Oleh: Ida Puspitarini Wahyuningtyas, M.Si., Ak.,CA., CFP
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
TRIBUNNEWS.COM - Mengajarkan anak tentang uang bukanlah sesuatu yang harus menunggu hingga mereka dewasa atau mulai memiliki penghasilan sendiri.
Justru pendidikan keuangan sebaiknya dimulai sejak dini, ketika anak mulai mengenal lingkungan sekitarnya.
Pada masa kanak-kanak, kebiasaan dan pola pikir mengenai uang mulai terbentuk melalui pengamatan terhadap orang tua, pengalaman sehari-hari, serta kebiasaan dalam keluarga.
Oleh karena itu, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membangun fondasi literasi keuangan anak. Hal ini bukan berarti akan membuat mereka tumbuh menjadi orang yang materialistik.
Melainkan agar anak lebih mindful dalam menggunakan uang sehingga kelak dewasa mereka akan semakin terampil dan terbiasa mengelola uang secara bijaksana.
Setiap tahapan usia memiliki kemampuan berpikir yang berbeda, sehingga cara mengajarkan konsep uang juga perlu disesuaikan.
Baca juga: BSI Scholarship Pelajar 2026 untuk Siswa SMA/SMK Sederajat, Beri Uang Saku Bulanan
Berikut adalah tahapan yang dapat menjadi panduan bagi orang tua.
Pada usia prasekolah, anak mulai mengenali benda-benda di sekitarnya, termasuk uang.
Meskipun mereka belum memahami nilai uang secara utuh, mereka sudah mampu membedakan bentuk, warna, dan fungsi uang sebagai alat untuk membeli sesuatu.
Pada tahap ini, orang tua dapat mengenalkan berbagai jenis uang, baik uang logam maupun uang kertas, serta menjelaskan bahwa uang diperoleh melalui kerja dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Anak juga dapat diajak bermain peran sebagai penjual dan pembeli agar mereka memahami fungsi uang dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, anak mulai dikenalkan pada konsep sederhana seperti memilih antara dua barang karena uang yang dimiliki terbatas.
Hal ini menjadi langkah awal agar anak memahami bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi sekaligus.
Pada tahap ini ajarkan anak agar mampu menunda keinginan. Terkadang karena tidak tega melihat anak menangis, kebanyakan orang tua akan menuruti permintaan anak.
Orang tua juga dapat mulai mengenalkan kebiasaan menabung melalui celengan yang menarik sehingga anak merasa senang menyisihkan uang yang diterimanya.
Berilah tiga celengan lucu bergambar karakter favoritnya bertuliskan sharing (sedekah), saving (menabung), dan spending (pengeluaran). Saat anak mendapatkan uang, ajak dia memasukkan uangnya ke dalam masing-masing celengan.
Yang terpenting pada usia ini bukanlah jumlah uang yang dimiliki anak, melainkan terbentuknya kebiasaan positif bahwa uang harus digunakan dengan bijaksana.
Memasuki usia sekolah dasar, kemampuan berpikir logis anak mulai berkembang.
Mereka sudah mampu menghitung, membandingkan harga, serta memahami hubungan antara usaha dan hasil.
Pada tahap ini, pendidikan keuangan dapat ditingkatkan dari sekadar mengenal uang menjadi belajar mengelolanya.
Orang tua dapat memberikan uang saku secara rutin dan tetap membimbing mereka untuk membaginya ke dalam tiga tujuan sharing, saving, spending.
Dengan cara ini, anak semakin terbiasa membuat prioritas dalam menggunakan uang.
Anak juga dapat diajak berdiskusi ketika berbelanja.
Orang tua dapat membandingkan harga beberapa produk, menjelaskan pentingnya memilih barang sesuai kebutuhan, serta mengenalkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebiasaan ini membantu anak menjadi konsumen yang lebih bijaksana sejak dini.
Pada usia ini, anak juga mulai memahami pentingnya menabung untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya membeli buku, mainan, atau perlengkapan sekolah yang diinginkan.
Pengalaman menabung hingga mencapai target akan melatih kesabaran, tanggung jawab, dan kemampuan merencanakan penggunaan uang.
Saat memasuki masa remaja awal, anak mulai memiliki kemampuan berpikir abstrak dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan.
Oleh karena itu, pendidikan keuangan dapat diarahkan pada pengambilan keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Pada tahap ini, orang tua dapat memberikan kepercayaan yang lebih besar dalam mengelola uang saku, misalnya untuk kebutuhan mingguan atau bulanan.
Anak diajak membuat anggaran sederhana, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta mengevaluasi apakah pengeluarannya sudah sesuai rencana.
Selain itu, anak perlu dikenalkan dengan konsep menabung di bank, keamanan menyimpan uang, serta pemanfaatan layanan keuangan digital secara bijak.
Orang tua juga dapat mulai menjelaskan risiko perilaku konsumtif, pengaruh iklan, tren media sosial, serta pentingnya berpikir sebelum membeli sesuatu.
Tidak kalah penting, anak usia 11–13 tahun tetap harus dikenalkan pada konsep berbagi melalui sedekah atau kegiatan sosial.
Dengan demikian, mereka memahami bahwa uang tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Pendidikan keuangan akan lebih efektif apabila orang tua menjadi contoh yang baik. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
Oleh karena itu, orang tua perlu menunjukkan kebiasaan seperti menyusun anggaran, menabung secara rutin, berbelanja sesuai kebutuhan, serta menghindari perilaku konsumtif. Karena anak adalah peng-copy ulung, children see, children do.
Melibatkan anak dalam aktivitas sederhana, seperti membuat daftar belanja, membandingkan harga, atau menetapkan target tabungan keluarga, akan memberikan pengalaman nyata yang memperkuat pemahaman mereka tentang pengelolaan keuangan.
Tidak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan anak tentang uang. Setiap tahap perkembangan memiliki tujuan pembelajaran yang berbeda.
Pada usia 3–5 tahun, anak dikenalkan pada fungsi dasar uang dan kebiasaan menabung. Pada usia 6–10 tahun, mereka belajar mengelola uang serta membedakan kebutuhan dan keinginan.
Sementara itu, pada usia 11–13 tahun, anak mulai dilatih membuat keputusan keuangan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan pendidikan keuangan yang diberikan secara bertahap dan konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengelola keuangan dengan bijaksana, memiliki kebiasaan menabung, tidak mudah terjebak perilaku konsumtif, serta siap menghadapi tantangan finansial di masa depan. (*)