TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Hampir setiap hari, Azhar Djabur, memantau kondisi lingkungan RT 003 RW 009 Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulsel.
Ada kalanya ia mengingatkan warga agar memilah sampah dari rumah, mengajak kerja bakti, hingga berdiskusi dengan anak-anak yang berkumpul di lorong pada malam hari.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitasnya sejak dipercaya menjadi Ketua RT 003 RW 009 sekitar tujuh bulan lalu.
Sebelum menjabat secara definitif, Azhar lebih dulu ditunjuk sebagai pejabat sementara (PjS).
Menurutnya, menjadi ketua RT saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu.
Pengurus lingkungan dituntut lebih aktif karena banyak program pemerintah kota yang harus dijalankan bersama warga.
"Kalau sekarang kegiatannya jauh lebih banyak. Hampir setiap hari ada kegiatan. Jadi memang harus punya jiwa sosial," ujar Azhar kepada Tribun Timur, Minggu (12/7/2026).
Salah satu programnya adalah pemilahan sampah dari sumber.
Sejak beberapa waktu terakhir, ia rutin mengingatkan warga, baik melalui WhatsApp, maupun secara langsung, agar memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum diangkut petugas kebersihan.
"Kami juga bagikan gambar-gamar sosialisasi pemilahan," ucapnya.
Menurut Azhar, warga tidak harus menunggu memiliki tempat sampah khusus untuk melakukan pemilahan.
Dua kantong plastik sudah cukup untuk memisahkan sampah basah dan sampah kering.
"Saya bilang ke warga, yang penting dipisah dulu. Sampah basah satu kantong, sampah kering satu kantong. Tidak harus langsung beli tempat sampah," katanya.
Di wilayah RW 009 sendiri telah tersedia bank sampah untuk menampung sampah anorganik.
Sementara sampah organik diarahkan ke fasilitas Teba.
Meski sosialisasi terus dilakukan, Azhar mengakui mengubah kebiasaan masyarakat bukan perkara mudah.
Menurutnya, sebagian besar warga telah terbiasa membuang semua jenis sampah dalam satu kantong selama bertahun-tahun.
"Kebiasaannya itu yang paling susah diubah. Tapi sekarang saya lihat sudah mulai banyak yang menggantung dua kantong sampah di depan rumah," ujarnya.
Berdasarkan pengamatannya, sekitar 80 persen warga di RT 003 sudah mulai memilah sampah dari rumah.
Meski begitu kebiasaan ini masih perlu terus menerus didorong.
Selain kebersihan, Azhar juga menggerakkan warga menjaga keamanan lingkungan melalui ronda malam.
Setiap RT memiliki pos ronda masing-masing yang diaktifkan setiap hari dengan melibatkan warga secara bergiliran.
"Kalau di wilayah saya itu di rumah saya sendiri. Setiap malam bersama warga," ucapnya.
Di balik aktivitasnya sebagai pengurus lingkungan, Azhar memiliki latar belakang sebagai praktisi hukum.
Pria kelahiran Ujungpandang (Makassar), 18 Juni 1985 itu, menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada 2008, kemudian melanjutkan Magister Hukum di kampus yang sama dan lulus pada 2012.
Kariernya dimulai sebagai dosen tetap di Universitas Indonesia Timur (UIT) pada 2014 hingga 2018.
Hingga kini, ia masih menjadi dosen luar biasa di Fakultas Hukum UMI sesuai penugasan yang diberikan.
"Tergantung SK penugasan," ucapnya.
Selain mengajar, Azhar juga menjalankan profesi sebagai advokat di AAD Law Firm and Partners sejak 2023.
Ia juga memimpin perusahaan media Lentera Sulawesi yang telah dirintis sejak 2012.
"Saya juga seorang jurnalis," ucapnya.
Pengalaman di bidang hukum membuat Azhar dipercaya menjadi Ketua Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Kelurahan Kassi-Kassi.
Ia juga menjadi Ketua Shelter Perlindungan Perempuan dan Anak Kelurahan Kassi-Kassi, di bawah naungan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Makassar.
Menurutnya, persoalan yang paling sering ditangani adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Ia bercerita melakukan banyak pengawalan dan pendampingan setiap ada kasus perempuan dan anak di wilayahnya.
"Kalau kasus pelecehan seksual tidak bisa dimediasi sesuai undang-undang. Korban harus didampingi, diperiksa di UPTD, lalu diproses sesuai aturan hukum," katanya.
Azhar menilai langkah pencegahan tidak kalah penting dibandingkan penanganan perkara.
Karena itu, ia kerap menghampiri anak-anak dan remaja yang berkumpul di lingkungan untuk memberikan edukasi.
Ia menggunakan pendekatan dialog untuk menyampaikan dampak-dampak yang terjadi akibat pelanggaran hukum.
"Kalau saya lihat mereka berkumpul, saya datangi. Saya ingatkan supaya jangan ikut-ikut teman yang membawa busur atau melakukan hal-hal yang melanggar hukum," ujarnya.
Menurut Azhar tugas utama Ketua RT ada sosialisasi dan edukasi kepada warga.
Bagaimana menggerakkan dan menyukseskan program itu bersandar pada kedekatan dengan warga.
"Itu yang saya jalankan. Selama kita bisa membantu warga, InsyaAllah warga juga akan ikut kita jika ada kegiatan," ucapnya.(*)