Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Daya tarik Asia Africa Festival turut berdampak kepada pelaku usaha di kawasan Jantung Kota Bandung, Braga.
Dari pantauan Tribunjabar.id, kawasan Braga Pendek tempat helatan AAF maupun Jalan Braga sesak dipenuhi pengunjung.
Parkir yang berada dibahu ruas jalan, panjang mengular, baik roda dua maupun roda empat.
Keramaian selama akhir pekan sekaligus masa libur sekolah itu juga membawa berkah bagi para pelaku usaha di kawasan tersebut.
Manager Operasional coffee shop di Jalan Braga, Anshari Azhar, mengatakan lonjakan pengunjung sudah terasa sejak pagi hari.
Padahal, kata dia, pada akhir pekan biasanya keramaian baru mulai terlihat menjelang malam, terutama Sabtu malam.
"Kalau weekend biasanya ramai dari malam hari, terutama malam Minggu. Tapi karena ada Asia Africa Festival, dari pagi sudah ramai," ujar Anshari, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, banyak pengunjung yang singgah ke tempatnya setelah berjalan-jalan di kawasan Braga maupun usai menikmati rangkaian acara festival di Jalan Asia Afrika.
"Mungkin mereka habis jalan-jalan dari Braga Pendek lanjut ke sini buat makan atau sekadar istirahat. Di sini kami menjual makanan dan camilan yang cukup lengkap," katanya.
Anshari menuturkan, sebagian besar pelanggan datang bersama keluarga.
Tak sedikit pula wisatawan yang berasal dari luar Kota Bandung.
Dia menjelaskan, dibandingkan akhir pekan biasa, omzet usahanya meningkat sekitar 45 persen.
Meski begitu, ia memperkirakan angka tersebut masih bisa bertambah karena operasional kafe berlangsung hingga tengah malam.
"Kenaikannya dibanding weekend biasanya sekitar 45 persen. Belum tahu untuk hari ini karena kami buka sampai malam. Apalagi ini masih libur sekolah terakhir, jadi masih ramai," ucapnya.
Dia menyebut, setiap penyelenggaraan Asia Africa Festival selalu membawa dampak positif bagi usaha di kawasan Braga.
Karena itu, pihaknya menyiapkan stok bahan makanan lebih banyak agar seluruh menu tetap tersedia.
"Kami juga harus memastikan stok bahan makanan selalu tersedia supaya tidak kehabisan," katanya.
Anshari berharap, geliat wisatawan yang datang ke Bandung tak hanya meningkat saat event tertentu saja.
"Harapannya daya beli masyarakat terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi juga terus berjalan. Jadi tidak hanya ramai saat ada event tertentu, tetapi setiap hari atau minimal setiap akhir pekan," ucapnya.
Sementara itu Antoni, penjual tokoyaki yang membuka stan di AAF, mengaku telah mengikuti AAF hampir setiap tahun dan selalu merasakan dampak positif terhadap penjualan.
Antoni menjual tokoyaki seharga Rp30 ribu per porsi berisi 10 buah, sedangkan okonomiyaki dibanderol Rp35 ribu.
"Tahun ini kenaikannya hampir 50 persen dibanding tahun kemarin. Bahkan, waktu hari Sabtu sempat habis stok bahan, akhirnya hari ini dikirim lebih banyak," ujarnya.
Menurut Antoni, peningkatan penjualan tersebut sudah sesuai dengan ekspektasinya karena Asia Africa Festival selalu menjadi magnet bagi warga Bandung maupun wisatawan luar daerah.
Dia menyebut, makanan khas Jepang memang diganrungi pembeli. Selain, kudapan tersebut bukan hal baru. Rasanya memang disesuaikan dengan lidah lokal. (*)