekuilibrium baru.
Tetapi meski demikian, keajaiban tak datang dari langit, ia sesuatu yang diperjuangkan. Sebagaimana entropi yang hanya bisa ditahan atau diarahkan oleh energi dari luar, keteraturan baru pun hanya lahir bila ada intervensi. Intervensi itu adalah kesadaran publik yang menolak diam, mekanisme pengawasan yang diperkuat kembali, keberanian untuk menjernihkan kanal komunikasi dari derau kepentingan.
Namun ada sebuah fakta filosofis tak terbantahkan di tengah semua ini. Bahwa kebusukan yang hari ini tersingkap ke hadapan publik dari balik narasi kekuasaan yang selama ini merasa diri gagah, adalah bukti betapa rapuh dan tak berdayanya sistem buatan manusia di hadapan hukum alam “Sunnatullah”, yang tidak pernah bisa dikelabui, disuap, dilobi, atau dinegosiasikan.
Setiap berhala institusional yang dibangun manusia, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan hukum yang sama dengan yang meruntuhkan bintang-bintang dan mendinginkan segelas air panas: bahwa tak ada yang tertutup selamanya dari keniscayaan untuk berubah.
Barangkali, di titik itulah kosmos baru mulai disusun. Bukan di ruang tanpa kekacauan, melainkan tepat di tengah kekacauan yang sedang bekerja membersihkan dirinya sendiri.