Kemarau, Toraja Utara Krisis Air Bersih, Warga Diimbau Tak Buang Bangkai Babi di Sungai
Imam Wahyudi July 12, 2026 05:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, RANTEPAO – Musim kemarau mulai melanda Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Memicu penurunan debit sejumlah sungai yang menjadi sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Toraja Utara.

Kondisi ini berdampak pada pasokan air bersih kepada masyarakat.

Data per Oktober 2023, pelanggan PDAM Toraja Utara berjumlah 14.917 sambungan dengan pelanggan aktif 11.452 Sambungan Rumah (SR).

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan, puncak musim kemarau di wilayah Toraja Utara berlangsung pada Juli hingga September 2026. 

Direktur PDAM Toraja Utara, Moses Padsing Limbongan, mengatakan hampir seluruh sumber air baku yang menjadi andalan mengalami penurunan debit.

"Air baku sangat berkurang. Banyak masyarakat datang membeli air, tetapi stok kami habis. Produksi tidak mampu mengimbangi permintaan, apalagi bulan ini banyak kegiatan yang membutuhkan air," kata Moses melalui sambungan telepon, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, sumber air di Batu Kianak, Nanggala, Pangala, dan sejumlah titik lainnya mengalami penurunan debit yang cukup signifikan.

Dampaknya, tekanan air yang mengalir ke rumah pelanggan ikut melemah.

"Hampir semua unit pelayanan kami mengalami gangguan. Dari sekitar 15 unit pelayanan, hampir semuanya terdampak," ujarnya.

Wilayah layanan yang mengalami dampak cukup parah antara lain Sanggalangi, Labo, Bakti, Randan Batu, hingga sebagian Tombang Kalua.

Dalam tiga hari terakhir, keluhan pelanggan terus berdatangan.

"Ada masyarakat yang mengeluh air mengalir seperti kencing. Memang kondisi air baku di sungai sudah sangat sedikit," ungkapnya.

Selain debit yang terus menurun, kualitas air baku juga disebut semakin memburuk akibat pencemaran.

PDAM masih menemukan sampah, bangkai babi, serta limbah lainnya di sejumlah sungai yang menjadi sumber air baku.

"Air yang kami olah sebenarnya sudah tercemar. Walaupun diproses sesuai standar hingga layak diminum, tentu akan jauh lebih baik jika sungainya tidak tercemar," katanya.

Untuk mempertahankan pasokan air, PDAM melakukan langkah darurat dengan membendung aliran sungai menggunakan batu dan karung pasir agar debit air yang masuk ke instalasi pengolahan tetap mencukupi.

"Langkah kami hanya bersifat darurat, yakni membuat bendungan sementara di beberapa titik sungai. Untuk solusi jangka panjang kami belum bisa karena Toraja Utara belum memiliki embung atau bendungan penampung air," jelasnya.

Moses mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air selama musim kemarau serta tidak membuang sampah, bangkai hewan, maupun limbah peternakan ke sungai.

"Tolong jangan buang sampah, bangkai babi, bangkai ayam, maupun limbah kandang ke sungai. Air yang kita cemari itu juga yang kita minum. Mari bersama-sama menjaga sumber air agar kondisi ini tidak semakin parah," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Toraja Utara, Paulus Batti, mengatakan pihaknya belum menetapkan status atau mengeluarkan surat terkait bencana kekeringan.

"Belum ada. Mungkin nanti hari Senin kami akan membahasnya kembali," ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.