TRIBUNBANTEN.COM - Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya tsunami di Selat Sunda.
Kekhawatiran tersebut mengingatkan publik pada bencana tsunami yang terjadi pada 2018 akibat longsoran tubuh gunung api tersebut.
Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hingga Minggu (12/7/2026) belum menemukan tanda-tanda yang mengarah pada terjadinya tsunami.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Lampung Utara, Litman, mengatakan seluruh instrumen pemantauan masih menunjukkan kondisi muka air laut berada dalam keadaan normal.
Baca juga: Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Siaga, BPBD Imbau Nelayan di Lebak Tak Melaut ke Selat Sunda
"Hingga saat ini BMKG belum mendeteksi adanya tsunami ataupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan," kata Litman, Minggu (12/7/2026).
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III (Siaga)
Meski belum ada indikasi tsunami, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Status Level III (Siaga) berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Menurut Litman, peningkatan aktivitas vulkanik memang terus dipantau secara intensif oleh BMKG bersama PVMBG melalui jaringan sensor kegempaan, deformasi tubuh gunung, serta alat pemantau muka air laut yang beroperasi selama 24 jam.
Seluruh data tersebut dianalisis secara terpadu untuk mendeteksi sedini mungkin apabila terjadi perubahan aktivitas yang berpotensi membahayakan masyarakat.
"Pemantauan kami dilakukan secara terus-menerus, baik terhadap aktivitas kegempaan, kondisi muka air laut, maupun perkembangan aktivitas vulkanik. Semua data dianalisis bersama dengan PVMBG agar setiap perubahan dapat segera diketahui," ujarnya.
BMKG Jelaskan Potensi Tsunami akibat Anak Krakatau
BMKG mengakui Gunung Anak Krakatau memiliki potensi memicu bahaya ikutan atau secondary hazard, salah satunya tsunami yang dapat terjadi apabila terjadi longsoran material vulkanik dalam jumlah besar ke laut.
Fenomena serupa pernah terjadi pada Desember 2018 ketika longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Namun, Litman menegaskan kondisi saat ini sangat berbeda karena belum ditemukan indikator yang mengarah pada kejadian serupa.
"Potensi itu tetap ada sehingga harus diwaspadai. Akan tetapi, hingga saat ini instrumen pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya perubahan muka air laut maupun indikator tsunami. Karena itu masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya," kata Litman.
Ia meminta masyarakat menjadikan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BPBD, maupun pemerintah sebagai rujukan utama dalam memperoleh perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, maupun instansi pemerintah yang berwenang," ucapnya.
Nelayan dan Wisatawan Diminta Tetap Patuhi Radius Aman
Selain mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu tsunami, BMKG juga meminta nelayan, wisatawan, dan pelaku jasa wisata mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan PVMBG.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau selama statusnya masih berada pada Level III (Siaga).
Warga yang bermukim di pesisir Selat Sunda juga diimbau memahami jalur evakuasi serta prosedur kesiapsiagaan apabila sewaktu-waktu pemerintah mengeluarkan peringatan resmi.
Litman menegaskan BMKG akan terus memperbarui informasi berdasarkan hasil pemantauan terbaru dan segera menyampaikan kepada masyarakat apabila terjadi perkembangan yang memerlukan peningkatan kewaspadaan.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Fluktuatif
Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Juni 2026 dan statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026.
Sejak saat itu, aktivitas erupsi terjadi berulang.
Dalam beberapa hari terakhir, gunung api di Selat Sunda tersebut tercatat mengalami sejumlah letusan dengan tinggi kolom abu bervariasi antara 100 hingga 400 meter di atas puncak.
Pada Jumat (10/7/2026), misalnya, Gunung Anak Krakatau mengalami lima kali erupsi dalam sehari, sedangkan hingga Minggu (12/7/2026) statusnya masih tetap Level III (Siaga).
PVMBG masih mempertahankan rekomendasi agar masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pendaki tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Hingga kini, pemantauan visual, kegempaan, deformasi tubuh gunung, serta kondisi muka air laut terus dilakukan secara terpadu oleh PVMBG dan BMKG untuk mengantisipasi setiap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau.