Kerugian Usaha Truk dan Bus Imbas Ketapang Macet, Biaya Kirim Membengkak Hingga Penumpang Anjlok
Luky Setiyawan July 12, 2026 05:56 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Pengusaha truk dan otobus mengaku merugi signifikan saat jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi macet. Kerugian berupa pembengkakan biaya kirim dan penurunan penumpang.

Ketum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan mengatakan, truk yang hendak menyebrang ke Bali harus mengantre antara 3 hingga 5 hari saat Ketapang macet.

"Sopir-sopir kami kasihan harus menunggu sekian lama. Operasional terganggu, logistik juga terhambat," kata Gemilang, usai mengikuti rapat pencarian solusi kemacetan jangka panjang di kantor ASDP Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (11/7/2026) petang.

Hitungan Aptrindo, kerugian materil akibat kemacetan juga cukup besar. Nilainya sekitar Rp 1 juta per truk per hari. 

Baca juga: Gelar Rapat untuk Cari Solusi Kemacatan Ketapang-Gilimanuk, Anggota DPR RI Desak 2 Hal

"Tinggal hitung saja berapa truk yang akan terhambat di Ketapang per harinya. Jadi, sangat merugikan kemacetan bagi kami," katanya.

Serupa disampaikan Ketua DPD Organda Jatim Firmansyah Mustafa dalam kesempatan yang sama. Kemacetan di jalur pelabuhan merugikan kendaraan angkutan penumpang, utamanya bus pariwisata.

"Banyak sekali bus pariwisata yang jadwalnya jadi kacau. Yang harusnya pagi masuk di Bali, sarapan di sana, akhirnya baru sampai pas makan malam," kata dia.

Ia menyebut, bus selama ini menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan yang hendak berwisata ke Bali. Banyaknya perusahaan otobus yang meningkatkan fasilitas layanan menjadi salah satu daya tarik.

Namun, kemacetan yang kerap terjadi selama setahun terakhir membuat banyak penumpang beralih moda transportasi. Mereka lebih memilih ke Bali naik kereta dan turun di Stasiun Ketapang.

Dari Stasiun Ketapang, wisatawan hanya perlu jalan kaki untuk menuju pelabuhan. Dengan demikian, mereka terhindar dari kemacatan.

"Ketika Ketapang macet, penumpang bus bisa turun hampir 40 persen," imbuh dia.

Ia mencontohkan, perusahaan bus miliknya yang kini rata-rata hanya beroperasi satu unit per hari untuk rute Surabaya-Bali.

Sebelum Ketapang sering dilanda macet, jumlah bus yang berangkat bisa mencapai 4 unit.

"Alasan penumpang, mereka enggak mau macet. Mereka naik kereta karena lebih yakin pasti lancar dan waktunya bisa ditentukan," lanjut dia.

Pihak Aptrindo dan Organda berharap, kemacetan berulang tak kembali terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang. Mereka menuntut adanya solusi jangka panjang dari pihak terkait.

(Aflahul Abidin/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.