TRIBUNMANADO.CO.ID - Dodol menjadi kudapan khas dari tanah Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Dodol sering didapati saat momen hari pengucapan syukur.
Seperti tahun ini, hari pengucapan syukur di wilayah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), jatuh pada Minggu, 12 Juli 2026.
Perayaan Hari Pengucapan Syukur di tanah Minahasa adalah satu tradisi ucapan syukur atas berkat, hasil panen, dan perlindungan Tuhan sepanjang tahun berjalan.
Baca juga: Jangan Kalap saat Pengucapan Syukur Minsel, Waspadai 10 Penyakit Ini Pasca Pengucapan
Masyarakat Minsel, khususnya yang akan merayakan hari syukur ini akan menyediakan jamuan jasmani dan ole-ole bagi para tamu yang datang berkunjung.
Bermacam menu santapan disediakan.
Seperti makanan khas Minahasa, nasi jah, dodol, kue waji dan berbagai menu lauk nabati dan hewani.
Lauk olahan daging babi, ayam, tikus, ular hingga makanan ekstrem lainnya bakal disuguhkan buat para tamu.
Berfokus pada kue dodol, kue ini terbuat dari beras pulo yang digiling hingga halus seperti tepung.
Nantinya bahan-bahan tersebut dicampurkan dengan santan kelapa dan gula aren (gula batu) hingga jadi adonan yang siap dimasak di wajan berukuran besar (balanga goreng).
Cara olah dodol memakan waktu berjam-jam.
Bagi pembuat harus punya tenaga ekstra.
David Runtuwarouw, salah satu pembuat dodol di Kapoya, Minsel, menyebut, waktu pengolahan dodol bisa sampai 2-3 jam.
“Santan dimasak hingga mendidih kemudian dicampurkan adonan lainnya,” ucap David.
Setelah itu, digoyang-goyang adonan menggunakan kayu yang sudah dibuat khusus sebagai penggoyang adonan.
Cara ini gunanya untuk membuat adonan masak merata dengan tekstur kentalnya.
Selama 2-3 jam, pembuat harus mengaduk-aduk hingga masak.
Kata David, dirinya sudah mulai mengolah dodol sejak muda. Saat ini usianya sudah 57 tahun.
Kata pria beranak dua ini, suka-duka membuat kue dodol, ada.
Seringkali hasil olahannya tidak sesuai harapan. Bahan atau bumbunya kurang.
Kemudian di tahap pembungkusan.
“Sudah masak, tapi mau dibungkus lagi dengan daun woka,” kata David.
Proses pembungkusan bisa memakan waktu semalaman bila dodol yang dibuat dalam jumlah banyak.
Sukanya kalau sudah masak ada yang mencicipi dan hasilnya terasa enak.
Regenerasi membuat dodol berlanjut.
Para anak muda juga dilatih untuk membuat dodol.
Tahap per tahap pengolahannya diajarkan.
Ando, salah satu anak muda yang sudah pernah membuat dodol menceritakan pengalamannya.
Ia diajarkan mengolah dodol dari keluarganya.
Kata dia, memasak dodol melewati beberapa tahap.
Mulai dari penyediaan adonan hingga proses masak.
Pengalamannya tentu punya suka-duka.
Ungkap dia, saat momen menggoyang adonan menjadi tahap yang menantang.
Namun, semua terbayar dengan rasa suka dan bahagia karena dapat merasakan momen kebersamaan.
“Di desa atau kampung halaman, ada makan khas yang selalu disajikan, yaitu dodol dan nasi jaha, ada suka dan duka yang dilalui. Nasi jah mulai dibakar, dodol mulai digoyang, aroma kebersamaan dan rasa syukur perlahan memenuhi sudut desa atau kampung,” ucap dia. (Fra)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini