- Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, menyoroti penggeledahan maraton di sejumlah lokasi yang dilakukan oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri bersama Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
IPW menilai, gerakan taktis melalui joint investigation ini merupakan langkah menggemparkan dan spektakuler untuk membongkar dugaan kejahatan besar yang melibatkan praktik mafia perkara serta tindak pidana korupsi kelas kakap.
Sorotan tajam IPW mengarah pada salah satu lokasi yang digeledah, yakni sebuah restoran bernuansa Prancis, Kafe de'Clan Signature di Cipete, Jakarta Selatan.
Restoran tersebut disinyalir berkaitan dengan pejabat tinggi di Kejaksaan Agung.
Dari lokasi tersebut dan sebuah money changer, tim gabungan Polri menyita barang bukti senilai total Rp 67,2 miliar dalam bentuk mata uang asing dan rupiah, yang diangkut menggunakan kendaraan taktis (rantis) Barracuda di bawah kawalan ketat Brimob bersenjata lengkap.
Sugeng mengaitkan rangkaian penggeledahan ini dengan perkara masa lalu di Polda Metro Jaya yang melibatkan sosok Feriyanto Hong Keriwang.
Berdasarkan data IPW, Feriyanto yang awalnya diperiksa terkait kasus pengosongan dokumen dan dugaan penyekapan anggota Densus 88 usai insiden penguntitan, kini diduga kuat berperan sebagai perantara atau broker pengurusan perkara di Kejaksaan Agung, khususnya pada kasus-kasus yang ditangani oleh Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).
"Diduga, terdapat aliran dana dalam jumlah besar dari praktik tersebut untuk mengamankan perkara-perkara pihak yang sedang diperiksa," ujar Sugeng Teguh Santoso, dalam siaran persnya yang diterima Tribunews.com, Rabu (8/7/2026).
Selain mafia perkara, kolaborasi Polri ini juga membidik kasus dugaan korupsi pasokan batu bara di PLN atau PLTU yang berpotensi merugikan negara hingga Rp 5 triliun.
IPW mengendus adanya keterkaitan antara perusahaan pemasok dengan oknum aparat penegak hukum di lingkungan Kejaksaan Agung.
Atas dasar itulah, IPW menilai joint committee ini secara konsisten mengarah pada target yang sama, yaitu oknum penyelenggara negara yang diduga menerima suap.
Di sisi lain, ada pengamanan luar biasa di kediaman pribadi Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, di kawasan Kramat Pela, Kebayoran Baru.
Pada Rabu (8/7/2026) malam, rumah megah bercat putih tersebut tampak dijaga ketat oleh personel TNI berseragam loreng lengkap dengan senjata laras panjang.
Area jalan di depan rumah bahkan disterilkan dari lalu lalang publik, meski hingga kini Kejaksaan Agung belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penjagaan ketat tersebut. (*)